Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Straight Kanan Mahathir Mohamed untuk Negara-Negara Eropa

Siapa yang tidak kenal Mahathir Muhamed? Dialah mantan perdana menteri negara tetangga kita, Malaysia. Biar gak penasaran terus sama orangnya, ini gambarnya dia sekarang, gan! Udah uzur yak?



Dan kali ini saya akan berbagi artikel tentang komentarnya yang menohok tulang rusuk, sampai sudu'en (orang jawa pasti tahu istilah ini), keras, dan tepat di ulu-ulu hati negara-negara di kawasan eropa. Intinya simpel aja sih: "Hei lu eropa pada! Udah deh, nggak usah kebanyakan gaya, sok pamer kuat atau tajir. Saatnya hadapi kenyataan kalo lu miskin pada!"

Ngakak bener gan, ketika membaca artikel ini. Nggak usah tunggu lama, artikelnya bisa dilihat di sini



And now, please say goodbye to the strong European Countries we all knew~~

Hidup Asia! Hidup Indonesia juga!

Senin, 29 Agustus 2011

Daftar Waralaba Jasa Kurir, Laundry, dan Tour&Travel Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang Jasa Kurir, Laundry, dan Tour&Travel yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Hiburan Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang hiburan yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di :

http://www.ziddu.com/download/16215061/DaftarWaralabaMinimRisikoHiburan.docx.html

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Otomotif Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang otomotif yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Kesehatan dan Kecantikan Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang kesehatan dan kecantikan yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Retail Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang retail yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Makanan-Minuman Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang kuliner (makanan dan minuman) yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Minggu, 28 Agustus 2011

Memilih Usaha Waralaba Minim Resiko

Usaha-usaha dengan konsep waralaba berkembang pesat, di kota besar maupun di daerah. Hal ini disebabkan oleh mudahnya menjalankan usaha jenis ini, tak peduli berapa pun umur pihak terwaralabanya. Masih teringat di benak saya dulu sewaktu pertama kali masuk kampus, sekitar 3 tahun yang lalu, sedang booming status kewirausahaan di kalangan anak-anak muda. Sekarang, kalau ada anak muda bisa sukses berusaha sendiri, hal itu sudah lumrah malahan harus, karena dinilai oleh masyarakat bahwa semangatnya masih menyala-nyala. Namun lain halnya kalau sudah berusia 50+, yang notabene sering terkena post power syndrome atau lebih memilih untuk bersantai-santai setelah hampir separuh abad bekerja keras.

Beberapa pengamat yang berhubungan dengan usaha waralaba menyarankan beberapa hal, antara lain yang paling penting adalah kita harus mencari info dulu sebelum membeli merek, usaha sesuai minat agar menjalankannya dengan sepenuh hati, usaha terkait kebutuhan manusia sehari-hari, dan sebagainya. Jika dirangkum secara komprehensif, maka akan kita dapatkan guidelines sebagai berikut:


Sepuluh Kriteria Waralaba Yang Layak Dipilih dan Minim Risiko:

1. Usaha waralaba telah berumur lebih dari 5 tahun.
2. Memiliki lebih dari satu cabang dengan pembukaan gerai yang tidak terlalu ekspansif.
3. Terbukti menguntungkan, bisa dicek apa semua mitra happy dan tidak ada yang tutup.
4. Memiliki struktur organisasi yang lengkap.
5. Pemilik merek (pewaralaba) memiliki jurus-jurus marketing plan tahunan.
6. Memiliki brand yang kuat dan dikenal masyarakat luas.
7. Mudah dijalankan dan bisa dijalankan oleh siapa saja tanpa perlu keahlian khusus.
8. Bukan bisnis musiman sehingga bisnisnya berumur panjang.
9. Pewaralaba memberikan support penuh bagi Terwaralaba/Mitra (pembeli merek), baik bahan baku, pelatihan, promosi, hingga kunjungan ke gerai Mitra.
10. Memiliki Standard Operating Procedure (SOP), dan sistem komputerisasi yang terhubung anntara Mitra dan Pewaralaba secara online dan terbuka.



Nah, kini pertanyaannya adalah, usaha-usaha macam apa saja yang cocok dijalankan oleh kebanyakan berusia 50+ tahun?

1. Retail/Minimarket adalah salah satu contohnya, apalagi yang mereknya dikenal luas. Contoh: Alfamart, Indomaret
2. Kuliner juga bisa dijadikan pilihan. Namun jangan terjebak karena murahnya investasi yang ditawarkan, apalagi yang dapat dibilang usaha musiman. It’s high risk, man! Lebih baik anda membuka restoran dengan sajian makanan padang, sunda, mie, bakso, hingga kedai kopi yang menjanjikan usaha yang lebih tahan lama.
3. Usaha yang bersifat mulia dan membantu sesama, seperti apotek, klinik laboratorium, dan biro perjalanan haji dan umroh.
4. Salon kecantikan dan hiburan, seperti karaoke dan game center. Asalkan punya lokasi yang strategis seperti mal, pusat perbelanjaan atau berada di pinggir jalan, ruko dan dekat kompleks perumahan.
5. Laundry (pick up point), ticketing, atau jasa kurir, jika lebih ingin menjalankan usaha dari rumah.

Mau dapat info-info kontak ringkas mengenai ragam waralaba minim risiko tersebut? Anda bisa melihatnya pada postingan berikutnya. Stay Tuned! :D
_____________________________________________________
Sumber: Tabloid Waralaba Edisi Khusus, Edisi 003 Tahun III 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Value Enhancer - Transformational Service

Pada umumnya, service sering diartikan sempit sebagai sebuah bentuk pelayanan setelah pembelian. Mungkin karena sebagian hidup kita harus menservis motor tiap bulan kali ya? Nah, mau tahu tingkatan-tingkatan service yang oleh kalangan akademisi sering disebut sebagai Value Enhancer? Ayo kita simak dulu ulasan singkat yang sangat ringkas ini.

Berdasarkan penggabungan konsep buku-buku literatur kuliah manajemen dengan buku kontemporer dari Hermawan kartajaya, ada tiga jenis tingkatan service, yaitu Excellent Service, Experiential Service, dan Transformational Service. Harap diingat bahwa manfaat dari service adalah menjadi penambah daya saing atau nilai produk, karena meningkatkan kadar diferensiasi dan menjauhkan diri dari komoditisasi yang kelak akan dapat menjebak kita dalam price war.

Oke, langsung saja kita membahas tiga tingkat service tersebut:

1. Excellent Service

Konsep “pelayanan yang sempurna” ini banyak mengacu pada standar RATER (Reliability, Assurance, Tangible, Empathy, dan Responsiveness).
Manakala penyedia service telah mampu memenuhi standar RATER ini, apakah yang harus dilakukan? Kita harus memberikan service yang mampu menghasilkan diferensiasi yang lebih tinggi, yaitu Experiential Service.

2. Experiential Service

Merupakan tingkatan service yang sangat menyentuh dan sangat berbeda / unik dirasakan oleh pelanggan dengan kegiatan yang bisa menstimulasi lima panca indera (5 senses) anda begitu pelanggan masuk ke service stage. Berikut adalah ilustrasi modul stratejik experiential service dari buku Customer Experience Management, karangan Bernd Smith.



Contoh: Bagaimana pelayanan hotel dulu dibandingkan dengan sekarang?

3. Transformational Service
Merupakan service yang mampu memberikan solusi secara total atas masalah pelanggan; solusi atas produk-produk yang anda tawarkan. Bukan hanya memunculkan perasaan exciting saja sebagai tujuannya, namun lebih dari itu, Transformational Service ingin menghadirkan kesadaran dalam diri pelanggan. Intinya, Transformasi harus membuat Berubah.

Jadi, Transformational Service itu sifatnya sangat personal / pribadi. Ada pelanggan yang ter-transformasi setelah mengkonsumsi sebuah produk, namun ada juga yang menjadi manusia yang sama meskipun telah mengkonsumsinya berkali-kali. Semua hal yang telah disebutkan di atas merupakan sebuah introductional dari Transformational Service dimana Experiential Marketing dipakai sebagai basis fondasinya.

Kamis, 17 Februari 2011

Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Terakhir)

Kesimpulan

Di antara negara-negara BRIC yang ada, tampaknya pilihan Indonesia untuk berfokus pada kerja sama dengan Cina adalah pilihan yang tepat. Selain dapat menjadi benchmarking yang tepat, mengingat beberapa kesamaan modal kekuatan untuk bersaing di pasar global, kerjasama ASEAN dengan Cina sudah menjadi langkah awal yang sangat bagus, dimana Indonesia menjadi leader dari ASEAN itu sendiri. Bank Mandiri yang melihat peluang itu, bahkan mengadakan beberapa forum bersama serta mengajukan positioning dirinya agar menjadi ujung tombak Indonesia adalah keputusan yang berani dan patut diacungi jempol.

Namun, dalam usaha menjadikan Indonesia sebagai negara pelengkap BRIC tersebut, terdapat beberapa persyaratan atau masalah yang harus dibenahi terlebih dahulu. Masalah-masalah kali ini lebih terkait pada bidang legalitas/hukum perbankan di negara ini yang peraturannya terlalu longgar jika dibandingkan dengan Cina, bahkan Malaysia yang menjadi tetangga terdekat kita. Hal ini sangat penting untuk membangun wibawa dalam mengikat kerjasama lebih lanjut dengan negara-negara internasional lainnya, tidak hanya dengan Cina. Selain itu, juga agar bank lokal lainnya bisa sedikit bernafas lega dan mampu untuk berkonsentrasi membangun keunggulan kompetetifnya masing-masing berlandaskan ideologi yang sama, yaitu untuk melebarkan sayap ekspansinya ke luar negeri.

Bank Mandiri tidak bisa begitu saja dibiarkan berusaha sendiri dan menjadi single-fighter dalam kampanye menuju BRIC ini. Pemerintah, dalam hal ini Gubernur Bank Indonesia, harus lebih mempunyai komitmen, rencana, dan tindakan yang jelas untuk mulai memperketat peraturan perbankan di negara kita. Dominasi ekspansi asing dalam hal kepemilikan saham mayoritas harus dibatasi dan diawasi dengan ketat. Sebab jika tidak diawasi dan dibatasi kepemilikannya, maka bisa terjadi praktik-praktik kepemilikan mayoritas yang tidak berlandaskan asas saling mengawasi. Mungkin pembatasan seperti yang dilakukan di Cina dan Malaysia bisa ditiru, mengingat kedekatan dan beberapa kesamaan yang dimiliki. Sudah saatnya Indonesia juga bisa berdiri sejajar dalam posisi tawar-menawar ekspansi dengan negara lain, seperti yang sudah ditunjukkan oleh Wapres Boediono yang berhasil membantu Bank Mandiri beroperasi secara penuh di Shanghai, Cina.

Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Kedua)

Overview Situasi dan Kondisi

Di bawah kepemimpinan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri saat ini, Bank Mandiri mendeklarasikan kesiapannya sebagai salah satu ujung tombak bagi Indonesia untuk bisa memajukan kerja sama internasional. Salah satunya dengan bergabung dalam China-ASEAN Interbank Association (CAIBA) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan peran Bank Mandiri di kawasan ASEAN. Dengan membuka peluang bisnis dari kawasan ASEAN dan Cina ke Indonesia, diharapkan akan sejalan dengan langkah strategis Mandiri yang ingin menjadi top five di tahun 2014 dan top three bank ASEAN di tahun 2020 dan mempunyai cabang di dunia internasional lebih banyak lagi.

Salah satu tembok terbesar yang harus dihadapi Bank Mandiri adalah penetrasi pasarnya ke negeri tirai bambu, Republik Rakyat Cina, yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi raksasa yang tergabung dalam The Big Four yang siap untuk mengungguli kedigdayaan Amerika Serikat. Apalagi letak geografis dan pertumbuhan perekonomian Indonesia menjadi kawasan strategis yang mempunyai pengaruh secara politik kedua negara ini, Amerika Serikat dan Cina. Namun akhir-akhir ini, kerjasama bilateral strategis antara ASEAN dengan Cina menjadi prioritas utama bagi Indonesia, dan paling tidak ini juga bisa menjadi salah satu kesempatan bagi Bank Mandiri untuk memantapkan positioningnya sebagai wakil perwujudan Indonesia di dunia perbankan internasional. Dan sekali lagi, dengan menjejakkan kaki bisnisnya ke Cina, itu akan menjadi sebuah langkah yang sangat signifikan.

CAIBA merupakan inisiatif bersama antara China Development Bank (CBD) dengan bank utama di wilayah ASEAN untuk meningkatkan kerjasama perbankan Cina dan negara-negara ASEAN dalam membayai pembangunan infrastruktur di negara-negara ASEAN. Tentu saja yang diharapkan oleh Bank Mandiri adalah perkembangan kerjasama yang baik antara perbankan Indonesia dan Cina dalam menyalurkan pembiayaan yang produktif.
Sebenarnya sejak tahun 2003, dimana waktu itu E.C.W. Neloe masih menjabat sebagai Presiden dan CEO Bank Mandiri, telah dilakukan pembukaan kantor perwakilan luar negeri yang berada di Shanghai, Cina. Kantor tersebut diplot untuk bisa memfasilitasi pertukaran informasi dalam bidang perdagangan dan kesempatan berinvestasi antara dua negara ini. Dan aktivitas itu akan melibatkan dari tingkat individu-individu sampai dengan tingkat korporasi.

Sebenarnya Bank Mandiri telah memiliki kantor cabang di Cina sejak 2007, namun operasionalnya masih terbatas dan tidak bisa memiliki hak untuk meningkatkan pembiayaan pihak ketiga di Cina. Kondisi itu juga tidak bisa dikatakan sebagai kondisi yang sempurna bagi Bank Mandiri untuk menjadi jembatan kedua negara menjalin kerjasama secara langsung. Jika saja operasi kantor cabang itu dibuka sepenuhnya dan tidak dibatasi oleh hukum bisnis yang ketat di sana, maka akan tercipta sebuah kondisi penuh keuntungan dimana Bank Mandiri akan memiliki akses cepat dan langsung ke pasar bisnis Cina.

Keinginan Bank Mandiri yang tampaknya sangat sulit diwujudkan tersebut mulai mendapat angin segar ketika Wakil Presiden Boediono berinisiatif meminta Cina izinkan Bank Mandiri membuka cabangnya secara full-fledged. Pada kunjungan kenegaraannya ke Beijing 17-21 Oktober yang lalu, Boediono sekaligus mengingatkan Perdana Menteri Cina, Wen Jiabau, untuk mempertimbangkan kembali pembukaan kantor cabang operasional Mandiri sebagai ganti telah memberikan kelonggaran bagi pembukaan cabang Bank of China di Jakarta.

Akhirnya pada 3 November 2010, China Banking Regulatory Commision (CBRC) mengizinkan Bank Mandiri untuk membuka kantor cabang operasional yang bersifat total operasionalnya di Shanghai. Pada tahun-tahun sebelumnya, Bank Mandiri sangat sulit untuk membuka kantor cabang operasional di Cina karena izin yang ketat. Untuk itu Bank Mandiri harus menyiapkan dokumen-dokumen berisi prosedur pendirian kantor cabang operasional sesuai peraturan yang berlaku di Shanghai dan menyampaikan aplikasi business permit operasional perbankan kepada CBRC. Kantor cabang ini direncanakan akan beroperasi pada semester pertama tahun 2011 untuk melayani aktivitas perbankan, seperti penghimpunan dana korporasi, penyaluran kredit korporasi, transaksi perdagangan ekspor impor dan remittance. Dan kesuksesan pendirian cabang di Shanghai inilah yang melengkapi jaringan cabang internasional Bank Mandiri di tujuh negara di tiga benua.

Pasca mengantongi izin dari otoritas perbankan Cina tersebut untuk mengizinkan operasi kantor cabangnya secara penuh, Mandiri segera memperkuat ekspansi bisnisnya dengan menggandeng Industrial and Commercial Bank of China Limited (ICBC), yang merupakan bank terbesar di Cina dan peringkat ketigabelas dunia. Bentuk kerjasama tersebut berupa dukungan ICBC terhadap kantor cabang Mandiri di Shanghai dalam bentuk Renminbi Settlement dan Treasury. Dan sekali lagi, tujuan kerjasama Bank Mandiri kali ini adalah untuk memastikan bahwa hubungan bisnis antara Indonesia dan Cina dapat meningkat dan tumbuh lebih baik lagi.

Lebih jauh lagi, terkhusus untuk kantor cabang di luar negeri, Bank Mandiri berencana menambah kantor cabang internasional di Malaysia dari enam outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang, menjadi lima belas di tahun 2011. Rencana ini padahal bisa terlaksana pada akhir tahun 2010. Namun lagi-lagi karena terkendala aturan dari Bank Sentral Malaysia, penambahan kantor outlet ini pun harus ditunda. Dan sampai sekarang belum diketahui apa alasan Bank Sentral Malaysia menundanya.
Padahal di negeri jiran ini, potensi pasar yang didominasi oleh TKI ini masih besar dan tidak hanya terpusat di Kuala Lumpur. Mandiri bermaksud untuk lebih merambah daerah sekitar yang masih belum tergarap dengan merencanakan membuka cabang penuh di sana, tapi salah satu persyaratan sulit untuk mendapat izin membentuk kantor cabang penuh adalah bermodalkan 300 juta ringgit.

Analisa Situasi dan Kondisi

Pertama-tama yang patut diperhatikan adalah tentang adanya situasi tawar-menawar antara Boediono dengan PM Cina, yang ada hubungannya dengan asas legal dan kerjasama bilateral. Pertimbangan lainnya yang ada selain “politik balas jasa” di sini yaitu jika ingin mempererat hubungan antar negara maka hendaknya bisa menciptakan sebuah sistem yang mempercepat perdagangan bilateral-swap. Jadi aktivitas bisnis internasional antara Indonesia dengan Cina bisa langsung dengan menggunakan mata uang yuan dan rupiah tanpa harus melalui penukaran mata uang dolar amerika. Dengan demikian kerjasama bilateral yang lebih intim akan terjamin dan kemungkinan bagi Indonesia untuk segera menancapkan salah satu kekuatannya ke lingkaran BRIC akan semakin besar. Walaupun untuk itu, kelonggaran peraturan bisnis yang ada harus dilandasi dan dipengaruhi oleh adanya pertukaran kepentingan antar pemerintah dan politik luar negeri.

Kedua, yang menjadi keprihatinan bersama dalam negeri yang sangat menghambat ekspansi banyak perusahaan Indonesia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri, adalah perbedaan ketat tidaknya peraturan yang kita miliki jika dibandingkan dengan peraturan di luar negeri. Memang banyak jenis industri yang mengalami hal serupa, namun makalah ini akan lebih memfokuskan pada masalah di industri perbankan.
Indonesia adalah salah satu dari tiga negara, selain Korea Selatan dan Argentina, yang memiliki keterbukaan berlebih dalam sistem perbankannya Banyak sekali bank asing yang dengan derasnya masuk ke Indonesia, dan terlihat sangat mudah untuk berekspansi ke negeri ini, baik itu melalui pembukaan cabang secara normal atau melalui persentase kepemilikan di beberapa perusahaan strategis. Di negeri ini bank asing bisa memiliki 99 persen saham untuk dimiliki.

Namun, keterbukaan yang diterapkan di Indonesia ini tidak berlaku sebaliknya di luar negeri. Dan hal ini sangat menyulitkan bank-bank nasional, yang ironisnya juga harus bertahan mati-matian untuk mengembangkan daya saingnya dari gempuran luar negeri, untuk melakukan ekspansi yang sangat sering dikeluhkan dan menjadi tantangan terberat mereka. Dari kasus Bank Mandiri di atas kita bisa melihat adanya kesulitan yang dialami mereka untuk melakukan ekspansi secara penuh di Cina dan Malaysia, dimana mereka selalu terbelit-belit dengan masalah peraturan maupun Memorandum of Understanding (MoU).

Banyak izin berlapis-lapis harus dipenuhi pihak Bank Mandiri untuk membuka cabang di Cina, dan itu juga masih belum langsung bisa melaksanakan transaksi Reminbi. Sedangkan di Indonesia tidak ada izin berlapis setebal dan sekokoh itu. Mereka bisa mengumpulkan dana dari masyarakat, melayani transaksi valas, menyalurkan kredit, dan sebagainya. Yang amat disayangkan adalah sebanyak 49 persen saham sepuluh bank besar di Indonesia dikuasai asing, kecuali Bank Mandiri dan BCA.

Bank sentral kita juga memberikan kemudahan bagi investor asing untuk membeli bank-bank lokal tanpa harus menyuntik modal hingga tiga triliun rupiah. Bank-bank yang dimiliki asing tersebut juga mendapatkan perlakuan yang sama dalam berekspansi. Kondisi ini menguatkan predikat Indonesia sebagai tamu asing di negerinya sendiri, sebuah ironi di atas berbagai usaha yang dilakukan untuk memperkuat daya saing internasional perusahaan-perusahaan Indonesia di dunia internasional.

Jumat, 04 Februari 2011

Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Pertama)

Profil dan Perjalanan Bisnis Bank Mandiri

Bank Mandiri adalah salah satu bank swasta paling terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan perbankan untuk segmen bisnis korporasi, komersial, mikro-retail, consumer finance, serta perbendaharaan dan perbankan internasional. Bank Mandiri memiliki anak-anak perusahaan yang menopang lini bisnis utamanya, semacam Mandiri Sekuritas (jasa pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali, dan Mandiri Tunas Finance (jasa keuangan).

Bank Mandiri memiliki sebuah visi besar, yaitu menjadi satu-satunya bank yang paling dikagumi, paling progresif, dan paling terpercaya. Visi itu didukung oleh beberapa misi, yaitu menjadi bank yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, memberikan hasil dan keuntungan yang maksimal bagi para stakeholder, melaksanakan manajemen terbuka, dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Bank Mandiri pada awalnya merupakan merger dari empat bank pemerintah yang diselesaikan pada Juli tahun 1999, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Pembangunan Indonesia. Robby Djohan saat itulah yang menjadi nahkoda kepemimpinan di Bank Mandiri. Ia berkeinginan untuk menjadikan bank ini sekelas, bahkan melebihi, Citibank yang pada waktu itu tercatat sebagai salah satu bank terbaik di dunia internasional. Yang dimaksud adalah, operasional Mandiri harus disesuaikan dengan standar bank-bank terbaik di tingkat dunia, baik dalam kualitas pelayanan, produk-produk yang ditawarkan maupun sistemnya. Dan sejak awal, mantan bankir Citibank ini telah memilih positioning Mandiri sebagai retail banking, seperti Citibank dan BCA, yang waktu itu sudah memiliki posisi kuat dalam pasar retail dan consumer banking di Indonesia.

Namun, banyak juga tantangan yang harus dihadapi oleh Bank Mandiri, salah satunya adalah kondisi makro ekonomi yang saat itu sedang kacau balau akibat badai krisi dan kredit macet negara yang menumpuk. Selain itu, mengubah karakter asli dari yang semula adalah corporate banking menjadi retail banking juga tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu dikarenakan kultur perusahaan yang sebelum terjadi merger telah terbiasa menangani perusahaan-perusahaan yang berskala besar.
Cita-cita untuk menjadikan Mandiri bisa bersaing di level internasional dan global tersebut tidak berhenti begitu saja ketika Robby turun dari posisi tertingginya. Agus Martowardojo, bawahan sekaligus anak didik Robby yang pernah menempati Executive Vice President Manajemen Risiko Kredit dan Restrukturisasi saat Robby masih menjadi atasan, menjadi ahli warisnya yang mampu membawa perubahan signifikan pada Bank Mandiri.

Salah satunya adalah pencapaian pada semester pertama tahun 2009, tentang dana tabungan yang mencapai 97,1 triliun rupiah yang sudah tak jauh beda dengan pencapaian BCA yang mencapai 101 triliun rupiah pada Juni 2009. Sedangkan di bisnis kartu kredit, Bank Mandiri telah mencetak 1,6 juta sampai dengan kuartal ketiga 2009. Dan bisa dibandingkan dengan Citibank yang sudah bertahun-tahun menjadi raja kartu kredit di Indonesia, jumlah kartu yang diterbitkan baru 1,3 juta unit. Untuk memperkuat posisinya sebagai retail banking, Mandiri juga fokus melayani kredit UM-KM. Sampai September 2009, jumlah nasabah UM-KM mencapai 437.872 nasabah, dua kalinya tahun lalu. Sementara total penyaluran kredit bertumbuh 18,6% menjadi 25,51 triliun rupiah sampai September 2009.

Total aset bank Mandiri per September 2009 sebesar 365,5 triliun rupiah, naik 50 triliun rupiah dibandingkan tahun lalu. Yang patut diacungi jempol adalah tingkat rasio kredit bermasalahnya (NPL) menurun drastis berkat keberhasilan restrukturisasi kredit macetnya. Di akhir 2005, NPL bruto Mandiri mencapai 25,2% dan pada kuartal ketiga tahun 2009 hanya 3,8%. Angka itu sudah dibawah ketentuan maksimal Bank Indonesia yaitu sebesar 5%.

Selain dari data statistik finansial itu, perubahan juga terjadi pada struktur perusahaan yang diubah menjadi Strategic Business Unit (SBU) yang artinya setiap direktorat perusahaan harus berfokus pada value perusahaan. Lalu juga pada bagian roles and responsibility, ruang lingkup dan tanggung jawabnya menjadi berbeda. Kemudian ada juga perubahan sistem manajemen performanya, yang ditandai dengan pembaharuan Key Performance Indicator (KPI), cara evaluasi, targetnya, serta sistem reward yang menentukan tepat tidaknya seseorang menempati posisi tertentu.
Perubahan yang dibawa oleh Agus Martowardojo adalah perubahan yang bersifat substansial dan paling mendasar. Selain itu juga secara holistis dan menyeluruh, baik itu pada mindset maupun perilaku yang terjadi. Perubahan itu berkaitan dengan kultur perusahaan yang dikelola dan direformasi dengan baik oleh direktorat khusus bernama Change Management. Ia membuat anggota direksi menjadi cukup besar dan semuanya bekerja dengan sangat efektif. Selain itu, ia juga mengambil banyak karyawan profesional dari bank asing maupun beberapa konsultan yang ada. Dengan demikian, itu bisa membuat tata nilai di Bank Mandiri berubah banyak dan menjadi penuh dengan integritas. Ditambah dengan aspek Good Corporate Governance yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, keadilan, dan independensi, yang sudah diakui sejajar dengan penerapan GCG di perusahaan-perusahaan dalam Grup Astra.

Perubahan itu bermula pada tahun 2005, ketika dilakukan pengajian untuk menentukan arah bank ini dalam lima tahun ke depan. Hasilnya, diputuskan bahwa di tahun 2010 nantinya Mandiri sudah harus menjadi bank yang sudah menguasai pasar berlevel Asia Tenggara. Artinya, Mandiri juga harus bisa bersaing dengan bank di kawasan ASEAN seperti Maybank dari Malaysia, DBS dari Singapura, atau Bangkok Bank. Salah satu indikatornya adalah kapitalisasi pasar yang harus mencapai US$ 10 Miliar.
Perkembangan terakhir sejak bulan Desember 2010 kemarin, Bank Mandiri sudah memperkerjakan lebih dari 240 ribu karyawan di 1.296 cabang dan tujuh kantor perwakilan di luar negeri (Singapura, Hong Kong, Cayman Island, Timor Leste, Inggris, Malaysia, dan terakhir di Cina). Saluran-saluran distribusi pelayanan yang digunakan Bank Mandiri adalah 5.495 ATM milik sendiri, 14.822 ATM bekerja sama dengan jaringan bisnis LINK, 42.728 unit Electronic Data Capture (EDC), dan juga saluran-saluran elektronik seperti Internet Banking, SMS Banking, dan Call Center 14000.

Rencananya, Mandiri akan menambah jumlah cabang dengan total mencapai 520 unit. Ini terdiri dari 250 kantor cabang, 70 unit mikro dan 200 kios mikro. Sedangkan target kredit mikro tahun 2011 mencapai 11,4 triliun rupiah.

BRIC dan Indonesia

BRIC merupakan singkatan dari empat negara berkembang yang paling berpengaruh besar dalam skala perekonomian global, yaitu Brazil, Rusia, India, dan Cina. BRIC adalah istilah yang diperkenalkan Jim O’Neill sebagai bentuk antisipasi akan kemunculan negara-negara yang punya ukuuran perekonomian yang bisa menandingi ukuran perekonomian negara maju dunia, semacam Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.
Pada tahun 2001, Goldman Sachs, sebuah bank investasi internasional, menganggap bahwa Cina sangat memungkinkan untuk menjadi penguasa ekonomi global terbesar sebelum tahun 2030. Secara kolektif, kondisi ekonomi BRIC juga bisa saja mengungguli hasil output dari negara-negara kaya di Group of Seven—yang telah mendominasi manajemen ekonomi global—pada tahun 2032.

BRIC telah memiliki market share yang lebih besar daripada Amerika Serikat sendiri. Alasannya adalah Cina, yang menyumbangkan peran sebagai salah satu eksportir global terbesar tahun lalu, kemudian digabungkan dengan ekspor perangkat lunak dari India, kemudian ekspor minyak dan gas bumi dari Rusia, dan juga dominasi pasar agrikultur dari para petani yang super kompeten dari Brazil. Inilah yang sering membuat para investor global beranggapan bahwa BRIC tak ubah layaknya “The Promised Land” bagi mereka semua.

Indonesia sendiri sudah diperhitungkan oleh Goldman Sachs sebagai salah satu kelompok negara N-11, yaitu kelompok negara yang diperkirakan juga akan memiliki ukuran perekonomian yang akan bisa menandingi negara-negara terbesar dalam perekonomian versi tahun 2001, alias BRIC. Termasuk di dalamnya ada Korea Selatan dan Mexico yang juga memiliki performa perekonomian yang bagus dan juga berhasil menarik perhatian dunia. Namun N-11 sendiri bukan merupakan ukuran panduan investasi yang pasti dan menarik bagi para investor global, mengingat ada beberapa negara yang masih berjuang secara mencolok seperti Bangladesh juga masuk di dalam N-11. Dan itu juga masih bukan merupakan kebanggaan tersendiri untuk negara-negara yang ada di dalamnya. Tidak bisa ditawar-tawar lagi, untuk dapat menjadi pemain bisnis internasional yang tulen dan patut diperhitungkan secara pasti, usaha-usaha agar menjadi pantas mendampingi BRIC adalah harga mati.

Upaya mengaitkan Indonesia dengan BRIC sudah terjadi sejak pertengahan 2009 lalu, dimana pada saat itu Indonesia bukan hanya dapat meminimalisir dampak krisis keuangan global tapi juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Bulan Juli 2010 pun, Morgan Stanley yang merupakan pesaing dari Goldman Sachs tanpa ragu mengusulkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam tambahan BRIC pada tahun 2011, jika berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Namun, kali ini tantangan besar kembali diberikan oleh Goldman Sachs, bahwa Indonesia akan memenuhi syarat jika GDP-nya berhasil mencapai 3% dari GDP dunia. Tak pelak lagi, ini bagaikan sebuah bendera start yang sangat menjanjikan bagi Indonesia. Pelan tapi pasti, investor asing mulai menyerbu negeri kita ini, bahkan tidak peduli meski ada kegaduhan politik di penghujung tahun 2009 lalu.

Dalam suatu event bertajuk Bank Mandiri Economic Forum, Profesor Xavier Sala-i Martin yang adalah Ketua Penasehat Global Competitiveness Network dari Forum Ekonomi Global, sempat melontarkan pernyataan bahwa Indonesia mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan keempat negara BRIC tersebut. Dalam hal indeks daya saing global, Indonesia (ranking 44) memiliki posisi yang lebih bagus daripada Brazil (ranking 58), Rusia (ranking 63), dan India (ranking 51). Ia juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan devisa dan kapital yang lebih banyak untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya, walaupun masih ketinggalan jauh dengan Cina. Dalam hal infrastruktur, Indonesia menempati urutan keempat diatas india, jika dilakukan perbandingan dengan keempat negara tersebut.

Sementara itu terdapat beberapa fakta mengenai relasi bisnis internasional yang semakin bertambah erat antara Cina dengan Indonesia. Cina telah sejak lama menjadi investor terbesar di Indonesia sejak 1998; setelah Inggris dan Singapura. Cina adalah partner perdagangan Indonesia yang terbesar keempat, setelah Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Antara tahun 1999 dan 2003, total ekspor dari Indonesia ke Cina rata-rata tumbuh 16,8% per tahun. Di dalam sepuluh bulan pertama tahun 2003, total perdagangan antara dua negara ini mencapai US$ 5,49 miliar. Ekspor Indonesia sendiri mencapai US$ 3,04 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 2,45 miliar.

Senin, 13 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 2)

Sejarah Sang Maestro CSR Indonesia

William Soerjadjaja adalah kelahiran Majalengka pada 20 Desember 1923. Bersama dengan saudara kandungnya, ia membangun perusahaan bernama Astra pada tahun 1957. Jangan cepat ambil kesimpulan dulu, kalau sejak awal Astra adalah perusahaan otomotif. Pada awalnya Astra hanya bergerak di bidang minuman ringan dan ekspor hasil bumi dan tidak tertarik memperluas diversifikasi bisnisnya. Sampai pada tahun 1968, pemerintah orde baru pada kala itu meminta bantuannya untuk mendatangkan 800 unit truk chevrolet dari Amerika. Ketika sudah mulai dipergunakan aktif untuk program repelita yang mulai dilaksanakan besar-besaran kala itu, William mulai melirik sebuah kesempatan bisnis dalam bidang otomotif dan berusaha untuk mendapatkan hak ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) chevrolet Amerika. Namun, permintaannya ditolak mentah-mentah. Kemungkinan besar alasannya adalah, pihak chevrolet Amerika sendiri menilai bahwa sangat susah untuk merintis bisnis otomotif secara komersil kepada khalayak ramai di Indonesia yang daya belinya masih terbatas. Karenanya, mereka berasumsi bahwa itu adalah permintaan yang nekat dan bisa dikatakan William tak berpikir matang.

Tapi beliau tak mau menyerah begitu saja. Ia benar-benar melihat peluang masa depan yang benar-benar cerah dihadapannya. Karenanya ia beralih kiblat untuk mengambil hati Toyota yang bermarkas besar di Jepang. Dengan bermodalkan sejarah kesuksesan mendatangkan 800 unit chevrolet sekaligus, dan juga dibantu oleh mindset pebisnis Jepang yang disiplin dan stubborn dalam mengurus kesempatan bisnis apapun, beliau akhirnya berhasil menjadi ATPM Toyota di Indonesia. Dan pada tahun 1971, Astra berubah nama menjadi PT. Toyota Astra Motor (TAM) sebagai importir dan distributor kendaraan Toyota di Indonesia.

Bersama-sama dengan perusahaan saingannya yang pada waktu itu sudah membersihkan jalan pionir industri otomotif di Indonesia, PT. Indomobil Sukses Internasional, PT. Toyota Astra Motor mulai tumbuh menjadi raksasa otomotif di negeri ini. Salah satu produk khasnya yang menjadi trade mark perusahaan pada saat itu adalah jenis kijang yang proses produksi dan penelitian serta pengembangannya memang khusus ditujukan hanya pada karakter penduduk Indonesia yang senang kemana-mana bersama dengan sekeluarga. Maka dari itu, kita semua pasti masih ingat positioning mobil kijang sebagai mobil keluarga. Selain itu, Toyota Kijang yang dipromosikan oleh William memang sudah berkonsep mobil murah dengan harga terjangkau sesuai selera konsumen Indonesia kebanyakan.

Pertumbuhan yang sangat pesat ini tak pelak membuat keluarga cendana alias Pak Harto dan sanak familinya, tergiur ingin memiliki bagian hak kepemilikan saham Astra yang sudah berganti nama menjadi Astra Internasional ini. Tapi tentu saja, William menolak keinginan mantan presiden orde baru itu dan membuat mereka sekeluarga merasa geram. Kesuksesan perusahaan Astra juga tak bisa lepas dari campur tangan pemerintah otoriter pada saat itu yang kadang-kadang masih sensi dengan penolakan tersebut, sehingga justru kalau bisa bertahan sampai sejauh ini, berarti itu memang menunjukkan kualitas William Soejadjaja yang memang sangat berdedikasi dan visioner.

Namun, ia bukan tipe orang yang menyamakan keberhasilan Astra sebagai keberhasilan pribadinya. Beliau pernah berujar bahwa keberhasilan Astra adalah berkat kerja keras semua karyawan dan rahmat Tuhan, bukan semata-mata karena dirinya pribadi.
Beliau memiliki empat anak dari pernikahan beliau dengan ibu Lily Anwar. Edward dan Edwin yang lahir di Belanda serta Joyce dan Judith yang lahir di Indonesia. Kisah spektakuler kepahlawanan beliau dimulai dari salah satu kegagalan yang dialami anak pertamanya, Edwin Soerjadjaja. Semasa Astra masih menjadi milik keluarga Soerjadjaja, Edward adalah juga salah satu pemegang saham dan komisaris di PT Astra Internasional. Ia dipercaya juga untuk mengelola Summa Group, yang merupakan anak usaha dari Grup Astra.

Pada masa kejayaannya, Summa Group bergerak di bidang perbankan, keuangan, dan berbagai jenis jasa keuangan lainnya. Agaknya sang putra sulung ini terlalu ambisius sehingga banyak sekali mengumbar kredit dan ekspansi bisnis yang tak terkontrol. Bisa ditebak selanjutnya, Summa pun menanggung kredit macet dalam jumlah besar. Inilah titik awal petaka bagi keluarga Soejadjaja. Karena mendapatkan kerugian yang teramat besar, maka Bank Summa pun bangkrut dan dana-dana para nasabah pun juga dipastikan 100% tak bisa kembali ke tangan pemilik aslinya. Membuat kita teringat akan pahitnya kasus Bank Century yang kinerja manajemen dan kecurangan pemiliknya amat mengecewakan para nasabah hingga waktu yang berkepanjangan.

Langkah apakah yang akan William Soerjadjaja ambil? Sejak Bank Summa dinyatakan untuk dilikuidasi pemerintah pada Desember 1992, beliau maju dan menyatakan dirinya sendiri sebagai jaminan pribadi untuk menyelesaikan seluruh kewajiban terakhir bank itu. Tak tanggung-tanggung, ia melepas seluruh kepemilikan mayoritas pribadinya di Astra pada pemerintah dan harus merelakan satu-satunya usaha terbesar dan terlama miliknya. Tak terbayangkan, betapa sedih juga hatinya ketika secara sadar harus melepas salah satu nama yang telah ia besarkan sejak dulu dengan semua pahit dan getir dunia yang telah ia jalani bersama Astra.

Padahal secara common sense dan secara hukum perdata pada saat itu, tidak ada kewajiban mutlak bagi William untuk menanggung semua beban pengembalian uang nasabah itu seorang diri. Karena meskipun sebagai salah satu anak usaha Astra, pemilik Bank Summa adalah anaknya dan justru bukan dirinya. Tak ada korelasi kewajiban hukum secara langsung yang membuatnya harus ikut bertanggung jawab. Bahasa gampangnya, “Kalau sudah bangkrut, ya mau bagaimana lagi? Uang sepeser pun mereka tak punya”.
Namun beliau tidak pernah mencari pembelaan semacam itu. Ia menjadikan hasil penjualan saham Astra yang notabene adalah kekayaan pribadinya sebagai sumber dana pengembalian untuk seluruh nasabah, satu persatu sampai semuanya benar-benar tergantikan. Mana ada orang yang rela menggunakan kekayaan pribadinya di satu perusahaan untuk bertanggung jawab atas kebangkrutan usaha yang tak ada hubungannya dengan bidang bisnis utama yang dijalani, apalagi untuk mengembalikan kekayaan para pelanggan yang dikecewakan? Bukankah perbuatan seperti itu adalah sesuatu yang sejatinya gampang diumbar-umbar namun sangat sulit untuk dilakukan, bahkan untuk direncanakan?

Meskipun telah terdepak keluar dari perusahaan kesayangannya, hubungan bisnis dengan para koleganya di luar negeri tetap baik. Bahkan mereka menaruh rasa respek yang besar terhadap sikap gentleman William yang bersedia mengambil alih tanggung jawab Bank Summa. Tak heran banyak pihak justru antusias menawarkan sejumlah uang agar William bisa memperoleh kepemilikan kembali di Astra. Salah satunya adalah Peregrine Sewu Securities yang tahun 1995 bersedia menyediakan dana bagi keluarga Soerjadjaja untuk mengambil alih Astra kembali. Tapi sayangnya keluarga cendana tidak berkenan untuk mengizinkan proposal tersebut.

Memang sepanjang hidupnya, oleh banyak rekan pengusaha maupun karyawan atau presdir yang dulu pernah menjadi bawahannya, beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat kuat dan baik, tidak otoriter, sangat kekeluargaan, dan humanis. Beliau juga sering sekali memberi kesempatan bagi bawahannya untuk berkembang sehingga mampu mencetak para profesional dan pengusaha handal. Bahkan banyak sekali konglomerat baru yang muncul dari hasil asuhannya.

Kini beliau telah berpulang, meninggalkan kita semua. Namun, seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, semoga saja segera muncul sosok seperti William Soerjadjaja lainnya di tanah air ini yang mampu mengimplementasikan CSR yang menyeimbangkan kehidupan berbisnis dengan prinsip dasar sosial dan religius, sehingga bisa menjadi teladan dan kebanggaan bangsa ini.

Minggu, 05 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 1)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan istilah populer di masa kini yang sering digembar-gemborkan oleh banyak perusahaan, sebagai salah satu strategi menarik simpati publik, dan juga oleh para pemerhati maupun politisi-politisi, yang entah motifnya memang murni membela kepentingan rakyat banyak atau hanya sekedar cari sensasi dan muka saja. Sebenarnya apa sih CSR itu?

CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para stakeholders berdasarkan prinsip sukarela dan kemitraan. Kalau mau dikata dalam bahasa yang lain: Amal Perusahaan (Corporate Charity), Kedermawanan Perusahaan (Corporate Philantrophy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development). CSR dapat pula diartikan sebagai komitmen industri untuk mempertanggung-jawabkan dampak operasi dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan serta menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungannya. Melaksanakan CSR dalam jangka panjang akan menumbuhkan rasa keberterimaan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan di suatu daerah. (Tanudjaja, 2009)

Beberapa tahun belakangan, CSR sedang jadi trend pemberitaan dimana-mana. Semakin banyak individu dan perusahaan yang memandang CSR itu penting dan mencanangkan program CSR yang rapi. Namun, ekonomi yang tumbuh pesat tidak dibarengi dengan kondisi masyarakat ekonominya yang tumbuh sangat lambat. Keterlibatan teknologi yang tinggi membuat banyak perusahaan lebih senang menggunakan tenaga kerja profesional di luar lingkungan masyarakat setempat dan mengabaikan eksistensi masyarakat sekitar. Yang penting profit, menjadi salah satu slogan yang serupa kerak mengganggu dan bisa menyebabkan usaha CSR menjadi berlubang dan cenderung dilupakan.

Nah, mengapa judul untuk tema semacam ini dikait-kaitkan dengan sesosok pahlawan tanpa tanda jasa, selain guru, bernama William Soerjadjaja? Seperti yang kita ketahui, beliau adalah pendiri dari Astra Internasional yang terkenal sebagai perusahaan otomotif raksasa di bumi Indonesia ini. Memang tidak banyak orang awam yang mengenal nama beliau maupun pribadinya, tetapi di dunia para pengusaha dan para pebisnis yang beretika, beliau adalah salah satu contoh terbaik dan melegenda sepanjang masa karena tindakan CSR nya yang benar-benar tidak umum dilakukan pengusaha besar kebanyakan namun mengharukan. Di saat zaman dulu isu CSR tidak begitu mencuat, beliau muncul dengan tindakannya yang menghasilkan cerita epos kepahlawanan yang mungkin setara dengan raja-raja kerajaan nusantara yang bijak pada zaman dahulu.

Permasalahannya adalah, di masa dimana CSR semakin digadang-gadang menjadi salah satu skala ukur keberhasilan suatu perusahaan di dalam bertahan hidup dan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, apakah kualitas dan kuantitas CSR yang dilakukan perusahaan saat ini menjadi semakin baik atau justru semakin terjun bebas? Dan apakah ada di antara perusahaan-perusahaan yang menjadi contoh pembahasan ini yang pantas disebut sebagai pewaris dari legenda emas William Soerjadjaja? Penulis akan membahasnya dalam halaman-halaman berikut.

Jumat, 03 Desember 2010

Prediksi BI Rate Akhir Tahun 2010

Terkait suku bunga Bank Indonesia, Pengamat Ekonomi David Sumual memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan BI rate pada angka 6,5 % hingga akhir tahun ini. Hal ini dilihatnya sebagai pengaruh dari angka inflasi yang sampai saat ini masih tergolong kecil yaitu 0,6%.

David menambahkan pemerintah harus mewaspadai second around yang datang dari kenaikan harga pasar, seperti beras, dan kebutuhan lainnya. Hal ini dinilainya mempengaruhi BI rate kedepannya. Untuk itu, pemerintah harus sering melakukan operasi pasar.

Sumber: kontan.co.id

Daftar Orang Terkaya Indonesia versi Majalah Forbes 2010

Duo bersaudara, R Budi Hartono dan Michael Hartono, kembali menempati posisi pertama dalam daftar orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes untuk tahun 2010.

Dua bersaudara itu berhasil memiliki kekayaan US$ 11 milar atau sekitar Rp 99 triliun berkat suksesnya usaha rokok Djarum dan juga BCA. Dua bersaudara itu berada di posisi puncak daftar orang terkaya Indonesia selama 2 tahun berturut-turut.

"Mereka mewarisi perusahaan rokok Djarum dari ayahnya, namun sekarang ini mereka meraup kekayaannya dari BCA, yang merupakan bank terbesar dan masuk dalam Forbes Fab 50 tahun ini," demikian ditulis Forbes seperti dikutip detikFinance, Jumat (3/12/2010).

Djarum kini tercatat sebagai produsen rokok kretek terbesar ketiga di Indonesia, setelah Gudang Garam dan HM Sampoerna. Pada tahun 2002, Djarum menjadi pemegang saham mayoritas (51%) di BCA lewat Faralon Capital Management. BCA tumbuh pesat dan menjadi bank terbesar dari sisi jumlah nasabah. Kinerjanya pun cukup gemilang. Hingga 30 September 2010, BCA berhasil meraup laba hingga Rp 6,1 triliun, meningkat 20,0% dibandingkan Rp 5,1 triliun yang dicetak pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Para pengusaha rokok Indonesia tampaknya masih menjadi muka-muka lama dalam daftar terkaya Forbes itu. Setelah Duo Hartono, pemilik Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo berada di peringkat kedua dengan kekayaan US$ 8 miliar atau setara dengan Rp 64 triliun, naik US$ 2,6 miliar dibandingkan tahun lalu.

Berbeda dengan duo Hartono, Susilo Wonowidjojo masih menggantungkan kekayaannya dari Gudang Garam, yang merupakan produsen rokok kretek terbesar.

Dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2010 itu, selain didominasi oleh pengusaha rokok, juga pengusaha CPO dan batubara. Salah satu pengusaha Indonesia yang berhasil membuat loncatan tajam kekayaannya berkat kenaikan harga komoditas adalah Kiki Barki.

Pemilik perusahaan batubara, Harum Energy ini untuk pertama kalinya masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia dengan harta mencapai US$ 1,7 miliar. Kiki Barki berhasil meraup dana hingga Rp 2,6 triliun saat melepaskan saham Harum Energy ke lantai bursa pada 6 Oktober lalu.

Nama lain yang masuk kategori pendatang baru adalah seorang warga India yang sudah menjadi WNI, Sri Prakash Lohia. Pemilik Indorama Sythetics itu berada di posisi ke-6 dengan harta sebesar US$ 2,65 miliar. Keluarga besar Lohia memang termasuk konglomerat kaya. Kakak Lohia, Ashoke yang tinggal di Thailand juga merupakan miliuner karena kakak iparnya, Lakshmi Mittal juga merupakan orang terkaya kedua di Asia. Baik Mittal maupun Lohia sama-sama memiliki rumah di London.

Para orang-orang terkaya di Indonesia itu juga membuat gebrakan yang cukup besar sepanjang tahun ini, seperti Chairul Tanjung yang membeli 40% saham Carrefour Indonesia, Peter Sondakh yang menjual saham di Semen Gresik serta kelompok usaha milik Aburizal Bakrie yang menjalin kerjasama dengan keluarga Rothschild.

Untuk masuk dalam daftar ini, seorang pengusaha harus memiliki kekaywaan US$ 455 juta, naik dari tahun lalu yang hanya US$ 240 juta. Sebanyak 8 orang terdepak dari daftar tahun sebelumnya, diantaranya adalah pemilik AKR Soegiarto Adikoesoemo dan pemilik Rayamana Grup, Paulus Tumewu. Kekayaan keduanya memang naik, tapi tak cukup untuk bisa masuk dalam daftar ini.

Secara keseluruhan, total kekayaan 40 orang terkaya Indonesia di 2010 ini meningkat tajam dari US$ 42 miliar pada tahun 2009 menjadi US$ 71 miliar di tahun 2010. Total kekayaan para taipan tanah air yang mencapai US$ 71 miliar itu, hampir mendekati total cadangan devisa Indonesia yang pada pertengahan November mencapai US$ 93 miliar.

Berikut daftar 40 orang terkaya versi Forbes yang dirilis, Kamis (2/12/2010).

1. R. Budi & Michael Hartono US$ 11 miliar
2. Susilo Wonowidjojo US$ 8 miliar
3. Eka Tjipta Widjaja US$ 6 miliar
4. Martua Sitorus US$ 3,2 miliar
5. Anthoni Salim U$S 3 miliar
6. Sri Prakash Lohia US$ 2,65 miliar
7. Low Tuck Kwong US$ 2,6 miliar
8. Peter Sondakh US$ 2,3 miliar
9. Putra Sampoerna US$ 2,3 miliar
10. Aburizal Bakrie US$ 2,1 miliar
11. Kiki Barki US$ 1,7 miliar
12. Eddy William Katuari US$ 1,65 miliar
13. Edwin Soeryadjaya US$ 1,6 miliar
14. Boenjamin Setiawan US$ 1,5 miliar
15. Garibaldi Thohir US$ 1,45 miliar
16. Sukanto Tanoto US$ 1,4 miliar
17. Theodore Rachmat US$ 1,35 miliar
18. Chairul Tanjung US$ 1,25 miliar
19. Murdaya Poo US$ 1,15 miliar
20. Ciliandra Fangiono US$ 1,1 miliar
21. Benny Subianto US$ 1,05 miliar
22. Arifin dan Hilmi Panigoro US$ 985 juta
23. Sjamsul Nursalim US$ 850 juta
24. Agus Lasmono Suwikatmono US$ 845 juta
25. Kartini Muljadi US$ 840 juta
26. Tahir US$ 805 juta
27. Sandiaga Uno US$ 795 juta
28. Mochtar Riady US$ 730 juta
29. Ciputra US$ 725 juta
30. Hashim Djojohadikusumo US$ 680 juta
31. Harjo Sutanto US$ 350 juta
32. Trihatma Haliman US$ 600 juta
33. Hary Tanoesudibjo US$ 595 juta
34. Kusnan dan Rusdi Kirana US$ 580 juta
35. Wiwoho Baduki Tokronegoro US$ 575 juta
36. Engki Wibowo dan Jenny Quantero US$ 560 juta
37. Husain Djojonegoro US$ 545 juta
38. Eka Tjandranegara US$ 525 juta.
39. Sutanto Djuhar US$ 490 juta.
40. Prajogo Pangestu US$ 455 juta.

*) dilansir dari detik.com

Rabu, 23 Juni 2010

Menghargai Uang Sejak Dini

Salah satu hal yang paling membuat saya terheran-heran pada diri saya sendiri adalah ketika bapak saya selalu mengeluh demikian, “Nak, kamu kok susah sih dibeliin apa-apa? Mau ditawari ini ga mau, mau ditawari itu juga ga mau”. Saya hanya menjawab, “Mendingan beli yang perlu-perlu aja, ntar boros”. Ayah saya berkomentar lagi, “Lha uang kita masih banyak. Sekali-kali menikmati hidup lah.” Saya menjawab lagi, “Ya bapak aja yang beli untuk diri sendiri. Buat saya kan cari uang itu susah, pak”.

Semakin sering saya mengingat salah satu dialog di salah satu mall besar di Semarang tersebut, saya semakin bersyukur akan apa yang telah saya jalani selama 19 tahun saya hidup di dunia ini. Terutama ada tiga hal yang benar-benar saya syukuri. Pertama, masuknya saya ke SMA Kolese Loyola Semarang yang selalu mengajarkan untuk mempunyai kepedulian, cinta kasih, dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingan ‘wong cilik’. Kedua, bergabungnya saya di salah satu perusahaan Network Marketing yang masih saya yakini sebagai salah satu MLM yang “asli dan benar”, meskipun saya sudah tidak aktif lagi. Mereka selalu menginspirasi, memotivasi dan, menguatkan saya untuk mengubah nasib di hidup ini. Ketiga, pertemuan dengan seseorang yang sangat saya sayangi, yang menjadikan saya mampu untuk menahan segala kepahitan dan kesulitan hidup dalam mencari uang, hanya demi bisa bersamanya (maaf tidak bisa saya sebutkan, rahasia negara! Hehehe...).

Intinya, saya menjadi seseorang yang sangat menghargai keberadaan uang, betapapun kecil jumlahnya. Mungkin anda melihat bahwa saya memang hanya kebetulan memiliki peristiwa yang tidak semua orang mengalami, sehingga saya bisa menghargai uang. Namun, saya mencoba menguraikan beberapa tips yang bisa membantu anda, khususnya untuk yang sudah berkeluarga, baik itu sudah mempunyai anak maupun yang belum. Tentu saja, kaum muda yang merupakan “calon bapak/ibu” harus menyimaknya dengan baik, siapa tahu malah lebih berguna banyak bagi hidup anda setelah ini. Berikut adalah tips-tips yang berguna:

1. Buatlah rekening tabungan bagi anak-anak, misalnya saat masuk SD. Diharapkan anak-anak akan terbiasa menabung sejak kecil. Sumber dana bisa dari uang saku yang diberikan sebaiknya jangan harian, dikhawatirkan si anak akan menganggap uang itu gampang didapat, melainkan secara berkala (sebaiknya seminggu sekali). Ajarkan untuk menyisakannya agar bisa menabung secara rutin. Uang dari kerabat lain juga diajarkan untuk ditabung saja. Kalau perlu, bisa juga diberi hadiah khusus jika tabungannya melampaui target yang ditentukan.
2. Berilah uang jajan secukupnya, jangan berlebihan. Maksudnya, jika mereka harus membeli sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang mereka, mereka “terpaksa” minta bantuan dari orang tuanya. Jadi mereka akan mengerti kalau uang itu susah didapat. Kalau memang hal tersebut terjadi, anda bisa memberikan uang tambahan untuk membeli kebutuhan tersebut, dengan syarat uang saku minggu depan akan dikurangi, entah itu secara langsung atau bertahap.
3. Beri penghargaan atas prestasi mereka di sekolah. Bentuknya tidak mesti harus uang, yang terpenting mereka akan mempunyai motivasi merit system – imbalan yang diperoleh sesuai dengan hasil perjuangan yang mereka lakukan.
4. Bantu anak-anak untuk membuat pembukuan pribadi, terutama arus kas keluar masuk. Biasakan untuk menetapkan jangka tutup buku setiap bulan agar mereka terbiasa berpikir jangka panjang juga. Dengan demikian, mereka akan sadar atas pola belanja mereka, dan berusaha untuk menekan pengeluaran agar bisa menabung lebih banyak.
5. Gunakan contoh nyata dengan cerita atau perumpamaan. Misalnya gaji seorang manajer restoran atau gaji teller, manajer, dan direktur sebuah bank. Dimaksudkan agar mereka bisa membandingkan dengan harga mainan, uang jajan, biaya sekolah atau keperluan lain yang harus dipenuhi orang tua. Maka, pemikiran kalau uang itu susah didapat akan semakin tertanam.
6. Ajaklah mereka bermain semacam financial games seperti monopoli atau sejenisnya, dimana paling tidak ada pelajaran bahwa pemenangnya adalah yang memiliki banyak aset di permainan tersebut.
7. Jangan meletakkan uang sembarangan, sebab akan menimbulkan kesan bahwa anda tidak menghargai uang dimata anak anda. Mereka harus diberi pengertian bahwa uang tidak sendirinya ada di dompet kita, sebagai orang tuanya.

Dari pengalaman dan pendapat pribadi saya, ada beberapa tips diatas yang tidak cukup hanya dijalankan saja. Dibutuhkan sebuah kemampuan dari orang tua untuk mempu membangun pengertian keseluruhan mengenai uang, baik fungsinya maupun gunanya. Segala kebutuhan memang butuh uang, tapi tidak semua kebutuhan bisa dibeli dengan uang. Apalagi kalau sampai salah menggunakan uang tersebut, yang mengakibatkan penderitaan orang lain.

Semoga bermanfaat, Salam Sejahtera!

==================================================================
After read this article, please comment to show that you participated in this blog's growth and development.

Rabu, 19 Mei 2010

Keruntuhan Bisnis Konglomerasi ?? - Pemikiran dan Pertanyaan

Ketika saya bandingkan keadaan pada masa saya SD dulu dengan saya yang saat ini sedang kuliah, saya menyadari adanya suatu popular culture yang sangat menonjol: Tempat atau pusat perbelanjaan semacam mall mulai dan sudah menjadi tempat nongkrong dan bukan lagi murni menjadi pusat transaksi modern seperti seharusnya.

Nah, di sini saya jadi mempunyai suatu pemikiran (atau lebih tepatnya kekhawatiran), apakah mungkin bahwa di kemudian hari bisnis konglomerasi akan runtuh dan tidak diinginkan lagi?

Kenapa saya berpikiran seperti ini? Pertama, kenyataan bahwa sebagian besar orang-orang yang mengunjungi mall adalah pengacara alias pengangguran banyak acara. Pengangguran di sini juga setidaknya ada dua arti: orang yang benar-benar tidak punya duit, hanya sekedar nongkrong eksis dan orang yang punya duit tapi bukan dari penghasilan sendiri. Oke, kita fokus pada tipe pertama saja, karena mereka yang punya pengaruh besar di balik kekhawatiran saya.

Berdasarkan ilmu antropologi, fenomena popular culture tersebut kebanyakan dipicu oleh kaum perempuan. Sejak dulu, di indonesia ini terutama, kaum perempuan selalu diplot untuk menjadi seorang shopper untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Namun itu dulu dan jika punya uang. Sekarang yang terjadi adalah perpaduan antara pergeseran paradigma dan ketidakmampuan untuk menghilangkan budaya patriakis tersebut. Kaum perempuan yang dipenuhi oleh semangat emansipasi berpikir bahwa hidup mereka bukan hanya sebagai 'pelengkap' saja. Ada kemungkinan itulah yang menyebabkan perpaduan sebagai berikut: mereka tidak bisa menghapus peran budaya sebagai shopper namun mereka bisa mengubah cara pikir mereka untuk tidak bershopping di mall-mall dan menggantinya sebagai tempat untuk ber-eksis ria. Oleh karenanya, ada uang atau tidak mereka akan tetap berkumpul bersama sobat-sobat mereka di tempat-tempat semacam itu. Dan tambahan lagi, kaum pria juga ikut-ikutan melakukannya.

Kedua, adalah terjadinya turn-over yang cukup besar dari beberapa gerai di berbagai mall. Sekedar mengingatkan, mall (seperti citraland atau matahari semarang) termasuk bisnis konglomerasi yang gampangnya, anda mempunyai sebuah lahan plus gedung yang besar dan luas, kemudian anda mengikat kontrak dengan berbagai jenis industri maupun bentuk usaha lainnya untuk membuka gerainya di gedung yang anda miliki agar terjadi proses jual-beli yang lebih modern dan mudah. Sekarang, jika para pengunjung kebanyakan hanya nongkrong disana, apakah terjadi transaksi pasar? Jawabannya, mungkin ya, tapi kebanyakan hanya pada gerai-gerai makanan. Yang lainnya? Hanya segelintir pengunjung yang masuk ke gerai mereka, itupun tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan membeli sesuatu. Lihat contoh Ramayana Semarang yang tutup pada januari 2010 dan akan diganti dengan Ace Hardware & Index Furnishing karena sedikitnya kuota transaksi yang terjadi.



Ketiga, kecenderungan bahwa semakin banyak mall di suatu kota dan terpusat akan mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung di suatu mall yang lain. Untuk yang satu ini saya juga menemukan pola yang aneh. Ambil contoh Paragon City dan DP Mall di Semarang (maklum, kota kelahiran saya sih). Ketika Paragon City mulai dibuka banyak orang berduyun-duyun datang dan menyebabkan DP Mall menjadi lebih sepi. Padahal keduanya berada pada satu jalan yang sama! --> Meskipun letaknya ujung ke ujung. Sehingga, calon pengunjung yang mempunyai duit akan lebih leluasa berbelanja ke sana. Namun, sebuah mall yang sepi pengunjung, meskipun hampir pasti membeli, tetap tidak bisa menjadi tolok ukur bagi banyak gerai di sana untuk mempertahankan bisnisnya di sana. Sebuah mall yang kehilangan Crowd Spot-nya tidak bisa membangun sebuah citra sebagai pusat perbelanjaan yang potensial untuk bisnis dan berinteraksi dengan pelanggan yang lebih emosional.



Mungkin pembicaraan ini akan ngelantur ke arah konsumtivisme (saya tidak menggunakan istilah konsumerisme karena sebenarnya itu dipakai sebagai suatu istilah yang menunjukkan pengetahuan pemasaran terhadap konsumen mereka --> Satu lagi kelatahan bahasa kita yang akut), oleh karena itu saya akan hentikan sampai di sini. Apakah kekhawatiran saya cukup beralasan? Lalu meskipun tidak beralasan, apakah yang bisa menjadi counter meassure dari fenomena sosial ini bagi keselamatan bisnis sejenis ini?

Saya menunggu komentar anda ataupun usul dan kritik dari anda, apapun itu karena saya sendiri sangat gundah gulana dengan pemikiran saya ini. Sementara itu, saya akan mencoba mencari jawabannya sendiri dan siapa tahu saya akan menghadirkannya kembali pada anda.

Rabu, 01 Juli 2009

Tips Waralaba / Franchise

Bisnis waralaba atau franchise tumbuh subur laksana jamur di musim penghujan. Tapi jangan salah, tak semua franchise berpotensi mendatangkan untung besar. Jika tak pandai-pandai memilih jenis franchise, mimpi untuk menjadi pengusaha sukses lewat jalur pintas ini bisa terkubur.

Untuk itu berikut adalah beberapa panduan yang tepat untuk memilih sebuah franchise:

Terbukti Sukses

Dalam memilih franchise, sejarah usaha tersebut harus jelas, karena sangat penting. Disarankan agar memilih franchise yang memilik neraca keuangan stabil dalam lima tahun. Itu menunjukkan, konsumen sudah mampu menerima bisnis tersebut.

Unik dan unggul

Di tengah persaingan ketat saat ini, keunikan sebuah usaha bisa menjadi penentu kesuksesan. Contohnya, franchise restoran. Keunikan bumbu masak bisa menjadi kekuatan daya jual produk.

Brand sudah dikenal

Sebuah franchise minimal harus memiliki tiga cabang. Agar lebih gampang menjalankan usaha ini, sebaiknya kita memilih yang sudah terkenal. Dengan demikian ketika bersaing di pasar akan lebih mudah.

Ada standardisasi usaha

Sebuah franchise yang baik harus memiliki sistem pembukuan, dokumentasi, rekrutmen serta program pelatihan karyawan yang sudah baku dan terbukti bermutu. Melalui standardisasi ini kita bisa melakukan evaluasi atau perbandingan dengan yang lainnya, jika kemudian usaha kita kurang berhasil.

Pangsa pasar besar

Untuk mengurangi risiko pasar, sebaiknya kita memilih usaha yang menjadi kebutuhan banyak orang. Misalnya, bisnis makanan dan kebutuhan pokok lainnya, yang sudah dilakukan oleh Indomaret yang punya 3000-an gerai waralaba.

Prospek cerah

Agar tak sia-sia membayar franchise fee yang besar, kita juga harus melihat prospek usaha yang akan ia pilih. Sebab, jika potensi pertumbuhan usahanya kecil, jangka waktu balik modal akan semakin lama. Indikatornya bisa dari informasi mengenai kinerja cabang milik pewaralaba yang sudah ada. Misalnya apakah banyak yang tutup atau justru menuai kesuksesan?

Sesuai isi kantong

Untuk mengurangi risiko ketika terjadi kegagalan, sebaiknya kita mampu mengukur kemampuan modal yang kita miliki. Sebaik apapun sistem dan konsep franchise tersebut, hal tersebut tidak menjamin kesuksesan 100%. Jadi, akan sangat bijaksana kalau kita tidak menaruh semua kekayaan kita untuk suatu franchise. Ini tak ubahnya dengan berinvestasi saham. Lebih baik menaruh telur di beberapa keranjang, daripada di satu keranjang (prinsip diversifikasi). Kalau ada keranjang yang jatuh, masih ada keranjang yang lain.

Pelajari kontrak

Jangan terburu-buru, itu kuncinya! Jangan sampai ada kontrak usaha yang hanya merugikan kita sebagai rekanan.

Meskipun dibilang sebagai jalur cepat meraih kesuksesan, namun itu buknlah jaminan. Tanpa kerja keras dan pintar memanfaatkan peluang, jalan sukses itu akan semakin sulit dilalui. Untuk berhasil, kita harus rajin, tekun, penuh semangat, dan rajin melakukan survei pasar. Tanpa itu jangan berharap bakal bisa sukses.

Simpan, Tabung, atau Investasi?

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi dimana masih banyak orang yang punya persepsi salah mengenai keberbedaan tiga ‘mahluk’ di atas. “Saya sudah berinvestasi untuk masa depan anak dengan menabung di Bank A”, adalah pernyataan yang masih saya jumpai di kampung saya. Untuk itu saya mencoba menguraikan dengan sederhana, perbedaan paling pokok dari ketiga jenis strategi perencanaan keuangan tersebut.

Menyimpan, adalah kegiatan kita menimbun dana dengan suatu medium tertentu. Dari kegiatan ini kita tidak mendapati adanya perubahan kuantitas dana, namun justru perubahan nilai uang yang kita dapat. Contoh gampangnya: kita memindahkan dana kita sejumlah Rp 10 juta. Dana ini akan tetap ‘membeku’ sampai jangka waktu tertentu, tapi nilainya bisa berubah bahkan cenderung turun (tingkat inflasi dunia saat ini memungkinkan hal itu terjadi). Medium yang dipakai semacam celengan ayam, arisan, atau yang sedang marak adalah asuransi yang memberikan pengembalian pembayaran premi. Di sini uang premi dikembalikan sesuai jumlahnya namun nilainya sudah turun.

Menabung, adalah kegiatan mengembangkan dana dengan jumlah yang meningkat. Yang menjadi indikator pembanding adalah inflasi. Kalau hasil pengembangan dana masih dibawah inflasi, kegiatan ini sekedar menabung bukanlah investasi. Sebagai contoh adalah tabungan dan deposito bank. Perhatikan tingkat bunga yang diberikan dan bandingkanlah dengan tingkat inflasi yang ada. Kebanyakan dari contoh-contoh pasti memberikan hasil lebih kecil dari inflasi.

Investasi, terjadi bila kegiatan mengembangkan dana mampu memberikan hasil lebih tinggi dari nilai inflasi. Contohnya, kita beli semacam ruko sebesar Rp 600.000,00 per meter persegi pada tahun 2004. Tahun ini, harganya 1,2 juta rupiah per meter persegi. Selama lima tahun telah naik 100 % atau 20 % per tahun. Dengan inflasi sekitar 8% - 10% per tahun, investasi di properti seperti tanah meningkat lebih tinggi dari inflasi. Bisa dibilang investasi merupakan pilihan ‘cerdas’ dari semua opsi keuangan yang ada.

Lalu apakah menabung dan menyimpan itu salah? Tidak, saya katakan. Satu hal pokok yang menjadi titik ukur keputusan kita adalah Tujuan Keuangan kita. Misalnya untuk opsi menyimpan, dengan salah satu poinnya adalah asuransi yang sudah disebutkan diatas, kita memperoleh manfaat berupa jaminan asuransi itu sendiri, plus mendapat dana meski nilainya tak seberapa. Tabungan akan sangat berguna untuk jangka pendek dan dana darurat. Kedua tujuan ini membutuhkan likuiditas dana yang tinggi, sehingga imbal hasil bukan menjadi fokus utama menabung.

Jadi, siasati rencana keuangan anda dengan terlebih dulu menetapkan tujuan keuangan anda.