Selasa, 05 Maret 2013
AKB48 Takahashi Minami menyatakan kemungkinan dirinya menjadi anggota House of Representatives (Parlementer di Jepang)
Dalam sebuah wawancara di salah satu program TV, member AKB48 Takahashi Minami menyatakan ketertarikannya untuk menjadi anggota parlementer di Jepang. Dalam interview bertema, “House of Election 4 Years later”, ia berkata
“Saya tertarik akan hal itu. Saya pikir akan sangat menarik jika kelak saya bisa ikut (dalam karir politik Jepang)”
Ia mulai tertarik akan dunia politik setelah jurnalis politik, Mr. Tahara Soichiro, yang juga meng-oshikan Takamina, memberitahunya,
“Lebih baik (Takamina) mulai belajar tentang Pemilu untuk pemilihan politik 4 tahun lagi.”
Orang yang pertama kali menyarankan Takahashi Minami menuju politik adalah Akimoto Yasushi. General Producer dari AKB48 ini menyatakan bahwa, “Dia lebih cocok jadi politikus daripada idol.”
Mr. Tahara Souichiro pastinya mendengar pernyataan tersebut, karena mereka berdua memang dekat satu sama lain selama bertahun-tahun. Dan inilah titik baliknya. Setelah itu, ia mulai sering mengunjungi teater AKB48 dan mengikuti jejak Idol Group tersebut semenjak itu.
Dalam acara TV show “Dare datte Haran Bakusyou” pada 3 Maret 2013 lalu, Mr. Tahara yang menjadi tamu acara tersebut memperlihatkan VTR interviewnya dengan Takahashi Minami. Dalam video tersebut, setelah memberitahu bahwa oshimennya adalah Takamina, Takahashi Minami berkata dengan sorot mata yang berkilauan,
“Saya sangat senang dan terkejut saat tahu bahwa orang seperti dia mengenal saya.”
Takamina sering bertemu dengan Mr. Tahara, dan ia juga berkata bahwa cara Mr. Tahara memuji caranya berbicara (berpidato di atas panggung/teater) memberinya kepercayaan diri lebih. Dia berbicara tentang banyak hal setiap kali bertemu dengan Takamina, “Namun pada akhirnya, dia menyimpulkan bahwa ‘Takahashi cocok menjadi seorang politikus’,” ungkap Takamina.
Takara mendesak Takamina untuk mencari posisi politis Jepang di masa depan, dengan argument, “Demi generasi masa depan Jepang yang ada saat ini, akan lebih baik jika para politikus yang ada saat ini digantikan oleh dirimu.”
Walau Takahashi awalnya menganggap dirinya bercanda, ketika Tahara mengungkapkannya dengan sangat serius, “Lebih baik kau mulai belajar politik 4 tahun lagi, ketika mayarakat Jepang akan mengadakan pemilihan parlementer,” Takamina menyadari bahwa orang tua berusia 78 tahun itu sangat serius akan hal ini.
Kemungkinan karena pengaruh dari Tahara, ketika ditanya oleh para staff jika ada kesempatan dirinya menjadi politikus, Takahashi menjawab,
“Memang benar saya tertarik dengan dunia politik, dan sejak Mr.Tahara berbicara seperti itu, kau tahu, saya tak bisa bilang bahwa saya tidak tertarik sama sekali.”
Lebih jauh lagi, “Jujur saja, saya jadi berpikir… ‘Kenapa tidak?’. Saya pikir akan sangat hebat jika suatu hari, saya bisa mendedikasikan diri di pekerjaan semacam itu,” lanjutnya.
Takamina juga mengungkapkan bahwa Mr. Tahara berkata jika dirinya menjadi politiku, dia akan menjadi kepala tim suksesnya. Dan Takamina mengirim balasan terhadap pernyataan tersebut di VTR itu, dengan berkata, “Jika memang akan terjadi, pada saat itu saya mohon kerja samanya.”
Mungkin alasan mengapa Mr.Tahara Soichiro sangat mendukung Takahashi Minami menjadi politikus, sebagian karena pernyataan Akimoto Yasushi sebelumnya.
Namun, dia sudah sejak lama mengikuti Takahashi Minami sebagai leader AKB48, dan dari observasinya, dia mengambil sebuah kesimpulan,
“Kepemimpinannya sangat luar biasa! Suaranya pada saat pembukaan konser AKB48 In Tokyo Dome sangat hebat, dan setelah dia kalah di turnamen Janken, dia segera mengubah pola pikirnya dan kembali fokus memimpin acara tersebut.”
Jepang adalah salah satu negara yang politikus-politikusnya dulunya memiliki karakteristik TV (komedian, aktor, aktris, dan bahkan idol), namun jika Takahashi Minami akan mengikuti pemilu, hal tersebut akan menarik perhatian dan ekspektasi dari publik terbesar sepanjang sejarah, dimana sudah menjadi kebiasaan di dunia politik Jepang bahwa pekerjaan sebelum menjadi anggota DPR/politikus menjadi salah satu faktor andalan terbesar mereka mengamankan posisi/kursinya di parlemen negara.
Sumber asli: Livedoor / akb48wrapup.com
Selasa, 30 Juni 2009
Referensi Pilpres 2009 – 2: The Battle of Character
Dunia sudah berubah dan benar-benar menjadi horisontal, sehingga untuk menjadi orang nomor satu, entah presiden atau perdana menteri, pendekatan ‘battle of brand’ sudah menjadi kuno! Para kandidat pemimpin negara sudah saatnya harus masuk dalam suatu era ‘battle of character’. Jurnalis dan penulis buku Glenn Smith pernah berkata:
“Advertising and Marketing gurus hve so successfully established the importance of ‘brand’; that we in the political sphere often lose sight of the real core of political argument: character. The distinction is not trivial. Brand is about a list of facts or attributes. It’s character (that) people use in sizing up strangers, checking in on friends, weighing the merit of a politician.”
Pendeknya, brand is nothing without character! Kalau mau membangun brand gampang sekali, pasang saja nama kita di koran beroplah besar dan jangkauan luas, maka brand kita akan menuai ‘instant awareness’. Sekalian saja dibumbui gagasan ‘penuh bunga’ dan statement ‘kecap nomor wahid’. Dijamin deh, akan cepat naik, dan cepat juga dilupakan. Di sisi lain, membangun karakter tidak bisa seperti karbitan belaka. Karena karakter adalah intangible asset krusial (atau bahkan paling krusial) bagi politisi yang pembetukannya melalui proses akumulasi.
Bagaimana karakter para capres kita?
SBY sebagai incumbent menunjukkan karakter yang tenang, tidak buru-buru, semua harus dipikir secara matang dan hati-hati.
JK menunjukkan karakter tipikal sebagai entrepreneur sejati yang maunya adalah get things done as soon as possible yang tercermin dari tagline kampanyenya ‘lebih cepat, lebih baik’.
Mega mencoba mengusung karakter kerakyatan yang dulu pernah menjadi citra partai PDI-P sebagai partainya wong cilik.
Coba kita perhatikan dan analisa lebih mendalam:
Pertama, apakah karakter yang ditunjukkan para capres memang valueable atau berarti pada kita?
Kedua, apa benar karakter yang diusung oleh setiap capres merupakan karakter yang otentiknya yang tidak dibuat-buat semata-mata untuk memenangkan pemilu mendatang?
Ketiga, apakah para capres tersebut didampingi oleh cawapres yang sejalan karakternya?
Keempat, seandainya karakter para cawapres tersebut memang sejalan dengan para capres pasangannya, apakah karakter para cawapres tersebut adalah memang karakter otentik yang memang merupakan DNA-nya?
Semakin banyak jawaban ya yang kita berikan, maka mungkin itulah capres yang akan kita pilih dengan asas ceteris paribus.
INGAT! BUKANLAH SEBERAPA HEBAT SEORANG KANDIDAT BISA MENYERANG ATAU MENJELEK-JELEKKAN PESAINGNYA, NAMUN LEBIH PADA REPUTASI NYATA DARI KANDIDAT ITU SENDIRI.
Artikel terkait di www.markplusclub.com
Referensi Pilpres 2009 – 1: Six Pillar of Characters
Baru-baru ini Indonesia Political Marketing Research (IPMR) mencoba melakukan studi mengenal karakter setiap calon presiden. Studi ini didasarkan pada Six Pillar of Character dari Joshepson Institute. Dimensi Six Pillar of Character itu adalah:
Trustworthiness, dengan simbol Think True Blue, adalah orang yang jujur, tidak suka berbohong, memiliki kebernian melakukan hal yang benar, dan loyal terhadap keluarga, teman, bangsa, dan negara.
Respect, dengan simbol Think The Golden Rule, adalah orang yang memiliki toleransi terhadap perbedaan, memiliki sikap dan tutur kata yang baik, orang cinta damai, dan tidak suka melukai perasaan orang lain.
Responsibility, dengan simbol Think as Being Solid and Reliable Like a Green Oak Tree, adalah orang tekun dan tidak mudah menyerah, selalu melakukan yang terbaik, disiplin, berpikir sebelum bertindak dan bertanggung jawablah atas keputusan yang telah diambil.
Fairness, dengan simbol Think of Dividing an Orange into equal sections to share fairly with friends, adalah orang yang taat terhadap norma dan kaidah berlaku, menghormati hak orang lain, memiliki cara pikir yang terbuka, tidak mengambil keuntungan dari orang lain, dan tidak mudah menyalahkan orang lain secara serampangan.
Caring, dengan simbol Think of a Red Heart, adalah orang yang selalu bersikap baik, memiliki rasa belas kasih dan peduli, suka memaafkan dan membantu orang lain.
Citizenship, dengan simbol Think Regal Purple as Representing The State adalah orang yang aktif berkontribusi kepada masyarakat disekitarnya, bangsa dan negara, terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, taat hukum dan peraturan perundangan, menghormati otoritas kenegaraan dan peduli dengan lingkungan.
Tentu saja studi yang mereka lakukan tidak merefleksikan seluruh pemilih di Indonesia. Studi ini secara terbatas memotret karakter setiap capres yang akan bertarung pada Pilpres 2009. Harapannya adalah siapapun nanti yang terpilih pada pemilu 2009 ini adalah putra terbaik bangsa dan siapapun yang anda pilih pada tanggal 8 Juli 2009 nanti merupakan pilihan terbaik menurut anda. Selamat Menyontreng!
Artikel terkait di www.markplusclub.com


