Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2011

Value Enhancer - Transformational Service

Pada umumnya, service sering diartikan sempit sebagai sebuah bentuk pelayanan setelah pembelian. Mungkin karena sebagian hidup kita harus menservis motor tiap bulan kali ya? Nah, mau tahu tingkatan-tingkatan service yang oleh kalangan akademisi sering disebut sebagai Value Enhancer? Ayo kita simak dulu ulasan singkat yang sangat ringkas ini.

Berdasarkan penggabungan konsep buku-buku literatur kuliah manajemen dengan buku kontemporer dari Hermawan kartajaya, ada tiga jenis tingkatan service, yaitu Excellent Service, Experiential Service, dan Transformational Service. Harap diingat bahwa manfaat dari service adalah menjadi penambah daya saing atau nilai produk, karena meningkatkan kadar diferensiasi dan menjauhkan diri dari komoditisasi yang kelak akan dapat menjebak kita dalam price war.

Oke, langsung saja kita membahas tiga tingkat service tersebut:

1. Excellent Service

Konsep “pelayanan yang sempurna” ini banyak mengacu pada standar RATER (Reliability, Assurance, Tangible, Empathy, dan Responsiveness).
Manakala penyedia service telah mampu memenuhi standar RATER ini, apakah yang harus dilakukan? Kita harus memberikan service yang mampu menghasilkan diferensiasi yang lebih tinggi, yaitu Experiential Service.

2. Experiential Service

Merupakan tingkatan service yang sangat menyentuh dan sangat berbeda / unik dirasakan oleh pelanggan dengan kegiatan yang bisa menstimulasi lima panca indera (5 senses) anda begitu pelanggan masuk ke service stage. Berikut adalah ilustrasi modul stratejik experiential service dari buku Customer Experience Management, karangan Bernd Smith.



Contoh: Bagaimana pelayanan hotel dulu dibandingkan dengan sekarang?

3. Transformational Service
Merupakan service yang mampu memberikan solusi secara total atas masalah pelanggan; solusi atas produk-produk yang anda tawarkan. Bukan hanya memunculkan perasaan exciting saja sebagai tujuannya, namun lebih dari itu, Transformational Service ingin menghadirkan kesadaran dalam diri pelanggan. Intinya, Transformasi harus membuat Berubah.

Jadi, Transformational Service itu sifatnya sangat personal / pribadi. Ada pelanggan yang ter-transformasi setelah mengkonsumsi sebuah produk, namun ada juga yang menjadi manusia yang sama meskipun telah mengkonsumsinya berkali-kali. Semua hal yang telah disebutkan di atas merupakan sebuah introductional dari Transformational Service dimana Experiential Marketing dipakai sebagai basis fondasinya.

Minggu, 05 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 1)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan istilah populer di masa kini yang sering digembar-gemborkan oleh banyak perusahaan, sebagai salah satu strategi menarik simpati publik, dan juga oleh para pemerhati maupun politisi-politisi, yang entah motifnya memang murni membela kepentingan rakyat banyak atau hanya sekedar cari sensasi dan muka saja. Sebenarnya apa sih CSR itu?

CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para stakeholders berdasarkan prinsip sukarela dan kemitraan. Kalau mau dikata dalam bahasa yang lain: Amal Perusahaan (Corporate Charity), Kedermawanan Perusahaan (Corporate Philantrophy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development). CSR dapat pula diartikan sebagai komitmen industri untuk mempertanggung-jawabkan dampak operasi dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan serta menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungannya. Melaksanakan CSR dalam jangka panjang akan menumbuhkan rasa keberterimaan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan di suatu daerah. (Tanudjaja, 2009)

Beberapa tahun belakangan, CSR sedang jadi trend pemberitaan dimana-mana. Semakin banyak individu dan perusahaan yang memandang CSR itu penting dan mencanangkan program CSR yang rapi. Namun, ekonomi yang tumbuh pesat tidak dibarengi dengan kondisi masyarakat ekonominya yang tumbuh sangat lambat. Keterlibatan teknologi yang tinggi membuat banyak perusahaan lebih senang menggunakan tenaga kerja profesional di luar lingkungan masyarakat setempat dan mengabaikan eksistensi masyarakat sekitar. Yang penting profit, menjadi salah satu slogan yang serupa kerak mengganggu dan bisa menyebabkan usaha CSR menjadi berlubang dan cenderung dilupakan.

Nah, mengapa judul untuk tema semacam ini dikait-kaitkan dengan sesosok pahlawan tanpa tanda jasa, selain guru, bernama William Soerjadjaja? Seperti yang kita ketahui, beliau adalah pendiri dari Astra Internasional yang terkenal sebagai perusahaan otomotif raksasa di bumi Indonesia ini. Memang tidak banyak orang awam yang mengenal nama beliau maupun pribadinya, tetapi di dunia para pengusaha dan para pebisnis yang beretika, beliau adalah salah satu contoh terbaik dan melegenda sepanjang masa karena tindakan CSR nya yang benar-benar tidak umum dilakukan pengusaha besar kebanyakan namun mengharukan. Di saat zaman dulu isu CSR tidak begitu mencuat, beliau muncul dengan tindakannya yang menghasilkan cerita epos kepahlawanan yang mungkin setara dengan raja-raja kerajaan nusantara yang bijak pada zaman dahulu.

Permasalahannya adalah, di masa dimana CSR semakin digadang-gadang menjadi salah satu skala ukur keberhasilan suatu perusahaan di dalam bertahan hidup dan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, apakah kualitas dan kuantitas CSR yang dilakukan perusahaan saat ini menjadi semakin baik atau justru semakin terjun bebas? Dan apakah ada di antara perusahaan-perusahaan yang menjadi contoh pembahasan ini yang pantas disebut sebagai pewaris dari legenda emas William Soerjadjaja? Penulis akan membahasnya dalam halaman-halaman berikut.

Jumat, 12 November 2010

Team Building (Bagian Pertama)

Introduction

Agar perusahaan / organisasi dapat bertahan, bertumbuh, dan berkembang, maka haruslah terjadi simbiosis mutualisme yang baik antara produsen di satu pihak, customer maupun konsumen di pihak lain, serta masyarakat. Oleh karena itu, kita selaku pihak produsen ataupun pebisnis tidak dapat berpangku tangansaja. Kita harus lebih bersikap aktif dan antisipatif. Pertanyaannya adalah: “Mengapa kita harus bersikap demikian?”

Berikut ini adalah dasar antisipatif berdasarkan perkembangan dunia marketing yang terjadi sejak zaman dulu sampai sekarang:

Marketing 1.0

Pada model awal-awal marketing, produsen hanya membuat produk sesuai selera produsen dan dipasarkan ke pembeli. Apapun keadaan dan harganya, pembeli akan mengkonsumsinya. Misalnya saja ketika nomor seluler sewaktu satu dasawarsa yang lalu masih tergolong langka dimiliki banyak orang, Telkomsel melalui produk Simpati-nya bebas menetapkan harga yang tinggi. Kita yang membutuhkan alat komunikasi yang lebih efektif mau tidak mau harus menerima harga yang bisa mencapai 250 ribu rupiah, hanya untuk mendapat jenis sim card yang biasa saja dengan fasilitas layanan yang ala kadarnya.

Marketing 2.0

Pada model ini, perkembangan pasar sudah sedemikian pesat dan pembeli sudah memiliki kebebasan memilih alternatif produk. Maka produsen harus pandai menciptakan “needs” and “wants”. Maksudnya adalah tipe marketing yang memfokuskan pada inti strategi markting PDB—Positioning, Differentiation, dan Brand—sehingga kelak dapat memenangkan mind share (dengan segmentation, targeting, positioning  3 elemen strategi), kemudian market share (dengan marketing-mix, differentiation, selling  3 elemen taktik) serta akhirnya heart share (dengan brand, service, process  3 elemen value).

Marketing 3.0

Pada model paling akhir ini, perkembangan pasar semakin pesat lagi dan produsen harus mendekati dengan spiritual marketing yakni konsep pemasaran seutuhnya yang berbasis Human Spirit. Semangat melayani kepada semua orang menjadi satu poin penting yang perlu diperhatikan dan dikembangkan, untuk menarik simpati pembeli, yaitu orang-orang yang memiliki Desire dan Anxiety yang semakin kompleks dan spesifik. Oleh karenanya, cara-cara yang sekedar mengikuti asas service plus, apalagi hanya SOP, tidak akan banyak membantu lagi untuk menggaet hati para konsumen. Banyak perusahaan yang melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) untuk mencapai kondisi Ideal Customer Satisfaction, atau bahkan Beyond Service.

Untuk dapat memberikan Customer Satisfaction dan bahkan Beyond service inilah, diperlukan adanya Team Work yang solid, dan salah satu proses pembentukannya melalui Team Building Training.

Senin, 14 Juni 2010

It's not Segmentation anymore! It's Communitization!

Dalam Legacy Marketing, langkah pertama menyusun strategi marketing adalah Segmentasi. Namun, dalam era New Wave Marketing, yang dilakukan bukanlah segmentasi, tapi Communitization atau upaya membentuk suatu komunitas atau memanfaatkan komunitas yang ada.

Dalam komunitas terjadi relasi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan kepentingan atau nilai yang dianut. Beda dengan segmentasi yang aggota segmennya bisa tidak peduli satu sama lain. Inilah salah satu perbedaan Segmentation dan Communitization.

Kemudian, dalam segmentasi, pembentukkannya dilakukan oleh perusahaan sehingga sifatnya vertikal. Prosesnya berlangsung dari atas ke bawah. Pelanggan dan calon pelanggan dianggap berada di bawah produsen. Sedangkan di dalam Communitization, pembentukannya dilakukan oleh orang per orang yang setara sehingga bersifat horisontal. Juga, kalau dalam Segmentasi yang terjadi adalah high-budget, high impact marketing, maka dalam Communitization yang terjadi adalah low-budget, high impact marketing.

Mengapa demikian? Karena segmentasi sifatnya adalah inisiatif dari perusahaan, dimana mereka harus melakukan survei / riset pasar atau membeli laporan riset suatu lembaga, dan itu membutuhkan biaya mahal. Sudah demikian, segmentasi tidak ada yang “merawat”, karena memang antar anggota segmen tersebut bisa tidak kenal satu sama lain, dan kita juga tidak peduli kan? Sementara dalam Communitization, perusahaan tidak harus melakukan riset pasar. Cukup mengidentifikasi komunitas yang sudah ada. Kalau ternyata tidak menemukan komunitas yang dinilai cocok, maka barulah perusahaan tersebut mempelopori berdirinya suatu komunitas.

Komunitas ini bisa berbentuk online, offline, atau gabungan keduanya. Contoh komunitas online adalah Facebook. Kalau anda punya account di sana, pasti anda sering mendapat undangan untuk bergabung dalam suatu komunitas. Kalau kita “klik” dengan komunitas tersebut, pasti kita akan bergabung walaupun kita tidak tahu siapa saja anggota yang ada di sana. Setelah bergabung, barulah kita bisa saling mengenal anggota komunitas tersebut dan bisa cepat akrab karena memang punya kegemaran atau kepentingan yang sama.

==================================================================
After read this article, please comment to show that you participated in this blog's growth and development.

New Wave Marketing

Sejarah Marketing di Indonesia ditandai dengan adanya era marketing yang berbeda-beda yakni Pseudo Marketing, Legacy Marketing, dan New Wave Marketing.

Era Pseudo Marketing adalah era dimana Nepotisme dan Koncoisme menjadi sangat dominan, dimana apabila seseorang dekat dengan kekuasaan maka bisnis akan lancar. Pada era Legacy Marketing, dapat dilihat bahwa bisnis yang berdasarkan hubungan dekat dengan kekuasaan, pada akhirnya akan rontok karena harus melakukan free fight competition yang tidak terbiasa mereka lakukan pada era Pseudo Marketing. Pada era Legacy Marketing, pemasaran dilakukan secara Vertikal, para Marketer harus melakukan persaingan secara keras dan free fight competition sehingga 9 elemen pemasaran yang ada (The Nine Core Elements of Marketing) harus dilakukan secara baik dan akibatnya harus menggunakan pemasaran High Budget – High Impact.

Dengan semakin majunya teknologi, baik komputer, IT, dll, maka sarana untuk berkomunikasi semakin mudah. Kita tahu bahwa Marketing pada dasarnya adalah Communicationship dan Relationship, maka muncul model marketing baru karya Hermawan Kartajaya yakni New Wave Marketing Low Budget – High Impact.

The Nine Core Elements of Marketing di dalam Legacy Marketing terdiri dari:
Strategy : Segmentation, Tergeting, dan Positioning untuk memenangkan Mind Share.
Tactic : Differentiation, Marketing Mix, dan Selling untuk memenangkan Market Share.
Value : Brand, Service, dan Proses untuk memenangkan Heart Share.

Jadi konsep New Wave Marketing menerapkan pengembangan dari konsep Legacy Marketing dimana dunia marketing saat ini tidak bisa lagi tetap bertahan secara Vertikal, namun sudah menjadi Horisontal alias “Merakyat”

Segmentation --> Communitization
Targeting --> Confirming
Positioning --> Clarifying
Differentiation --> Coding
Marketing Mix --> Crowd Combo
Product  --> Co-Creation
Price  --> Currency
Place  --> Communal Activation
Promotion --> Conversation
Selling  --> Commercialization
Brand  --> Character
Service  --> Caring
Process  --> Collaboration

Sumber dari buku “New Wave Marketing” karangan Hermawan Kartajaya.

==================================================================
After read this article, please comment to show that you participated in this blog's growth and development.

Selasa, 18 Mei 2010

Sepuluh Kelirumologi Marketing

Salam
Dari Vinko Satrio Pekerti, kepada semua orang yang membaca artikel ini terutama semua awak Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kiranya terbuka wawasan dan pemahaman lebih terhadap dunia marketing bagi Anda sekalian.

Kesalahpahaman tentang Marketing
Bagi sebagian orang—atau bahkan mungkin sebagian besar—yang memiliki sedikit atau tanpa pengalaman nyata marketing sama sekali menganggap marketing sebagai studi tentang penjualan (selling). Mereka yang memiliki pengalaman profesional atau pengalaman akademis saja memandangnya sebagai marketing mix: product, price, place, dan promotion. Terlebih kesempitan cara pandang tersebut diperparah dengan ‘salah tafsir’ bagi para pelaku marketing yang baru (fresh graduate) yang tiba-tiba harus mengalami perpindahan dunia, dari dunia akademisi ke dunia para praktisi yang sekarang sangat dipenuhi chaos atau turbulensi—menjadikan semua ilmu yang dipelajari di kampus atau dimanapun seolah tak banyak membantu.
Sejauh ini—merunut dari apa yang pernah dibicarakan Hermawan Kartajaya pada penulis—ada sepuluh kekeliruan terhadap marketing yang disebut “Sepuluh Kelirumologi Marketing” yang masih melanda semua orang yang terlibat di dalamnya.

Keliru #1  Marketing = Selling = Persuasion = Cheating
Pemasaran itu bukan sekadar penjualan (selling), tetapi membuat pelanggan selalu berpikir tentang kita, membuat pelanggan jatuh cinta kepada kita. Sebelum jatuh cinta, tentunya kita harus membuat orang itu percaya kepada kita terlebih dahulu. Kepercayaan orang adalah fondasi dasar dalam berbisnis. Semakin percaya orang itu pada kita, maka semakin mereka bersedia menyerahkan segalanya kepada kita. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti ini, integritas justru semakin penting. Ketika orang semakin meragukan banyak hal, maka kecakapan, profesionalitas, dan yang terpenting, kejujuran, akan menjadi hal yang dibutuhkan.

Keliru #2  Marketing = Promotion = Advertising = Bullshit
Di era keterbukaan ini, perusahaan tidak bisa lagi membual kepada pelanggannya. Informasi tidak bisa berjalan satu arah, dari perusahaan ke pelanggan lagi seperti dulu. Mereka sudah menjadi lebih kritis, tidak akan menelan begitu saja apa-apa yang diiklankan. Tiap produk saling berlomba jurus “kecap saya nomor satu”. Iklan pun jadi kurang dipercaya. Pelanggan akan lebih percaya pada omongan sohib-nya atau bahkan orang yang baru saja dikenal, yang penting sesama pelanggan, karena informasi ini relatif lebih jujur, apa adanya.

Keliru #3  Marketing = MLM = Motivational = Pushing
Tidak semua Multi-Level Marketing (MLM) jelek. Akan tetapi, ada persepsi di kalangan masyarakat bahwa orang MLM seringkali cuma bisa memaksa ketika jualan atau mengajak bergabung. Mereka sering lupa bahwa tidak semua konsumen atau calon frontline/downline sama dan bisa ditawari dengan cara sama. Tidak bisa disalahkan karena banyak MLM yang cuma memotivasi orang-orangnya tanpa diajarkan MARKETING yang sesungguhnya. Jadinya, sering kali over-motivated, tetapi tidak punya strategi (under-strategized). Jeleknya lagi, sering kali MLM yang seperti ini yang dianggap marketing. Padahal, MARKETING mengajarkan kita untuk menjadi ‘kekasih’ pelanggan satu demi satu dan menawarkan produk yang betul-betul diperlukan oleh mereka.

Keliru #4  Marketing = Price War = Discount = Buying More
Sering kali untuk bersaing, perusahaan hanya menawarkan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah. Dampak sistemiknya, pesaingnya lalu ikut-ikutan menurunkan harga. Akibatnya, persaingan berdarah-darah1) tidak terhindarkan dan malah bisa memicu kehancuran perusahaan-perusahaan tersebut. Revenue yang diperoleh akan semakin menurun sampai tidak bisa lagi digunakan untuk menutup cost yang dikeluarkan. Selain itu, kita juga mengajarkan pelanggan kita untuk menjadi tidak loyal dan malah jadi switcher alias tukang selingkuh yang bisa pindah ke lain hati karena harga yang lebih murah.

Keliru #5  Marketing = Packaging = Covering = Illusion
Marketing sering disalahartikan sebagai memberi nuansa context pada produk sehingga sering dianggap sebagai kemasan yang menutup-nutupi kelemahan produk itu. Akibatnya orang berpikir bahwa produk jelek bisa laku asal kemasannya bagus. Padahal inti dari Marketing adalah diferensiasi, terdiri dari keunikan context, content, dan infrastructure. Context yang diantaranya termasuk kemasan hanyalah salah satu bagian. Content produk juga harus bagus dan harus ada infrastructure yang mendukung diferensiasi. 2)

Keliru #6  Marketing = Naming = Logo-ing = Designing
Marketing jangan dipahami sebagai proses yang cukup memberi nama, mendesain logo, dan memasangnya pada gedung kantor, produk atau alat komunikasi pemasaran perusahaan yang bersangkutan. Memang, jika berbicara tentang marketing tidak bisa dilepaskan dari sebuah identitas yang jelas. Namun, identitas yang jelas juga berarti adanya karakter dalam cara berinteraksi dengan pihak lain, seperti pelanggan, pemegang saham, pemasok, distributor, karyawan, bahkan juga pesaing. Nama dan logo hanyalah penggambaran dari karakter tersebut.

Keliru #7  Marketing is just for product
Marketing tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual mereka, layanan, ketersediaan barang di pasar, dan lain-lain. Marketing juga bukan sebuah aktivitas yang dimiliki oleh perusahaan yang jualan produk saja. Marketing juga bisa diterapkan pada lingkup yang lebih luas: pemerintahan, yayasan publik, sekolah, daerah, bahkan ada istilah ‘jual diri’ alias Marketing Yourself. Siapa pun dan organisasi apapun, asalkan punya pesaing dan pelanggan, perlu marketing.

Keliru #8  Marketing is just for customer
Perusahaan mempunyai tiga stakeholder utama: Pelanggan yang menggunakan jasa atau produk yang ditawarkan perusahaan, Pemegang Saham yang menenamkan modalnya ke perusahaan, dan Karyawan perusahaan itu sendiri. Maka, pasar bukan hanya commercial market atau pelanggan itu sendiri, melainkan ada dua pasar lain yang vital juga: capital market dimana perusahaan bersaing mendapatkan modal dan competency market dimana perusahaan bersaing untuk mendapatkan karyawan yang berkualitas.

Keliru #9  Marketing is just for a department
David Packard dan Bill Hewlett, yang mendirikan Hewlett-Packard (HP), pernah berujar, “Marketing is too important to be entrusted by Marketing Department”. Marketing seharusnya bukanlah menjadi nama sebuah departemen bagian dalam sebuah organisasi, melainkan harus menjadi disiplin setiap orang dalam organisasi. Everyone must be a marketer and become everyone’s soul. Konsep pemasaran harus menjadi ‘konsep payung’ untuk setiap proses lintas fungsional, ‘konsep direktif’ untuk sang direktur, dan ‘konsep profit’ untuk seluruh stakeholders.

Keliru #10  Marketing is just for big companies
Perusahaan kecil justru harus lincah bergerak setiap saat. Mereka harus berpikir secara cerdik dan berani mengambil langkah-langkah yang berbeda dari kebiasaan umum agar tetap survive. Jika sudah besar pun, tetaplah berpikir seperti perusahaan kecil. Itu akan membuat perusahaan melakukan marketing lebih lincah. Jika sudah menjadi nomor satu, tetaplah berpikir bahwa kita masih nomor dua.

Penutup
Sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi, kekeliruan-kekeliruan di atas yang pernah melanda orang-orang yang penulis temui dan malah sering alami, membuat nama Marketing menjadi sesuatu yang jelek. Karena itu, penulis sangat merekomendasikan setiap orang yang membaca artikel ini untuk tidak hanya duduk manis mendengarkan ilmu-ilmu konvensional tanpa mau mempraktekkannya atau berusaha mencari sumber-sumber pembelajaran yang lebih valid digunakan di dunia nyata. Semoga tulisan ini bisa membantu Anda sekalian memahami marketing yang sebenarnya dan semakin mendekatkan diri pada kebenaran yang sejati. Salam Sejahtera Bagi Kita Sekalian. Amin.

Dikutip dari tulisan Hermawan kartajaya di buku Marketing On The Church


***

1) Merujuk pada isi buku Red Ocean Strategy yang menggambarkan pertarungan para pelaku bisnis yang saling merugikan pada akhirnya nanti. Untuk mengetahui solusi menghindarinya baca juga buku Blue Ocean Strategy.
2) Peristiwa yang bisa dijadikan contoh penyalahgunaan kesalahpahaman marketing yang sukses adalah adanya gerakan pencekalan buku komik Naburo di beberapa situs jejaring sosial (ex: facebook) yang oleh para penentangnya, termasuk penulis sendiri, dicap sebagai karya plagiat dari Naruto yang paling berpengaruh terhadap semakin jeleknya cap indonesia sebagai negara plagiatis. Anehnya, buku ini lolos dari pengawasan dan malah semakin bertambah jumlah pendistribusiannya.

Selasa, 30 Juni 2009

Referensi Pilpres 2009 – 2: The Battle of Character

Dunia sudah berubah dan benar-benar menjadi horisontal, sehingga untuk menjadi orang nomor satu, entah presiden atau perdana menteri, pendekatan ‘battle of brand’ sudah menjadi kuno! Para kandidat pemimpin negara sudah saatnya harus masuk dalam suatu era ‘battle of character’. Jurnalis dan penulis buku Glenn Smith pernah berkata:

“Advertising and Marketing gurus hve so successfully established the importance of ‘brand’; that we in the political sphere often lose sight of the real core of political argument: character. The distinction is not trivial. Brand is about a list of facts or attributes. It’s character (that) people use in sizing up strangers, checking in on friends, weighing the merit of a politician.”

Pendeknya, brand is nothing without character! Kalau mau membangun brand gampang sekali, pasang saja nama kita di koran beroplah besar dan jangkauan luas, maka brand kita akan menuai ‘instant awareness’. Sekalian saja dibumbui gagasan ‘penuh bunga’ dan statement ‘kecap nomor wahid’. Dijamin deh, akan cepat naik, dan cepat juga dilupakan. Di sisi lain, membangun karakter tidak bisa seperti karbitan belaka. Karena karakter adalah intangible asset krusial (atau bahkan paling krusial) bagi politisi yang pembetukannya melalui proses akumulasi.

Bagaimana karakter para capres kita?

SBY sebagai incumbent menunjukkan karakter yang tenang, tidak buru-buru, semua harus dipikir secara matang dan hati-hati.

JK menunjukkan karakter tipikal sebagai entrepreneur sejati yang maunya adalah get things done as soon as possible yang tercermin dari tagline kampanyenya ‘lebih cepat, lebih baik’.

Mega mencoba mengusung karakter kerakyatan yang dulu pernah menjadi citra partai PDI-P sebagai partainya wong cilik.

Coba kita perhatikan dan analisa lebih mendalam:

Pertama, apakah karakter yang ditunjukkan para capres memang valueable atau berarti pada kita?

Kedua, apa benar karakter yang diusung oleh setiap capres merupakan karakter yang otentiknya yang tidak dibuat-buat semata-mata untuk memenangkan pemilu mendatang?

Ketiga, apakah para capres tersebut didampingi oleh cawapres yang sejalan karakternya?

Keempat, seandainya karakter para cawapres tersebut memang sejalan dengan para capres pasangannya, apakah karakter para cawapres tersebut adalah memang karakter otentik yang memang merupakan DNA-nya?

Semakin banyak jawaban ya yang kita berikan, maka mungkin itulah capres yang akan kita pilih dengan asas ceteris paribus.

INGAT! BUKANLAH SEBERAPA HEBAT SEORANG KANDIDAT BISA MENYERANG ATAU MENJELEK-JELEKKAN PESAINGNYA, NAMUN LEBIH PADA REPUTASI NYATA DARI KANDIDAT ITU SENDIRI.

Artikel terkait di www.markplusclub.com

Referensi Pilpres 2009 – 1: Six Pillar of Characters

Baru-baru ini Indonesia Political Marketing Research (IPMR) mencoba melakukan studi mengenal karakter setiap calon presiden. Studi ini didasarkan pada Six Pillar of Character dari Joshepson Institute. Dimensi Six Pillar of Character itu adalah:

Trustworthiness, dengan simbol Think True Blue, adalah orang yang jujur, tidak suka berbohong, memiliki kebernian melakukan hal yang benar, dan loyal terhadap keluarga, teman, bangsa, dan negara.

Respect, dengan simbol Think The Golden Rule, adalah orang yang memiliki toleransi terhadap perbedaan, memiliki sikap dan tutur kata yang baik, orang cinta damai, dan tidak suka melukai perasaan orang lain.

Responsibility, dengan simbol Think as Being Solid and Reliable Like a Green Oak Tree, adalah orang tekun dan tidak mudah menyerah, selalu melakukan yang terbaik, disiplin, berpikir sebelum bertindak dan bertanggung jawablah atas keputusan yang telah diambil.

Fairness, dengan simbol Think of Dividing an Orange into equal sections to share fairly with friends, adalah orang yang taat terhadap norma dan kaidah berlaku, menghormati hak orang lain, memiliki cara pikir yang terbuka, tidak mengambil keuntungan dari orang lain, dan tidak mudah menyalahkan orang lain secara serampangan.

Caring, dengan simbol Think of a Red Heart, adalah orang yang selalu bersikap baik, memiliki rasa belas kasih dan peduli, suka memaafkan dan membantu orang lain.

Citizenship, dengan simbol Think Regal Purple as Representing The State adalah orang yang aktif berkontribusi kepada masyarakat disekitarnya, bangsa dan negara, terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, taat hukum dan peraturan perundangan, menghormati otoritas kenegaraan dan peduli dengan lingkungan.

Tentu saja studi yang mereka lakukan tidak merefleksikan seluruh pemilih di Indonesia. Studi ini secara terbatas memotret karakter setiap capres yang akan bertarung pada Pilpres 2009. Harapannya adalah siapapun nanti yang terpilih pada pemilu 2009 ini adalah putra terbaik bangsa dan siapapun yang anda pilih pada tanggal 8 Juli 2009 nanti merupakan pilihan terbaik menurut anda. Selamat Menyontreng!

Artikel terkait di www.markplusclub.com