Tampilkan postingan dengan label industri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Straight Kanan Mahathir Mohamed untuk Negara-Negara Eropa

Siapa yang tidak kenal Mahathir Muhamed? Dialah mantan perdana menteri negara tetangga kita, Malaysia. Biar gak penasaran terus sama orangnya, ini gambarnya dia sekarang, gan! Udah uzur yak?



Dan kali ini saya akan berbagi artikel tentang komentarnya yang menohok tulang rusuk, sampai sudu'en (orang jawa pasti tahu istilah ini), keras, dan tepat di ulu-ulu hati negara-negara di kawasan eropa. Intinya simpel aja sih: "Hei lu eropa pada! Udah deh, nggak usah kebanyakan gaya, sok pamer kuat atau tajir. Saatnya hadapi kenyataan kalo lu miskin pada!"

Ngakak bener gan, ketika membaca artikel ini. Nggak usah tunggu lama, artikelnya bisa dilihat di sini



And now, please say goodbye to the strong European Countries we all knew~~

Hidup Asia! Hidup Indonesia juga!

Jumat, 04 Februari 2011

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian Terakhir)

Kesimpulan

Selain CSR perusahaan yang telah dibahas sebelumnya, masih banyak contoh yang lain. Misalnya saja, Bogasari yang menggandeng dan mendampingi pertumbuhan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis terigu sebagai bagian dari integrasi CSR mereka dengan supply chain management di tingkat kebijakan strategis. Kalau para pembeli utama mereka sukses karena bantuan mereka, maka akan tercipta relasi saling menguntungkan yang berkelanjutan.

Lalu selanjutnya ada Unilever yang juga mengusung strategi CSR yang nyaris sama dengan Bogasari, namun hanya alur rantainya saja yang terbalik. Mereka melakukan pendampingan terhadap para petani keledai yang menjadi supplier utama mereka. Sebagai pengelola merek terkenal, yaitu kecap bango, yang juga memiliki tingkat demand yang tinggi, kualitas produksi biji kacang yang dipanen serta kelancaran distribusi ke pabriknya menjadi syarat mutlak.

Selain SGC pun, juga ada beragam perusahaan yang mendasarkan pendidikan sebagai dasar kebijakan CSR nya. Program ini bisa memfokuskan diri pada edukasi bagi generasi mendatang, pengembangan kewirausahaan, pendidikan finansial, maupun pelatihan-pelatihan. Misalnya saja PT Astra Internasional yang kali ini telah membentuk Politeknik Manufaktur Astra yang menelan dana puluhan milyar dan juga Yayasan LP3I yang mendiversifikasi lini usahanya menjadi bentuk universitas, bimbel, maupun course center bersertifikasi profesional. Lalu ada HM Sampoerna dengan Sampoerna Foundation yang telah mengucurkan dana tak kurang dari 47 miliar serta PT. Djarum yang turut andil dalam berbagai beasiswa di banyak perguran tinggi serta beasiswa di cabang olahraga bulutangkis.

Isu CSR sepatutnya tidak hanya dilakukan atas dasar dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial, melainkan harus dinaikkan tingkatnya menjadi level kebijakan yang lebih makro dan riil.

Biarkan masyarakat yang menilai sendiri apakah suatu perusahaan layak untuk terus bertahan hidup atau tidak. Dengan perilaku CSR yang demikian baik pada masyarakat sekitarnya, meskipun ada yang namanya ketidakstabilan politik maupun kemerosotan moral dan sosial atau lain-lainnya di perusahaan pusatnya dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, yang akan membela perusahaan itu pastilah masyarakat sekitar mereka sendiri. Karena pada siapa lagi mereka menggantungkan nasib pendapatan tetapnya selain pada perusahaan yang sudah mempedulikan mereka sedemikian besarnya, jika itu dipandang dari sudut pandang karyawan?

Sangat mudah untuk melakukan CSR, sebenarnya. Asalkan perusahaan sadar bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat sendiri dan apa yang terjadi pada masyarakat adalah masalah mereka juga, maka tidak butuh waktu lama untuk melakukan brainstorming CSR macam apa yang akan dilakukan. Kontribusi perusahaan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial di negeri ini adalah yang paling penting dan berharga di mata masyarakat.

Memang tidak segampang membalikkan tangan, untuk memperbandingkan CSR yang dicontohkan oleh William Soerjadjaja dengan perusahaan-perusahaan pada zaman sekarang. Kasusnya berbeda tingkatan, struktur masyarakat yang terlibat sudah berbeda, dan paradigma yang dianut tiap pengusaha juga berbeda. Banyak perusahaan yang sudah melakukan CSR dengan usaha terbaik mereka, namun juga siapa tahu banyak juga perusahaan yang melakukannya untuk menutupi kesalahan mereka. Sekali lagi, di zaman informasi yang ditandai dengan kemudahan mengakses data dan fakta yang tersembunyi sekalipun, masyarakat kita juga sudah bisa menilai apakah perusahaan-perusahaan yang ada sudah menjalankan CSR mereka dengan baik atau tidak.
Sudah jelas bahwa CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan, maka sudah seharusnya dunia usaha Indonesia masa kini tidak memandang CSR sebagai tuntutan represif yang memberatkan mereka, melainkan sebagai sebagai kebutuhan dunia usaha agar tetap bisa melaksanakan sustainability development program usahanya dan sustainability social responsibility sebagai penyempurnanya.

Senin, 20 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 3)

CSR Perusahaan Pada Masa Kini

Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan secara singkat semua hal yang berhubungan dengan pribadi William Soerjadjaja sebagai Bapak CSR Indonesia yang legendaris. Kali ini, dengan menggunakan legenda tersebut sebagai titik acuan, kita akan mengamati perilaku dan kiprah beberapa perusahaan yang terkenal pada saat ini berkaitan dengan CSR yang mereka lakukan. Untuk itu saya mengambil dua contoh perusahaan yaitu Aqua Golden Mississipi dan Sugar Group Company, yang merepresentasikan dua karakter CSR yang saling bertolak belakang. Bagaimana mereka berjanji melaksanakan dan apa saja fakta yang terjadi terkait di dalam prosesnya?

I.Aqua Golden Mississipi (AGM)

Siapa sih yang tidak kenal nama AQUA? Mungkin tanpa kita sadari, hidup kita telah menjadi tidak lengkap jika kita belum mengkonsumsi produk dari merek mendunia ini. Aqua merupakan pelopor bisnis air minum dalam kemasan (AMDK), dan saat ini menjadi produsen terbesar di Indonesia. Pangsa pasarnya di luar negeri juga meliputi Singapura, Malaysia, Fiji, Australia, Timur Tengah, dan Afrika. Untuk bentuk galon, mereka menguasai 80% pangsa pasar Indonesia. Untuk keseluruhan bisnisnya, Aqua memiliki 50% marketshare. (Batubara, 2010)

Produsen AMDK merek Aqua, yang dulu hanya bernama PT. Golden Mississipi, dulunya didirikan oleh Tirto Utomo pada 23 Februari 1974, dan bernaung di bawah PT. Tirta Investama. Pabrik pertamanya didirikan di Bekasi. Awalnya, banyak yang meragukan bahkan menganggap aksi Tirto Utomo sebagai langkah ‘guyonan’. Zaman dulu sudah menjadi kebiasaan di Jawa, kalau mau minum air tinggal ambil saja di sumur atau dari kendi-kendi air yang sering diletakkan di depan rumah masyarakat. Namun beberapa tahun setelahnya, orang Indonesia justru mulai mengkonsumsi air minum dengan membeli merek Aqua. Sampai saat ini, bahkan segala jenis merek AMDK justru sering dipukul sama rata dengan nama Aqua.

Kemudian sebuah perusahaan multinasional dari Prancis bernama Danone, tertarik untuk membeli saham PT. Aqua Goldem Mississipi. Alasannya untuk merealisasikan kampanye ‘penaklukan dunia’ nya lewat tiga bisnisnya: daily product, AMDK, dan biskuit. Akhirnya Danone berhasil membeli saham Aqua pada tanggal 4 September 1998 dan muncullah produk penyatuan berlabel Aqua-Danone dua tahun kemudian. Tahun 2001, Danone menaikkan porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 74%. Maka resmilah Danone menjadi pemilik dominan dari PT. Aqua Golden Mississipi.

CSR yang digadangkan oleh perusahaan ini sejak dipegang oleh Danone juga tidak sedikit. Salah satunya yang sering diiklankan di beberapa stasiun televisi beberapa waktu belakangan ini, adalah Program Satu untuk Semua (SuS). Program ini maksudnya adalah inisiatif sosial Aqua-Danone yang ditujukan terutama untuk membantu kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup sehat. Untuk setiap 1 liter botol Aqua ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga September 2007, Aqua akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai tahap awal. Semua media promosi, baik elektronik maupun cetak digunakan. Kemasan pun dirubah gambar dan isi labelnya. Untuk lebih meyakinkan, mereka juga menggandeng PWC Indonesia untuk mengaudit jumlah kemasan khusus yang terjual.

Namun ada yang ganjil dari program yang diiklankan berulang kali di stasiun-stasiun televisi tersebut. Mengapa sampai sekarang program SuS itu yang hanya dipublikasikan cuma di daerah NTT, yang notabene rendah tingkat jangkauan komunikasinya? Bagaimana dengan daerah lain seperti Papua atau tak usah jauh-jauh, daerah pelosok-pelosok di pulau jawa yang juga belum mendapat fasilitas air bersih yang layak?

Secara nalar yang sedikit negatif, mungkin saja mereka hanya berjanji-janji saja. Mereka hanya menunjukkan bukti bahwa memang benar disana telah dibangun fasilitas itu dan mampu menyejahterakan penduduk disana. Selebihnya, mereka ‘lupa’ untuk membangun CSR mereka secara berkelanjutan. Kalau diumpamakan, sama seperti sebuah perusahaan besar yang mengumumkan pemberian bantuan dana kepada banyak yayasan di wilayah-wilayah yang membutuhkan, tanpa menyebutkan jumlahnya yang siapa tahu jumlahnya cuma 10 juta rupiah per kecamatan. Apa itu cukup?

Dalam praktik bisnisnya, AGM juga banyak melanggar etika bisnis, bahkan cenderung mendeskritkan signifikansi dari semua program CSR yang mereka gembar-gemborkan. Salah satu contoh adalah eksploitasi air di daerah Kubang jaya, Babakan Pari, Kabupaten Sukabumi sejak tahun 1992. Pada awalnya, eksploitasi hanya pada air di permukaan saja. Namun, perlahan-lahan mereka mulai memilih pengeboran untuk menyedot saluran air di bawah tanah juga. Akibatnya, kualitas dan kuantitas sumber air di sana menurun drastis. Tinggi sumur-sumur rumah menjadi hanya sejengkal kaki (kira-kira 15 cm), bahkan kering kerontang.

Selain keterpaksaan warga untuk menggali sumur lebih dalam lagi atau menggunakan pompa untuk mendapatkan air, irigasi pertanian juga kena getahnya. Beberapa kasus telah terjadi dan biasanya seputar perebutan air untuk kepentingan pengairan ladang mereka. Banyak sawah kekeringan dan daya ekonomi petani semakin menurun. Sedangkan AGM? Semakin makmur di bawah penderitaan orang lain yang tidak tahu menahu tentang hal ini.

Sesudah dimiliki oleh Danone pun, rezim AMDK oleh AGM malah semakin menjadi-jadi dan makin merambah ranah politik. Kasus eksploitasi besar-besaran tahun 2002 di Klaten, Jawa Tengah justru dilakukan dengan terang-terangan. Sama juga dengan penduduk sekitar yang mayoritas juga bergantung pada pertanian, debit air terus menurun dan mereka juga terpaksa menyewa pompa untuk irigasi. Untuk kebutuhan harian pun warga harus membeli dengan harga yang mahal. Hal ini karena pihak PDAM daerah sendiri juga harus membeli air dari AGM sendiri, karena tidak adanya lagi sumber mata air yang tersedia untuk diolah negara. Padahal Kabupaten Klaten memiliki 150 lebih sumber mata air. Pemda Klaten sempat mengancam akan mencabut izin usaha AGM jika terus melakukannya, tapi sampai saat ini tidak ada kelanjutan berita tentang hal itu lagi.
Sudah begitu pun eksploitasi yang dilakukan ditindak lanjuti dengan proses produksi yang tidak efisien dan boros. Hampir 30% air yang menjadi bahan baku AMDK menyusut atau hilang karena proses produksi. Misalnya saja volume air yang dipakai produksi adalah 14 miliar liter, maka yang terbuang kurang lebih 7 miliar liter, itu sudah masuk juga tahapan proses pencucian dan pemurnian air. (Ipung, 2005)

Bayangkan betapa bermanfaatnya air yang terbuang percuma itu jika digunakan untuk kepentingan irigasi. Mengapa AGM tidak memikirkan hal itu? Padahal air untuk irigasi standarnya tak setinggi AMDK, dan itu bisa jadi CSR yang sepadan untuk menghapus semua dosanya. Tapi bahkan sampai sekarang mengapa mereka bungkam dan membutakan diri atas solusi yang sudah jelas bisa dilakukan ini?

Dan seperti biasa, yang selalu diungkap dan dijawab oleh para pejabat perusahaan AGM adalah pernyataan ala politikus yang tidak mendetail dan over-promising but under-delivered. Mungkin inilah yang disebut sebagai politik greenwashing ala Aqua. Kondisi tersebut menjadi semakin memburuk, dan entah kenapa hanya sebagian lapisan masyarakat saja yang mengetahui beberapa kasus buruk yang melibatkan AGM. Bahkan sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang merasa dirugikan yang mengkampanyekan gerakan anti-Aqua.

II. Sugar Group Company (SGC)

Sugar… Oh, sugar, sugar…

Apakah kata-kata di atas terdengar familiar? Yap, itulah sepenggal lirik dari jingle iklan produk Gulaku yang mulai menyeruak dunia bisnis sejak beberapa tahun yang lalu itu. Yang menarik perhatian di iklan tersebut adalah butiran-butiran gula yang berjatuhan seperti kristal, bahkan masih tumpah ruah dari kemasannya yang berkesan mewah. Apalagi kalau kita ingat iklan yang lebih baru lagi, bahwa seolah-olah hidup kita tak lengkap tanpa membubuhkan gula di setiap makanan maupun minuman kita.
Sama halnya dengan AGM, Sugar Group juga telah sukses mengangkat harkat dan derajat barang komoditas yaitu gula dari bahan rakyat yang hanya boleh ada di pasar becek maupun toko kelontong pinggir jalan, menjadi komoditas yang keberadaannya dimewahkan oleh penempatannya di berbagai supermarket yang super bersih dan berpendingin mewah. Dengan tagline, promosi, kemasan yang praktis serta butiran gula yang begitu bersih, membuat produk Gulaku menjadi primadona di mata ibu-ibu rumah tangga dan para pengusaha kuliner yang mengandalkan rasa manis sebagai faktor penyedot pelanggannya.
Lalu kita pasti berpikir, dalam menyediakan kualitas gula yang begitu mewah seperti itu, juga dengan kemasan pouch yang menarik dan terkesan mewah tentunya butuh kerja keras dari para karyawan dan pekerja di pabrik utamanya. Lalu bagaimana perusahaan akan mengkompensasi kinerja para pekerjanya?

Dalam hal ini, SGC melakukan CSR internal dengan merekrut pekerja-pekerja lokal di area sekitar pabrik utama mereka di Lampung, agar penduduk sekitar juga dapat merasakan manfaat dari kehadiran mereka di daerah hunian mereka. Selain itu, perlakuan dan fasilitas yang diberikan benar-benar memanjakan mereka semua. Selain gaji yang cukup, masih diberi tunjangan yang memadai, serta tingkat keselamatan kerja di sana benar-benar diawasi ketat. Tidak hanya itu, bahkan dalam kesehariannya perusahaan menyediakan juga transportasi yang mengangkut para karyawannya pulang balik dari dan ke kantor serta rumahnya. Pokoknya apa yang dilakukan perusahaan semata-mata agar mereka semua bisa berkonsentrasi dengan tenang pada pekerjaan mereka saja.

Selain itu, ada juga pendirian Sekolah Menengah Atas Sugar Group Companies (SMA SGC) yang merupakan program balas jasa bagi para pekerja yang telah berjuang keras memajukan perusahaan sejak puluhan tahun yang lalu. Berarti bisa dijelaskan pula mengapa anak-anak didik di sana merupakan anak kandung dari keluarga para pekerja mereka. Hingga tahun 2009 lalu, SMA SGC telah dua kali meluluskan siswanya dan hampir semuanya diterima di perguruan tinggi negeri yang berkualitas, misalnya: ITB, Unpad, UI, dan IPB. (Radar Lampung, 2009)
Para siswa yang bersekolah di sana bukan hanya dari karyawan yang punya jabatan, tapi juga pekerja kasar seperti sopir, tukang las atau bahkan mekanik biasa, serta tukang bersih-bersih yang biasanya kita anggap lalu begitu saja dimanapun kita berada.

Tujuan dari pembangunan SMA tersebut ada dua: membalas jasa para orang tua siswa dan langkah SGC sendiri untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan tetap sustain. Kalau kita pikir, perusahaan bisa saja ambil tenaga kerja yang lebih andal dari luar lingkungannya. Bisa lulusan dari dalam negeri maupun luar negeri, toh SGC sendiri adalah perusahaan yang terkenal bonafitnya. Tapi kalau melakukan hal tersebut, para pekerja yang setia itu dapat value tambahan apa? Inilah hasil dari proses pemikiran niat CSR yang mulai SGC kepada lingkungan internalnya, terfokus pada karyawan-karyawannya.

Jika mengandalkan gaji seorang pekerja kasar dengan kebutuhan keluarga yang banyak, hampir tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga perusahaan berpikir bagaimana caranya membalas jasa para karyawan mereka agar mereka dapat hidup layak meski sesudah pensiun. Maka perusahaan melakukan investasi dengan cara mendirikan sekolah sebagai tempat anak-anak karyawan menggayung ilmu. Bebagai kebutuhan, termasuk juga biaya makan tiap siswa, ditanggung perusahaan hingga lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kemudian dari pihak si anak sendiri, agar tidak lupa atas jasa orang tuanya alias kualat, para calon mahasiswa terlebih dahulu menandatangani kontrak bahwa sepertiga gaji dari mereka kelak akan dimasukkan ke rekening orang tuanya. Ini wajib dilakukan berdasarkan pertimbangan, tanpa ada orang tuanya maka para siswa itu juga tidak akan ada dan kelak akan menjalani hidup yang lebih baik.

Yang mereka lakukan, memang sudah jelas juga untuk investasi masa depan perusahaan dan karyawan. Perusahaan berharap agar para anak-anak karyawan yang telah dididik sedemikian rupa dapa menggantikan orang tuanya dalam beberapa tahun mendatang.

Senin, 13 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 2)

Sejarah Sang Maestro CSR Indonesia

William Soerjadjaja adalah kelahiran Majalengka pada 20 Desember 1923. Bersama dengan saudara kandungnya, ia membangun perusahaan bernama Astra pada tahun 1957. Jangan cepat ambil kesimpulan dulu, kalau sejak awal Astra adalah perusahaan otomotif. Pada awalnya Astra hanya bergerak di bidang minuman ringan dan ekspor hasil bumi dan tidak tertarik memperluas diversifikasi bisnisnya. Sampai pada tahun 1968, pemerintah orde baru pada kala itu meminta bantuannya untuk mendatangkan 800 unit truk chevrolet dari Amerika. Ketika sudah mulai dipergunakan aktif untuk program repelita yang mulai dilaksanakan besar-besaran kala itu, William mulai melirik sebuah kesempatan bisnis dalam bidang otomotif dan berusaha untuk mendapatkan hak ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) chevrolet Amerika. Namun, permintaannya ditolak mentah-mentah. Kemungkinan besar alasannya adalah, pihak chevrolet Amerika sendiri menilai bahwa sangat susah untuk merintis bisnis otomotif secara komersil kepada khalayak ramai di Indonesia yang daya belinya masih terbatas. Karenanya, mereka berasumsi bahwa itu adalah permintaan yang nekat dan bisa dikatakan William tak berpikir matang.

Tapi beliau tak mau menyerah begitu saja. Ia benar-benar melihat peluang masa depan yang benar-benar cerah dihadapannya. Karenanya ia beralih kiblat untuk mengambil hati Toyota yang bermarkas besar di Jepang. Dengan bermodalkan sejarah kesuksesan mendatangkan 800 unit chevrolet sekaligus, dan juga dibantu oleh mindset pebisnis Jepang yang disiplin dan stubborn dalam mengurus kesempatan bisnis apapun, beliau akhirnya berhasil menjadi ATPM Toyota di Indonesia. Dan pada tahun 1971, Astra berubah nama menjadi PT. Toyota Astra Motor (TAM) sebagai importir dan distributor kendaraan Toyota di Indonesia.

Bersama-sama dengan perusahaan saingannya yang pada waktu itu sudah membersihkan jalan pionir industri otomotif di Indonesia, PT. Indomobil Sukses Internasional, PT. Toyota Astra Motor mulai tumbuh menjadi raksasa otomotif di negeri ini. Salah satu produk khasnya yang menjadi trade mark perusahaan pada saat itu adalah jenis kijang yang proses produksi dan penelitian serta pengembangannya memang khusus ditujukan hanya pada karakter penduduk Indonesia yang senang kemana-mana bersama dengan sekeluarga. Maka dari itu, kita semua pasti masih ingat positioning mobil kijang sebagai mobil keluarga. Selain itu, Toyota Kijang yang dipromosikan oleh William memang sudah berkonsep mobil murah dengan harga terjangkau sesuai selera konsumen Indonesia kebanyakan.

Pertumbuhan yang sangat pesat ini tak pelak membuat keluarga cendana alias Pak Harto dan sanak familinya, tergiur ingin memiliki bagian hak kepemilikan saham Astra yang sudah berganti nama menjadi Astra Internasional ini. Tapi tentu saja, William menolak keinginan mantan presiden orde baru itu dan membuat mereka sekeluarga merasa geram. Kesuksesan perusahaan Astra juga tak bisa lepas dari campur tangan pemerintah otoriter pada saat itu yang kadang-kadang masih sensi dengan penolakan tersebut, sehingga justru kalau bisa bertahan sampai sejauh ini, berarti itu memang menunjukkan kualitas William Soejadjaja yang memang sangat berdedikasi dan visioner.

Namun, ia bukan tipe orang yang menyamakan keberhasilan Astra sebagai keberhasilan pribadinya. Beliau pernah berujar bahwa keberhasilan Astra adalah berkat kerja keras semua karyawan dan rahmat Tuhan, bukan semata-mata karena dirinya pribadi.
Beliau memiliki empat anak dari pernikahan beliau dengan ibu Lily Anwar. Edward dan Edwin yang lahir di Belanda serta Joyce dan Judith yang lahir di Indonesia. Kisah spektakuler kepahlawanan beliau dimulai dari salah satu kegagalan yang dialami anak pertamanya, Edwin Soerjadjaja. Semasa Astra masih menjadi milik keluarga Soerjadjaja, Edward adalah juga salah satu pemegang saham dan komisaris di PT Astra Internasional. Ia dipercaya juga untuk mengelola Summa Group, yang merupakan anak usaha dari Grup Astra.

Pada masa kejayaannya, Summa Group bergerak di bidang perbankan, keuangan, dan berbagai jenis jasa keuangan lainnya. Agaknya sang putra sulung ini terlalu ambisius sehingga banyak sekali mengumbar kredit dan ekspansi bisnis yang tak terkontrol. Bisa ditebak selanjutnya, Summa pun menanggung kredit macet dalam jumlah besar. Inilah titik awal petaka bagi keluarga Soejadjaja. Karena mendapatkan kerugian yang teramat besar, maka Bank Summa pun bangkrut dan dana-dana para nasabah pun juga dipastikan 100% tak bisa kembali ke tangan pemilik aslinya. Membuat kita teringat akan pahitnya kasus Bank Century yang kinerja manajemen dan kecurangan pemiliknya amat mengecewakan para nasabah hingga waktu yang berkepanjangan.

Langkah apakah yang akan William Soerjadjaja ambil? Sejak Bank Summa dinyatakan untuk dilikuidasi pemerintah pada Desember 1992, beliau maju dan menyatakan dirinya sendiri sebagai jaminan pribadi untuk menyelesaikan seluruh kewajiban terakhir bank itu. Tak tanggung-tanggung, ia melepas seluruh kepemilikan mayoritas pribadinya di Astra pada pemerintah dan harus merelakan satu-satunya usaha terbesar dan terlama miliknya. Tak terbayangkan, betapa sedih juga hatinya ketika secara sadar harus melepas salah satu nama yang telah ia besarkan sejak dulu dengan semua pahit dan getir dunia yang telah ia jalani bersama Astra.

Padahal secara common sense dan secara hukum perdata pada saat itu, tidak ada kewajiban mutlak bagi William untuk menanggung semua beban pengembalian uang nasabah itu seorang diri. Karena meskipun sebagai salah satu anak usaha Astra, pemilik Bank Summa adalah anaknya dan justru bukan dirinya. Tak ada korelasi kewajiban hukum secara langsung yang membuatnya harus ikut bertanggung jawab. Bahasa gampangnya, “Kalau sudah bangkrut, ya mau bagaimana lagi? Uang sepeser pun mereka tak punya”.
Namun beliau tidak pernah mencari pembelaan semacam itu. Ia menjadikan hasil penjualan saham Astra yang notabene adalah kekayaan pribadinya sebagai sumber dana pengembalian untuk seluruh nasabah, satu persatu sampai semuanya benar-benar tergantikan. Mana ada orang yang rela menggunakan kekayaan pribadinya di satu perusahaan untuk bertanggung jawab atas kebangkrutan usaha yang tak ada hubungannya dengan bidang bisnis utama yang dijalani, apalagi untuk mengembalikan kekayaan para pelanggan yang dikecewakan? Bukankah perbuatan seperti itu adalah sesuatu yang sejatinya gampang diumbar-umbar namun sangat sulit untuk dilakukan, bahkan untuk direncanakan?

Meskipun telah terdepak keluar dari perusahaan kesayangannya, hubungan bisnis dengan para koleganya di luar negeri tetap baik. Bahkan mereka menaruh rasa respek yang besar terhadap sikap gentleman William yang bersedia mengambil alih tanggung jawab Bank Summa. Tak heran banyak pihak justru antusias menawarkan sejumlah uang agar William bisa memperoleh kepemilikan kembali di Astra. Salah satunya adalah Peregrine Sewu Securities yang tahun 1995 bersedia menyediakan dana bagi keluarga Soerjadjaja untuk mengambil alih Astra kembali. Tapi sayangnya keluarga cendana tidak berkenan untuk mengizinkan proposal tersebut.

Memang sepanjang hidupnya, oleh banyak rekan pengusaha maupun karyawan atau presdir yang dulu pernah menjadi bawahannya, beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat kuat dan baik, tidak otoriter, sangat kekeluargaan, dan humanis. Beliau juga sering sekali memberi kesempatan bagi bawahannya untuk berkembang sehingga mampu mencetak para profesional dan pengusaha handal. Bahkan banyak sekali konglomerat baru yang muncul dari hasil asuhannya.

Kini beliau telah berpulang, meninggalkan kita semua. Namun, seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, semoga saja segera muncul sosok seperti William Soerjadjaja lainnya di tanah air ini yang mampu mengimplementasikan CSR yang menyeimbangkan kehidupan berbisnis dengan prinsip dasar sosial dan religius, sehingga bisa menjadi teladan dan kebanggaan bangsa ini.

Minggu, 05 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 1)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan istilah populer di masa kini yang sering digembar-gemborkan oleh banyak perusahaan, sebagai salah satu strategi menarik simpati publik, dan juga oleh para pemerhati maupun politisi-politisi, yang entah motifnya memang murni membela kepentingan rakyat banyak atau hanya sekedar cari sensasi dan muka saja. Sebenarnya apa sih CSR itu?

CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para stakeholders berdasarkan prinsip sukarela dan kemitraan. Kalau mau dikata dalam bahasa yang lain: Amal Perusahaan (Corporate Charity), Kedermawanan Perusahaan (Corporate Philantrophy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development). CSR dapat pula diartikan sebagai komitmen industri untuk mempertanggung-jawabkan dampak operasi dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan serta menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungannya. Melaksanakan CSR dalam jangka panjang akan menumbuhkan rasa keberterimaan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan di suatu daerah. (Tanudjaja, 2009)

Beberapa tahun belakangan, CSR sedang jadi trend pemberitaan dimana-mana. Semakin banyak individu dan perusahaan yang memandang CSR itu penting dan mencanangkan program CSR yang rapi. Namun, ekonomi yang tumbuh pesat tidak dibarengi dengan kondisi masyarakat ekonominya yang tumbuh sangat lambat. Keterlibatan teknologi yang tinggi membuat banyak perusahaan lebih senang menggunakan tenaga kerja profesional di luar lingkungan masyarakat setempat dan mengabaikan eksistensi masyarakat sekitar. Yang penting profit, menjadi salah satu slogan yang serupa kerak mengganggu dan bisa menyebabkan usaha CSR menjadi berlubang dan cenderung dilupakan.

Nah, mengapa judul untuk tema semacam ini dikait-kaitkan dengan sesosok pahlawan tanpa tanda jasa, selain guru, bernama William Soerjadjaja? Seperti yang kita ketahui, beliau adalah pendiri dari Astra Internasional yang terkenal sebagai perusahaan otomotif raksasa di bumi Indonesia ini. Memang tidak banyak orang awam yang mengenal nama beliau maupun pribadinya, tetapi di dunia para pengusaha dan para pebisnis yang beretika, beliau adalah salah satu contoh terbaik dan melegenda sepanjang masa karena tindakan CSR nya yang benar-benar tidak umum dilakukan pengusaha besar kebanyakan namun mengharukan. Di saat zaman dulu isu CSR tidak begitu mencuat, beliau muncul dengan tindakannya yang menghasilkan cerita epos kepahlawanan yang mungkin setara dengan raja-raja kerajaan nusantara yang bijak pada zaman dahulu.

Permasalahannya adalah, di masa dimana CSR semakin digadang-gadang menjadi salah satu skala ukur keberhasilan suatu perusahaan di dalam bertahan hidup dan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, apakah kualitas dan kuantitas CSR yang dilakukan perusahaan saat ini menjadi semakin baik atau justru semakin terjun bebas? Dan apakah ada di antara perusahaan-perusahaan yang menjadi contoh pembahasan ini yang pantas disebut sebagai pewaris dari legenda emas William Soerjadjaja? Penulis akan membahasnya dalam halaman-halaman berikut.

Minggu, 14 Juni 2009

Mount Tea Berbahaya ??

Terkejut? Saya juga terkejut. Saya baru mendengarnya ketika saya sedang asyik menyeruput produk tersebut sambil menunggu kuliah selanjutnya. Salah seorang teman saya tiba-tiba berkata,

"Eh, loe tahu gak kalo itu ada bahayanya?"

Kaget mendengarnya, saya hampir tersedak.

"Kok bisa?? Tahu dari mana?"

Melalui pembicaraan kurang dari lima menit tersebut, saya baru tahu kalau produk tersebut memakai semacam unsur yang namanya "Essence" ato apapun itu. Karena saya bukan anak IPA saya tidak terlalu paham, tapi konsumsi yang berlebihan bisa menyebabkan ginjal kita terganggu. Teman saya bilang juga kalau ibunya pernah menjadi pencicip rasa di pabriknya sana. Mungkin saja ibunya lulusan IPA jadi bisa tahu hal-hal semacam itu.

Wah, jadi seperti Mi Instan saja yah? Padahal Mi dan Mount Tea sama-sama enak lho... Kalo gitu saya akan mengurangi konsumsi saya terhadap produk tersebut, karena saya masih mau hidup lebih lama.

Oh ya, tulisan diatas berdasarkan pengalaman 'mendengarkan' saya, jadi belum sampai 'merasakan'. Bagaimana menurut anda?