Kenapa judulnya demikian berkobar-kobar?? Tentu saja karena saya adalah salah satu mahasiswa yang terancam karena adanya surat edaran yang membahas tentang publikasi karya ilmiah di tingkat S1 sampai dengan S3 ini. Silahkan lihat file .pdf nya di sini
Intinya adalah kita, para mahasiswa harus bikin skripsi/thesis/disertasi yang SUPER ilmiah dan SUPER bagus. Kenapa saya menekankan kata "SUPER" di sini? Karena kalau karya ilmiah kita dipandang tidak bisa masuk ke jurnal-jurnal ilmiah tingkat nasional dan internasional, maka kita tidak akan bisa lulus!!
Sejujurnya, saya mahasiswa yang pintar akademik (karena IP di atas cumlaude) tapi tidak cemerlang di penelitian yang mengutamakan 'keilmiahan' seperti ini!! Tidak ada cara lain selain lulus sebelum Agustus 2012!!
Bagaimana menurut anda??
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 Februari 2012
Kamis, 17 Februari 2011
Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Kedua)
Overview Situasi dan Kondisi
Di bawah kepemimpinan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri saat ini, Bank Mandiri mendeklarasikan kesiapannya sebagai salah satu ujung tombak bagi Indonesia untuk bisa memajukan kerja sama internasional. Salah satunya dengan bergabung dalam China-ASEAN Interbank Association (CAIBA) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan peran Bank Mandiri di kawasan ASEAN. Dengan membuka peluang bisnis dari kawasan ASEAN dan Cina ke Indonesia, diharapkan akan sejalan dengan langkah strategis Mandiri yang ingin menjadi top five di tahun 2014 dan top three bank ASEAN di tahun 2020 dan mempunyai cabang di dunia internasional lebih banyak lagi.
Salah satu tembok terbesar yang harus dihadapi Bank Mandiri adalah penetrasi pasarnya ke negeri tirai bambu, Republik Rakyat Cina, yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi raksasa yang tergabung dalam The Big Four yang siap untuk mengungguli kedigdayaan Amerika Serikat. Apalagi letak geografis dan pertumbuhan perekonomian Indonesia menjadi kawasan strategis yang mempunyai pengaruh secara politik kedua negara ini, Amerika Serikat dan Cina. Namun akhir-akhir ini, kerjasama bilateral strategis antara ASEAN dengan Cina menjadi prioritas utama bagi Indonesia, dan paling tidak ini juga bisa menjadi salah satu kesempatan bagi Bank Mandiri untuk memantapkan positioningnya sebagai wakil perwujudan Indonesia di dunia perbankan internasional. Dan sekali lagi, dengan menjejakkan kaki bisnisnya ke Cina, itu akan menjadi sebuah langkah yang sangat signifikan.
CAIBA merupakan inisiatif bersama antara China Development Bank (CBD) dengan bank utama di wilayah ASEAN untuk meningkatkan kerjasama perbankan Cina dan negara-negara ASEAN dalam membayai pembangunan infrastruktur di negara-negara ASEAN. Tentu saja yang diharapkan oleh Bank Mandiri adalah perkembangan kerjasama yang baik antara perbankan Indonesia dan Cina dalam menyalurkan pembiayaan yang produktif.
Sebenarnya sejak tahun 2003, dimana waktu itu E.C.W. Neloe masih menjabat sebagai Presiden dan CEO Bank Mandiri, telah dilakukan pembukaan kantor perwakilan luar negeri yang berada di Shanghai, Cina. Kantor tersebut diplot untuk bisa memfasilitasi pertukaran informasi dalam bidang perdagangan dan kesempatan berinvestasi antara dua negara ini. Dan aktivitas itu akan melibatkan dari tingkat individu-individu sampai dengan tingkat korporasi.
Sebenarnya Bank Mandiri telah memiliki kantor cabang di Cina sejak 2007, namun operasionalnya masih terbatas dan tidak bisa memiliki hak untuk meningkatkan pembiayaan pihak ketiga di Cina. Kondisi itu juga tidak bisa dikatakan sebagai kondisi yang sempurna bagi Bank Mandiri untuk menjadi jembatan kedua negara menjalin kerjasama secara langsung. Jika saja operasi kantor cabang itu dibuka sepenuhnya dan tidak dibatasi oleh hukum bisnis yang ketat di sana, maka akan tercipta sebuah kondisi penuh keuntungan dimana Bank Mandiri akan memiliki akses cepat dan langsung ke pasar bisnis Cina.
Keinginan Bank Mandiri yang tampaknya sangat sulit diwujudkan tersebut mulai mendapat angin segar ketika Wakil Presiden Boediono berinisiatif meminta Cina izinkan Bank Mandiri membuka cabangnya secara full-fledged. Pada kunjungan kenegaraannya ke Beijing 17-21 Oktober yang lalu, Boediono sekaligus mengingatkan Perdana Menteri Cina, Wen Jiabau, untuk mempertimbangkan kembali pembukaan kantor cabang operasional Mandiri sebagai ganti telah memberikan kelonggaran bagi pembukaan cabang Bank of China di Jakarta.
Akhirnya pada 3 November 2010, China Banking Regulatory Commision (CBRC) mengizinkan Bank Mandiri untuk membuka kantor cabang operasional yang bersifat total operasionalnya di Shanghai. Pada tahun-tahun sebelumnya, Bank Mandiri sangat sulit untuk membuka kantor cabang operasional di Cina karena izin yang ketat. Untuk itu Bank Mandiri harus menyiapkan dokumen-dokumen berisi prosedur pendirian kantor cabang operasional sesuai peraturan yang berlaku di Shanghai dan menyampaikan aplikasi business permit operasional perbankan kepada CBRC. Kantor cabang ini direncanakan akan beroperasi pada semester pertama tahun 2011 untuk melayani aktivitas perbankan, seperti penghimpunan dana korporasi, penyaluran kredit korporasi, transaksi perdagangan ekspor impor dan remittance. Dan kesuksesan pendirian cabang di Shanghai inilah yang melengkapi jaringan cabang internasional Bank Mandiri di tujuh negara di tiga benua.
Pasca mengantongi izin dari otoritas perbankan Cina tersebut untuk mengizinkan operasi kantor cabangnya secara penuh, Mandiri segera memperkuat ekspansi bisnisnya dengan menggandeng Industrial and Commercial Bank of China Limited (ICBC), yang merupakan bank terbesar di Cina dan peringkat ketigabelas dunia. Bentuk kerjasama tersebut berupa dukungan ICBC terhadap kantor cabang Mandiri di Shanghai dalam bentuk Renminbi Settlement dan Treasury. Dan sekali lagi, tujuan kerjasama Bank Mandiri kali ini adalah untuk memastikan bahwa hubungan bisnis antara Indonesia dan Cina dapat meningkat dan tumbuh lebih baik lagi.
Lebih jauh lagi, terkhusus untuk kantor cabang di luar negeri, Bank Mandiri berencana menambah kantor cabang internasional di Malaysia dari enam outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang, menjadi lima belas di tahun 2011. Rencana ini padahal bisa terlaksana pada akhir tahun 2010. Namun lagi-lagi karena terkendala aturan dari Bank Sentral Malaysia, penambahan kantor outlet ini pun harus ditunda. Dan sampai sekarang belum diketahui apa alasan Bank Sentral Malaysia menundanya.
Padahal di negeri jiran ini, potensi pasar yang didominasi oleh TKI ini masih besar dan tidak hanya terpusat di Kuala Lumpur. Mandiri bermaksud untuk lebih merambah daerah sekitar yang masih belum tergarap dengan merencanakan membuka cabang penuh di sana, tapi salah satu persyaratan sulit untuk mendapat izin membentuk kantor cabang penuh adalah bermodalkan 300 juta ringgit.
Analisa Situasi dan Kondisi
Pertama-tama yang patut diperhatikan adalah tentang adanya situasi tawar-menawar antara Boediono dengan PM Cina, yang ada hubungannya dengan asas legal dan kerjasama bilateral. Pertimbangan lainnya yang ada selain “politik balas jasa” di sini yaitu jika ingin mempererat hubungan antar negara maka hendaknya bisa menciptakan sebuah sistem yang mempercepat perdagangan bilateral-swap. Jadi aktivitas bisnis internasional antara Indonesia dengan Cina bisa langsung dengan menggunakan mata uang yuan dan rupiah tanpa harus melalui penukaran mata uang dolar amerika. Dengan demikian kerjasama bilateral yang lebih intim akan terjamin dan kemungkinan bagi Indonesia untuk segera menancapkan salah satu kekuatannya ke lingkaran BRIC akan semakin besar. Walaupun untuk itu, kelonggaran peraturan bisnis yang ada harus dilandasi dan dipengaruhi oleh adanya pertukaran kepentingan antar pemerintah dan politik luar negeri.
Kedua, yang menjadi keprihatinan bersama dalam negeri yang sangat menghambat ekspansi banyak perusahaan Indonesia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri, adalah perbedaan ketat tidaknya peraturan yang kita miliki jika dibandingkan dengan peraturan di luar negeri. Memang banyak jenis industri yang mengalami hal serupa, namun makalah ini akan lebih memfokuskan pada masalah di industri perbankan.
Indonesia adalah salah satu dari tiga negara, selain Korea Selatan dan Argentina, yang memiliki keterbukaan berlebih dalam sistem perbankannya Banyak sekali bank asing yang dengan derasnya masuk ke Indonesia, dan terlihat sangat mudah untuk berekspansi ke negeri ini, baik itu melalui pembukaan cabang secara normal atau melalui persentase kepemilikan di beberapa perusahaan strategis. Di negeri ini bank asing bisa memiliki 99 persen saham untuk dimiliki.
Namun, keterbukaan yang diterapkan di Indonesia ini tidak berlaku sebaliknya di luar negeri. Dan hal ini sangat menyulitkan bank-bank nasional, yang ironisnya juga harus bertahan mati-matian untuk mengembangkan daya saingnya dari gempuran luar negeri, untuk melakukan ekspansi yang sangat sering dikeluhkan dan menjadi tantangan terberat mereka. Dari kasus Bank Mandiri di atas kita bisa melihat adanya kesulitan yang dialami mereka untuk melakukan ekspansi secara penuh di Cina dan Malaysia, dimana mereka selalu terbelit-belit dengan masalah peraturan maupun Memorandum of Understanding (MoU).
Banyak izin berlapis-lapis harus dipenuhi pihak Bank Mandiri untuk membuka cabang di Cina, dan itu juga masih belum langsung bisa melaksanakan transaksi Reminbi. Sedangkan di Indonesia tidak ada izin berlapis setebal dan sekokoh itu. Mereka bisa mengumpulkan dana dari masyarakat, melayani transaksi valas, menyalurkan kredit, dan sebagainya. Yang amat disayangkan adalah sebanyak 49 persen saham sepuluh bank besar di Indonesia dikuasai asing, kecuali Bank Mandiri dan BCA.
Bank sentral kita juga memberikan kemudahan bagi investor asing untuk membeli bank-bank lokal tanpa harus menyuntik modal hingga tiga triliun rupiah. Bank-bank yang dimiliki asing tersebut juga mendapatkan perlakuan yang sama dalam berekspansi. Kondisi ini menguatkan predikat Indonesia sebagai tamu asing di negerinya sendiri, sebuah ironi di atas berbagai usaha yang dilakukan untuk memperkuat daya saing internasional perusahaan-perusahaan Indonesia di dunia internasional.
Di bawah kepemimpinan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri saat ini, Bank Mandiri mendeklarasikan kesiapannya sebagai salah satu ujung tombak bagi Indonesia untuk bisa memajukan kerja sama internasional. Salah satunya dengan bergabung dalam China-ASEAN Interbank Association (CAIBA) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan peran Bank Mandiri di kawasan ASEAN. Dengan membuka peluang bisnis dari kawasan ASEAN dan Cina ke Indonesia, diharapkan akan sejalan dengan langkah strategis Mandiri yang ingin menjadi top five di tahun 2014 dan top three bank ASEAN di tahun 2020 dan mempunyai cabang di dunia internasional lebih banyak lagi.
Salah satu tembok terbesar yang harus dihadapi Bank Mandiri adalah penetrasi pasarnya ke negeri tirai bambu, Republik Rakyat Cina, yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi raksasa yang tergabung dalam The Big Four yang siap untuk mengungguli kedigdayaan Amerika Serikat. Apalagi letak geografis dan pertumbuhan perekonomian Indonesia menjadi kawasan strategis yang mempunyai pengaruh secara politik kedua negara ini, Amerika Serikat dan Cina. Namun akhir-akhir ini, kerjasama bilateral strategis antara ASEAN dengan Cina menjadi prioritas utama bagi Indonesia, dan paling tidak ini juga bisa menjadi salah satu kesempatan bagi Bank Mandiri untuk memantapkan positioningnya sebagai wakil perwujudan Indonesia di dunia perbankan internasional. Dan sekali lagi, dengan menjejakkan kaki bisnisnya ke Cina, itu akan menjadi sebuah langkah yang sangat signifikan.
CAIBA merupakan inisiatif bersama antara China Development Bank (CBD) dengan bank utama di wilayah ASEAN untuk meningkatkan kerjasama perbankan Cina dan negara-negara ASEAN dalam membayai pembangunan infrastruktur di negara-negara ASEAN. Tentu saja yang diharapkan oleh Bank Mandiri adalah perkembangan kerjasama yang baik antara perbankan Indonesia dan Cina dalam menyalurkan pembiayaan yang produktif.
Sebenarnya sejak tahun 2003, dimana waktu itu E.C.W. Neloe masih menjabat sebagai Presiden dan CEO Bank Mandiri, telah dilakukan pembukaan kantor perwakilan luar negeri yang berada di Shanghai, Cina. Kantor tersebut diplot untuk bisa memfasilitasi pertukaran informasi dalam bidang perdagangan dan kesempatan berinvestasi antara dua negara ini. Dan aktivitas itu akan melibatkan dari tingkat individu-individu sampai dengan tingkat korporasi.
Sebenarnya Bank Mandiri telah memiliki kantor cabang di Cina sejak 2007, namun operasionalnya masih terbatas dan tidak bisa memiliki hak untuk meningkatkan pembiayaan pihak ketiga di Cina. Kondisi itu juga tidak bisa dikatakan sebagai kondisi yang sempurna bagi Bank Mandiri untuk menjadi jembatan kedua negara menjalin kerjasama secara langsung. Jika saja operasi kantor cabang itu dibuka sepenuhnya dan tidak dibatasi oleh hukum bisnis yang ketat di sana, maka akan tercipta sebuah kondisi penuh keuntungan dimana Bank Mandiri akan memiliki akses cepat dan langsung ke pasar bisnis Cina.
Keinginan Bank Mandiri yang tampaknya sangat sulit diwujudkan tersebut mulai mendapat angin segar ketika Wakil Presiden Boediono berinisiatif meminta Cina izinkan Bank Mandiri membuka cabangnya secara full-fledged. Pada kunjungan kenegaraannya ke Beijing 17-21 Oktober yang lalu, Boediono sekaligus mengingatkan Perdana Menteri Cina, Wen Jiabau, untuk mempertimbangkan kembali pembukaan kantor cabang operasional Mandiri sebagai ganti telah memberikan kelonggaran bagi pembukaan cabang Bank of China di Jakarta.
Akhirnya pada 3 November 2010, China Banking Regulatory Commision (CBRC) mengizinkan Bank Mandiri untuk membuka kantor cabang operasional yang bersifat total operasionalnya di Shanghai. Pada tahun-tahun sebelumnya, Bank Mandiri sangat sulit untuk membuka kantor cabang operasional di Cina karena izin yang ketat. Untuk itu Bank Mandiri harus menyiapkan dokumen-dokumen berisi prosedur pendirian kantor cabang operasional sesuai peraturan yang berlaku di Shanghai dan menyampaikan aplikasi business permit operasional perbankan kepada CBRC. Kantor cabang ini direncanakan akan beroperasi pada semester pertama tahun 2011 untuk melayani aktivitas perbankan, seperti penghimpunan dana korporasi, penyaluran kredit korporasi, transaksi perdagangan ekspor impor dan remittance. Dan kesuksesan pendirian cabang di Shanghai inilah yang melengkapi jaringan cabang internasional Bank Mandiri di tujuh negara di tiga benua.
Pasca mengantongi izin dari otoritas perbankan Cina tersebut untuk mengizinkan operasi kantor cabangnya secara penuh, Mandiri segera memperkuat ekspansi bisnisnya dengan menggandeng Industrial and Commercial Bank of China Limited (ICBC), yang merupakan bank terbesar di Cina dan peringkat ketigabelas dunia. Bentuk kerjasama tersebut berupa dukungan ICBC terhadap kantor cabang Mandiri di Shanghai dalam bentuk Renminbi Settlement dan Treasury. Dan sekali lagi, tujuan kerjasama Bank Mandiri kali ini adalah untuk memastikan bahwa hubungan bisnis antara Indonesia dan Cina dapat meningkat dan tumbuh lebih baik lagi.
Lebih jauh lagi, terkhusus untuk kantor cabang di luar negeri, Bank Mandiri berencana menambah kantor cabang internasional di Malaysia dari enam outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang, menjadi lima belas di tahun 2011. Rencana ini padahal bisa terlaksana pada akhir tahun 2010. Namun lagi-lagi karena terkendala aturan dari Bank Sentral Malaysia, penambahan kantor outlet ini pun harus ditunda. Dan sampai sekarang belum diketahui apa alasan Bank Sentral Malaysia menundanya.
Padahal di negeri jiran ini, potensi pasar yang didominasi oleh TKI ini masih besar dan tidak hanya terpusat di Kuala Lumpur. Mandiri bermaksud untuk lebih merambah daerah sekitar yang masih belum tergarap dengan merencanakan membuka cabang penuh di sana, tapi salah satu persyaratan sulit untuk mendapat izin membentuk kantor cabang penuh adalah bermodalkan 300 juta ringgit.
Analisa Situasi dan Kondisi
Pertama-tama yang patut diperhatikan adalah tentang adanya situasi tawar-menawar antara Boediono dengan PM Cina, yang ada hubungannya dengan asas legal dan kerjasama bilateral. Pertimbangan lainnya yang ada selain “politik balas jasa” di sini yaitu jika ingin mempererat hubungan antar negara maka hendaknya bisa menciptakan sebuah sistem yang mempercepat perdagangan bilateral-swap. Jadi aktivitas bisnis internasional antara Indonesia dengan Cina bisa langsung dengan menggunakan mata uang yuan dan rupiah tanpa harus melalui penukaran mata uang dolar amerika. Dengan demikian kerjasama bilateral yang lebih intim akan terjamin dan kemungkinan bagi Indonesia untuk segera menancapkan salah satu kekuatannya ke lingkaran BRIC akan semakin besar. Walaupun untuk itu, kelonggaran peraturan bisnis yang ada harus dilandasi dan dipengaruhi oleh adanya pertukaran kepentingan antar pemerintah dan politik luar negeri.
Kedua, yang menjadi keprihatinan bersama dalam negeri yang sangat menghambat ekspansi banyak perusahaan Indonesia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri, adalah perbedaan ketat tidaknya peraturan yang kita miliki jika dibandingkan dengan peraturan di luar negeri. Memang banyak jenis industri yang mengalami hal serupa, namun makalah ini akan lebih memfokuskan pada masalah di industri perbankan.
Indonesia adalah salah satu dari tiga negara, selain Korea Selatan dan Argentina, yang memiliki keterbukaan berlebih dalam sistem perbankannya Banyak sekali bank asing yang dengan derasnya masuk ke Indonesia, dan terlihat sangat mudah untuk berekspansi ke negeri ini, baik itu melalui pembukaan cabang secara normal atau melalui persentase kepemilikan di beberapa perusahaan strategis. Di negeri ini bank asing bisa memiliki 99 persen saham untuk dimiliki.
Namun, keterbukaan yang diterapkan di Indonesia ini tidak berlaku sebaliknya di luar negeri. Dan hal ini sangat menyulitkan bank-bank nasional, yang ironisnya juga harus bertahan mati-matian untuk mengembangkan daya saingnya dari gempuran luar negeri, untuk melakukan ekspansi yang sangat sering dikeluhkan dan menjadi tantangan terberat mereka. Dari kasus Bank Mandiri di atas kita bisa melihat adanya kesulitan yang dialami mereka untuk melakukan ekspansi secara penuh di Cina dan Malaysia, dimana mereka selalu terbelit-belit dengan masalah peraturan maupun Memorandum of Understanding (MoU).
Banyak izin berlapis-lapis harus dipenuhi pihak Bank Mandiri untuk membuka cabang di Cina, dan itu juga masih belum langsung bisa melaksanakan transaksi Reminbi. Sedangkan di Indonesia tidak ada izin berlapis setebal dan sekokoh itu. Mereka bisa mengumpulkan dana dari masyarakat, melayani transaksi valas, menyalurkan kredit, dan sebagainya. Yang amat disayangkan adalah sebanyak 49 persen saham sepuluh bank besar di Indonesia dikuasai asing, kecuali Bank Mandiri dan BCA.
Bank sentral kita juga memberikan kemudahan bagi investor asing untuk membeli bank-bank lokal tanpa harus menyuntik modal hingga tiga triliun rupiah. Bank-bank yang dimiliki asing tersebut juga mendapatkan perlakuan yang sama dalam berekspansi. Kondisi ini menguatkan predikat Indonesia sebagai tamu asing di negerinya sendiri, sebuah ironi di atas berbagai usaha yang dilakukan untuk memperkuat daya saing internasional perusahaan-perusahaan Indonesia di dunia internasional.
Label:
bisnis,
ekonomi,
management,
opini,
strategic
Jumat, 04 Februari 2011
Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Pertama)
Profil dan Perjalanan Bisnis Bank Mandiri
Bank Mandiri adalah salah satu bank swasta paling terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan perbankan untuk segmen bisnis korporasi, komersial, mikro-retail, consumer finance, serta perbendaharaan dan perbankan internasional. Bank Mandiri memiliki anak-anak perusahaan yang menopang lini bisnis utamanya, semacam Mandiri Sekuritas (jasa pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali, dan Mandiri Tunas Finance (jasa keuangan).
Bank Mandiri memiliki sebuah visi besar, yaitu menjadi satu-satunya bank yang paling dikagumi, paling progresif, dan paling terpercaya. Visi itu didukung oleh beberapa misi, yaitu menjadi bank yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, memberikan hasil dan keuntungan yang maksimal bagi para stakeholder, melaksanakan manajemen terbuka, dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
Bank Mandiri pada awalnya merupakan merger dari empat bank pemerintah yang diselesaikan pada Juli tahun 1999, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Pembangunan Indonesia. Robby Djohan saat itulah yang menjadi nahkoda kepemimpinan di Bank Mandiri. Ia berkeinginan untuk menjadikan bank ini sekelas, bahkan melebihi, Citibank yang pada waktu itu tercatat sebagai salah satu bank terbaik di dunia internasional. Yang dimaksud adalah, operasional Mandiri harus disesuaikan dengan standar bank-bank terbaik di tingkat dunia, baik dalam kualitas pelayanan, produk-produk yang ditawarkan maupun sistemnya. Dan sejak awal, mantan bankir Citibank ini telah memilih positioning Mandiri sebagai retail banking, seperti Citibank dan BCA, yang waktu itu sudah memiliki posisi kuat dalam pasar retail dan consumer banking di Indonesia.
Namun, banyak juga tantangan yang harus dihadapi oleh Bank Mandiri, salah satunya adalah kondisi makro ekonomi yang saat itu sedang kacau balau akibat badai krisi dan kredit macet negara yang menumpuk. Selain itu, mengubah karakter asli dari yang semula adalah corporate banking menjadi retail banking juga tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu dikarenakan kultur perusahaan yang sebelum terjadi merger telah terbiasa menangani perusahaan-perusahaan yang berskala besar.
Cita-cita untuk menjadikan Mandiri bisa bersaing di level internasional dan global tersebut tidak berhenti begitu saja ketika Robby turun dari posisi tertingginya. Agus Martowardojo, bawahan sekaligus anak didik Robby yang pernah menempati Executive Vice President Manajemen Risiko Kredit dan Restrukturisasi saat Robby masih menjadi atasan, menjadi ahli warisnya yang mampu membawa perubahan signifikan pada Bank Mandiri.
Salah satunya adalah pencapaian pada semester pertama tahun 2009, tentang dana tabungan yang mencapai 97,1 triliun rupiah yang sudah tak jauh beda dengan pencapaian BCA yang mencapai 101 triliun rupiah pada Juni 2009. Sedangkan di bisnis kartu kredit, Bank Mandiri telah mencetak 1,6 juta sampai dengan kuartal ketiga 2009. Dan bisa dibandingkan dengan Citibank yang sudah bertahun-tahun menjadi raja kartu kredit di Indonesia, jumlah kartu yang diterbitkan baru 1,3 juta unit. Untuk memperkuat posisinya sebagai retail banking, Mandiri juga fokus melayani kredit UM-KM. Sampai September 2009, jumlah nasabah UM-KM mencapai 437.872 nasabah, dua kalinya tahun lalu. Sementara total penyaluran kredit bertumbuh 18,6% menjadi 25,51 triliun rupiah sampai September 2009.
Total aset bank Mandiri per September 2009 sebesar 365,5 triliun rupiah, naik 50 triliun rupiah dibandingkan tahun lalu. Yang patut diacungi jempol adalah tingkat rasio kredit bermasalahnya (NPL) menurun drastis berkat keberhasilan restrukturisasi kredit macetnya. Di akhir 2005, NPL bruto Mandiri mencapai 25,2% dan pada kuartal ketiga tahun 2009 hanya 3,8%. Angka itu sudah dibawah ketentuan maksimal Bank Indonesia yaitu sebesar 5%.
Selain dari data statistik finansial itu, perubahan juga terjadi pada struktur perusahaan yang diubah menjadi Strategic Business Unit (SBU) yang artinya setiap direktorat perusahaan harus berfokus pada value perusahaan. Lalu juga pada bagian roles and responsibility, ruang lingkup dan tanggung jawabnya menjadi berbeda. Kemudian ada juga perubahan sistem manajemen performanya, yang ditandai dengan pembaharuan Key Performance Indicator (KPI), cara evaluasi, targetnya, serta sistem reward yang menentukan tepat tidaknya seseorang menempati posisi tertentu.
Perubahan yang dibawa oleh Agus Martowardojo adalah perubahan yang bersifat substansial dan paling mendasar. Selain itu juga secara holistis dan menyeluruh, baik itu pada mindset maupun perilaku yang terjadi. Perubahan itu berkaitan dengan kultur perusahaan yang dikelola dan direformasi dengan baik oleh direktorat khusus bernama Change Management. Ia membuat anggota direksi menjadi cukup besar dan semuanya bekerja dengan sangat efektif. Selain itu, ia juga mengambil banyak karyawan profesional dari bank asing maupun beberapa konsultan yang ada. Dengan demikian, itu bisa membuat tata nilai di Bank Mandiri berubah banyak dan menjadi penuh dengan integritas. Ditambah dengan aspek Good Corporate Governance yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, keadilan, dan independensi, yang sudah diakui sejajar dengan penerapan GCG di perusahaan-perusahaan dalam Grup Astra.
Perubahan itu bermula pada tahun 2005, ketika dilakukan pengajian untuk menentukan arah bank ini dalam lima tahun ke depan. Hasilnya, diputuskan bahwa di tahun 2010 nantinya Mandiri sudah harus menjadi bank yang sudah menguasai pasar berlevel Asia Tenggara. Artinya, Mandiri juga harus bisa bersaing dengan bank di kawasan ASEAN seperti Maybank dari Malaysia, DBS dari Singapura, atau Bangkok Bank. Salah satu indikatornya adalah kapitalisasi pasar yang harus mencapai US$ 10 Miliar.
Perkembangan terakhir sejak bulan Desember 2010 kemarin, Bank Mandiri sudah memperkerjakan lebih dari 240 ribu karyawan di 1.296 cabang dan tujuh kantor perwakilan di luar negeri (Singapura, Hong Kong, Cayman Island, Timor Leste, Inggris, Malaysia, dan terakhir di Cina). Saluran-saluran distribusi pelayanan yang digunakan Bank Mandiri adalah 5.495 ATM milik sendiri, 14.822 ATM bekerja sama dengan jaringan bisnis LINK, 42.728 unit Electronic Data Capture (EDC), dan juga saluran-saluran elektronik seperti Internet Banking, SMS Banking, dan Call Center 14000.
Rencananya, Mandiri akan menambah jumlah cabang dengan total mencapai 520 unit. Ini terdiri dari 250 kantor cabang, 70 unit mikro dan 200 kios mikro. Sedangkan target kredit mikro tahun 2011 mencapai 11,4 triliun rupiah.
BRIC dan Indonesia
BRIC merupakan singkatan dari empat negara berkembang yang paling berpengaruh besar dalam skala perekonomian global, yaitu Brazil, Rusia, India, dan Cina. BRIC adalah istilah yang diperkenalkan Jim O’Neill sebagai bentuk antisipasi akan kemunculan negara-negara yang punya ukuuran perekonomian yang bisa menandingi ukuran perekonomian negara maju dunia, semacam Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.
Pada tahun 2001, Goldman Sachs, sebuah bank investasi internasional, menganggap bahwa Cina sangat memungkinkan untuk menjadi penguasa ekonomi global terbesar sebelum tahun 2030. Secara kolektif, kondisi ekonomi BRIC juga bisa saja mengungguli hasil output dari negara-negara kaya di Group of Seven—yang telah mendominasi manajemen ekonomi global—pada tahun 2032.
BRIC telah memiliki market share yang lebih besar daripada Amerika Serikat sendiri. Alasannya adalah Cina, yang menyumbangkan peran sebagai salah satu eksportir global terbesar tahun lalu, kemudian digabungkan dengan ekspor perangkat lunak dari India, kemudian ekspor minyak dan gas bumi dari Rusia, dan juga dominasi pasar agrikultur dari para petani yang super kompeten dari Brazil. Inilah yang sering membuat para investor global beranggapan bahwa BRIC tak ubah layaknya “The Promised Land” bagi mereka semua.
Indonesia sendiri sudah diperhitungkan oleh Goldman Sachs sebagai salah satu kelompok negara N-11, yaitu kelompok negara yang diperkirakan juga akan memiliki ukuran perekonomian yang akan bisa menandingi negara-negara terbesar dalam perekonomian versi tahun 2001, alias BRIC. Termasuk di dalamnya ada Korea Selatan dan Mexico yang juga memiliki performa perekonomian yang bagus dan juga berhasil menarik perhatian dunia. Namun N-11 sendiri bukan merupakan ukuran panduan investasi yang pasti dan menarik bagi para investor global, mengingat ada beberapa negara yang masih berjuang secara mencolok seperti Bangladesh juga masuk di dalam N-11. Dan itu juga masih bukan merupakan kebanggaan tersendiri untuk negara-negara yang ada di dalamnya. Tidak bisa ditawar-tawar lagi, untuk dapat menjadi pemain bisnis internasional yang tulen dan patut diperhitungkan secara pasti, usaha-usaha agar menjadi pantas mendampingi BRIC adalah harga mati.
Upaya mengaitkan Indonesia dengan BRIC sudah terjadi sejak pertengahan 2009 lalu, dimana pada saat itu Indonesia bukan hanya dapat meminimalisir dampak krisis keuangan global tapi juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Bulan Juli 2010 pun, Morgan Stanley yang merupakan pesaing dari Goldman Sachs tanpa ragu mengusulkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam tambahan BRIC pada tahun 2011, jika berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Namun, kali ini tantangan besar kembali diberikan oleh Goldman Sachs, bahwa Indonesia akan memenuhi syarat jika GDP-nya berhasil mencapai 3% dari GDP dunia. Tak pelak lagi, ini bagaikan sebuah bendera start yang sangat menjanjikan bagi Indonesia. Pelan tapi pasti, investor asing mulai menyerbu negeri kita ini, bahkan tidak peduli meski ada kegaduhan politik di penghujung tahun 2009 lalu.
Dalam suatu event bertajuk Bank Mandiri Economic Forum, Profesor Xavier Sala-i Martin yang adalah Ketua Penasehat Global Competitiveness Network dari Forum Ekonomi Global, sempat melontarkan pernyataan bahwa Indonesia mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan keempat negara BRIC tersebut. Dalam hal indeks daya saing global, Indonesia (ranking 44) memiliki posisi yang lebih bagus daripada Brazil (ranking 58), Rusia (ranking 63), dan India (ranking 51). Ia juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan devisa dan kapital yang lebih banyak untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya, walaupun masih ketinggalan jauh dengan Cina. Dalam hal infrastruktur, Indonesia menempati urutan keempat diatas india, jika dilakukan perbandingan dengan keempat negara tersebut.
Sementara itu terdapat beberapa fakta mengenai relasi bisnis internasional yang semakin bertambah erat antara Cina dengan Indonesia. Cina telah sejak lama menjadi investor terbesar di Indonesia sejak 1998; setelah Inggris dan Singapura. Cina adalah partner perdagangan Indonesia yang terbesar keempat, setelah Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Antara tahun 1999 dan 2003, total ekspor dari Indonesia ke Cina rata-rata tumbuh 16,8% per tahun. Di dalam sepuluh bulan pertama tahun 2003, total perdagangan antara dua negara ini mencapai US$ 5,49 miliar. Ekspor Indonesia sendiri mencapai US$ 3,04 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 2,45 miliar.
Bank Mandiri adalah salah satu bank swasta paling terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan perbankan untuk segmen bisnis korporasi, komersial, mikro-retail, consumer finance, serta perbendaharaan dan perbankan internasional. Bank Mandiri memiliki anak-anak perusahaan yang menopang lini bisnis utamanya, semacam Mandiri Sekuritas (jasa pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali, dan Mandiri Tunas Finance (jasa keuangan).
Bank Mandiri memiliki sebuah visi besar, yaitu menjadi satu-satunya bank yang paling dikagumi, paling progresif, dan paling terpercaya. Visi itu didukung oleh beberapa misi, yaitu menjadi bank yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, memberikan hasil dan keuntungan yang maksimal bagi para stakeholder, melaksanakan manajemen terbuka, dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
Bank Mandiri pada awalnya merupakan merger dari empat bank pemerintah yang diselesaikan pada Juli tahun 1999, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Pembangunan Indonesia. Robby Djohan saat itulah yang menjadi nahkoda kepemimpinan di Bank Mandiri. Ia berkeinginan untuk menjadikan bank ini sekelas, bahkan melebihi, Citibank yang pada waktu itu tercatat sebagai salah satu bank terbaik di dunia internasional. Yang dimaksud adalah, operasional Mandiri harus disesuaikan dengan standar bank-bank terbaik di tingkat dunia, baik dalam kualitas pelayanan, produk-produk yang ditawarkan maupun sistemnya. Dan sejak awal, mantan bankir Citibank ini telah memilih positioning Mandiri sebagai retail banking, seperti Citibank dan BCA, yang waktu itu sudah memiliki posisi kuat dalam pasar retail dan consumer banking di Indonesia.
Namun, banyak juga tantangan yang harus dihadapi oleh Bank Mandiri, salah satunya adalah kondisi makro ekonomi yang saat itu sedang kacau balau akibat badai krisi dan kredit macet negara yang menumpuk. Selain itu, mengubah karakter asli dari yang semula adalah corporate banking menjadi retail banking juga tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu dikarenakan kultur perusahaan yang sebelum terjadi merger telah terbiasa menangani perusahaan-perusahaan yang berskala besar.
Cita-cita untuk menjadikan Mandiri bisa bersaing di level internasional dan global tersebut tidak berhenti begitu saja ketika Robby turun dari posisi tertingginya. Agus Martowardojo, bawahan sekaligus anak didik Robby yang pernah menempati Executive Vice President Manajemen Risiko Kredit dan Restrukturisasi saat Robby masih menjadi atasan, menjadi ahli warisnya yang mampu membawa perubahan signifikan pada Bank Mandiri.
Salah satunya adalah pencapaian pada semester pertama tahun 2009, tentang dana tabungan yang mencapai 97,1 triliun rupiah yang sudah tak jauh beda dengan pencapaian BCA yang mencapai 101 triliun rupiah pada Juni 2009. Sedangkan di bisnis kartu kredit, Bank Mandiri telah mencetak 1,6 juta sampai dengan kuartal ketiga 2009. Dan bisa dibandingkan dengan Citibank yang sudah bertahun-tahun menjadi raja kartu kredit di Indonesia, jumlah kartu yang diterbitkan baru 1,3 juta unit. Untuk memperkuat posisinya sebagai retail banking, Mandiri juga fokus melayani kredit UM-KM. Sampai September 2009, jumlah nasabah UM-KM mencapai 437.872 nasabah, dua kalinya tahun lalu. Sementara total penyaluran kredit bertumbuh 18,6% menjadi 25,51 triliun rupiah sampai September 2009.
Total aset bank Mandiri per September 2009 sebesar 365,5 triliun rupiah, naik 50 triliun rupiah dibandingkan tahun lalu. Yang patut diacungi jempol adalah tingkat rasio kredit bermasalahnya (NPL) menurun drastis berkat keberhasilan restrukturisasi kredit macetnya. Di akhir 2005, NPL bruto Mandiri mencapai 25,2% dan pada kuartal ketiga tahun 2009 hanya 3,8%. Angka itu sudah dibawah ketentuan maksimal Bank Indonesia yaitu sebesar 5%.
Selain dari data statistik finansial itu, perubahan juga terjadi pada struktur perusahaan yang diubah menjadi Strategic Business Unit (SBU) yang artinya setiap direktorat perusahaan harus berfokus pada value perusahaan. Lalu juga pada bagian roles and responsibility, ruang lingkup dan tanggung jawabnya menjadi berbeda. Kemudian ada juga perubahan sistem manajemen performanya, yang ditandai dengan pembaharuan Key Performance Indicator (KPI), cara evaluasi, targetnya, serta sistem reward yang menentukan tepat tidaknya seseorang menempati posisi tertentu.
Perubahan yang dibawa oleh Agus Martowardojo adalah perubahan yang bersifat substansial dan paling mendasar. Selain itu juga secara holistis dan menyeluruh, baik itu pada mindset maupun perilaku yang terjadi. Perubahan itu berkaitan dengan kultur perusahaan yang dikelola dan direformasi dengan baik oleh direktorat khusus bernama Change Management. Ia membuat anggota direksi menjadi cukup besar dan semuanya bekerja dengan sangat efektif. Selain itu, ia juga mengambil banyak karyawan profesional dari bank asing maupun beberapa konsultan yang ada. Dengan demikian, itu bisa membuat tata nilai di Bank Mandiri berubah banyak dan menjadi penuh dengan integritas. Ditambah dengan aspek Good Corporate Governance yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, keadilan, dan independensi, yang sudah diakui sejajar dengan penerapan GCG di perusahaan-perusahaan dalam Grup Astra.
Perubahan itu bermula pada tahun 2005, ketika dilakukan pengajian untuk menentukan arah bank ini dalam lima tahun ke depan. Hasilnya, diputuskan bahwa di tahun 2010 nantinya Mandiri sudah harus menjadi bank yang sudah menguasai pasar berlevel Asia Tenggara. Artinya, Mandiri juga harus bisa bersaing dengan bank di kawasan ASEAN seperti Maybank dari Malaysia, DBS dari Singapura, atau Bangkok Bank. Salah satu indikatornya adalah kapitalisasi pasar yang harus mencapai US$ 10 Miliar.
Perkembangan terakhir sejak bulan Desember 2010 kemarin, Bank Mandiri sudah memperkerjakan lebih dari 240 ribu karyawan di 1.296 cabang dan tujuh kantor perwakilan di luar negeri (Singapura, Hong Kong, Cayman Island, Timor Leste, Inggris, Malaysia, dan terakhir di Cina). Saluran-saluran distribusi pelayanan yang digunakan Bank Mandiri adalah 5.495 ATM milik sendiri, 14.822 ATM bekerja sama dengan jaringan bisnis LINK, 42.728 unit Electronic Data Capture (EDC), dan juga saluran-saluran elektronik seperti Internet Banking, SMS Banking, dan Call Center 14000.
Rencananya, Mandiri akan menambah jumlah cabang dengan total mencapai 520 unit. Ini terdiri dari 250 kantor cabang, 70 unit mikro dan 200 kios mikro. Sedangkan target kredit mikro tahun 2011 mencapai 11,4 triliun rupiah.
BRIC dan Indonesia
BRIC merupakan singkatan dari empat negara berkembang yang paling berpengaruh besar dalam skala perekonomian global, yaitu Brazil, Rusia, India, dan Cina. BRIC adalah istilah yang diperkenalkan Jim O’Neill sebagai bentuk antisipasi akan kemunculan negara-negara yang punya ukuuran perekonomian yang bisa menandingi ukuran perekonomian negara maju dunia, semacam Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.
Pada tahun 2001, Goldman Sachs, sebuah bank investasi internasional, menganggap bahwa Cina sangat memungkinkan untuk menjadi penguasa ekonomi global terbesar sebelum tahun 2030. Secara kolektif, kondisi ekonomi BRIC juga bisa saja mengungguli hasil output dari negara-negara kaya di Group of Seven—yang telah mendominasi manajemen ekonomi global—pada tahun 2032.
BRIC telah memiliki market share yang lebih besar daripada Amerika Serikat sendiri. Alasannya adalah Cina, yang menyumbangkan peran sebagai salah satu eksportir global terbesar tahun lalu, kemudian digabungkan dengan ekspor perangkat lunak dari India, kemudian ekspor minyak dan gas bumi dari Rusia, dan juga dominasi pasar agrikultur dari para petani yang super kompeten dari Brazil. Inilah yang sering membuat para investor global beranggapan bahwa BRIC tak ubah layaknya “The Promised Land” bagi mereka semua.
Indonesia sendiri sudah diperhitungkan oleh Goldman Sachs sebagai salah satu kelompok negara N-11, yaitu kelompok negara yang diperkirakan juga akan memiliki ukuran perekonomian yang akan bisa menandingi negara-negara terbesar dalam perekonomian versi tahun 2001, alias BRIC. Termasuk di dalamnya ada Korea Selatan dan Mexico yang juga memiliki performa perekonomian yang bagus dan juga berhasil menarik perhatian dunia. Namun N-11 sendiri bukan merupakan ukuran panduan investasi yang pasti dan menarik bagi para investor global, mengingat ada beberapa negara yang masih berjuang secara mencolok seperti Bangladesh juga masuk di dalam N-11. Dan itu juga masih bukan merupakan kebanggaan tersendiri untuk negara-negara yang ada di dalamnya. Tidak bisa ditawar-tawar lagi, untuk dapat menjadi pemain bisnis internasional yang tulen dan patut diperhitungkan secara pasti, usaha-usaha agar menjadi pantas mendampingi BRIC adalah harga mati.
Upaya mengaitkan Indonesia dengan BRIC sudah terjadi sejak pertengahan 2009 lalu, dimana pada saat itu Indonesia bukan hanya dapat meminimalisir dampak krisis keuangan global tapi juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Bulan Juli 2010 pun, Morgan Stanley yang merupakan pesaing dari Goldman Sachs tanpa ragu mengusulkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam tambahan BRIC pada tahun 2011, jika berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Namun, kali ini tantangan besar kembali diberikan oleh Goldman Sachs, bahwa Indonesia akan memenuhi syarat jika GDP-nya berhasil mencapai 3% dari GDP dunia. Tak pelak lagi, ini bagaikan sebuah bendera start yang sangat menjanjikan bagi Indonesia. Pelan tapi pasti, investor asing mulai menyerbu negeri kita ini, bahkan tidak peduli meski ada kegaduhan politik di penghujung tahun 2009 lalu.
Dalam suatu event bertajuk Bank Mandiri Economic Forum, Profesor Xavier Sala-i Martin yang adalah Ketua Penasehat Global Competitiveness Network dari Forum Ekonomi Global, sempat melontarkan pernyataan bahwa Indonesia mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan keempat negara BRIC tersebut. Dalam hal indeks daya saing global, Indonesia (ranking 44) memiliki posisi yang lebih bagus daripada Brazil (ranking 58), Rusia (ranking 63), dan India (ranking 51). Ia juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan devisa dan kapital yang lebih banyak untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya, walaupun masih ketinggalan jauh dengan Cina. Dalam hal infrastruktur, Indonesia menempati urutan keempat diatas india, jika dilakukan perbandingan dengan keempat negara tersebut.
Sementara itu terdapat beberapa fakta mengenai relasi bisnis internasional yang semakin bertambah erat antara Cina dengan Indonesia. Cina telah sejak lama menjadi investor terbesar di Indonesia sejak 1998; setelah Inggris dan Singapura. Cina adalah partner perdagangan Indonesia yang terbesar keempat, setelah Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Antara tahun 1999 dan 2003, total ekspor dari Indonesia ke Cina rata-rata tumbuh 16,8% per tahun. Di dalam sepuluh bulan pertama tahun 2003, total perdagangan antara dua negara ini mencapai US$ 5,49 miliar. Ekspor Indonesia sendiri mencapai US$ 3,04 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 2,45 miliar.
Label:
bisnis,
ekonomi,
management,
opini,
strategic
CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian Terakhir)
Kesimpulan
Selain CSR perusahaan yang telah dibahas sebelumnya, masih banyak contoh yang lain. Misalnya saja, Bogasari yang menggandeng dan mendampingi pertumbuhan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis terigu sebagai bagian dari integrasi CSR mereka dengan supply chain management di tingkat kebijakan strategis. Kalau para pembeli utama mereka sukses karena bantuan mereka, maka akan tercipta relasi saling menguntungkan yang berkelanjutan.
Lalu selanjutnya ada Unilever yang juga mengusung strategi CSR yang nyaris sama dengan Bogasari, namun hanya alur rantainya saja yang terbalik. Mereka melakukan pendampingan terhadap para petani keledai yang menjadi supplier utama mereka. Sebagai pengelola merek terkenal, yaitu kecap bango, yang juga memiliki tingkat demand yang tinggi, kualitas produksi biji kacang yang dipanen serta kelancaran distribusi ke pabriknya menjadi syarat mutlak.
Selain SGC pun, juga ada beragam perusahaan yang mendasarkan pendidikan sebagai dasar kebijakan CSR nya. Program ini bisa memfokuskan diri pada edukasi bagi generasi mendatang, pengembangan kewirausahaan, pendidikan finansial, maupun pelatihan-pelatihan. Misalnya saja PT Astra Internasional yang kali ini telah membentuk Politeknik Manufaktur Astra yang menelan dana puluhan milyar dan juga Yayasan LP3I yang mendiversifikasi lini usahanya menjadi bentuk universitas, bimbel, maupun course center bersertifikasi profesional. Lalu ada HM Sampoerna dengan Sampoerna Foundation yang telah mengucurkan dana tak kurang dari 47 miliar serta PT. Djarum yang turut andil dalam berbagai beasiswa di banyak perguran tinggi serta beasiswa di cabang olahraga bulutangkis.
Isu CSR sepatutnya tidak hanya dilakukan atas dasar dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial, melainkan harus dinaikkan tingkatnya menjadi level kebijakan yang lebih makro dan riil.
Biarkan masyarakat yang menilai sendiri apakah suatu perusahaan layak untuk terus bertahan hidup atau tidak. Dengan perilaku CSR yang demikian baik pada masyarakat sekitarnya, meskipun ada yang namanya ketidakstabilan politik maupun kemerosotan moral dan sosial atau lain-lainnya di perusahaan pusatnya dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, yang akan membela perusahaan itu pastilah masyarakat sekitar mereka sendiri. Karena pada siapa lagi mereka menggantungkan nasib pendapatan tetapnya selain pada perusahaan yang sudah mempedulikan mereka sedemikian besarnya, jika itu dipandang dari sudut pandang karyawan?
Sangat mudah untuk melakukan CSR, sebenarnya. Asalkan perusahaan sadar bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat sendiri dan apa yang terjadi pada masyarakat adalah masalah mereka juga, maka tidak butuh waktu lama untuk melakukan brainstorming CSR macam apa yang akan dilakukan. Kontribusi perusahaan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial di negeri ini adalah yang paling penting dan berharga di mata masyarakat.
Memang tidak segampang membalikkan tangan, untuk memperbandingkan CSR yang dicontohkan oleh William Soerjadjaja dengan perusahaan-perusahaan pada zaman sekarang. Kasusnya berbeda tingkatan, struktur masyarakat yang terlibat sudah berbeda, dan paradigma yang dianut tiap pengusaha juga berbeda. Banyak perusahaan yang sudah melakukan CSR dengan usaha terbaik mereka, namun juga siapa tahu banyak juga perusahaan yang melakukannya untuk menutupi kesalahan mereka. Sekali lagi, di zaman informasi yang ditandai dengan kemudahan mengakses data dan fakta yang tersembunyi sekalipun, masyarakat kita juga sudah bisa menilai apakah perusahaan-perusahaan yang ada sudah menjalankan CSR mereka dengan baik atau tidak.
Sudah jelas bahwa CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan, maka sudah seharusnya dunia usaha Indonesia masa kini tidak memandang CSR sebagai tuntutan represif yang memberatkan mereka, melainkan sebagai sebagai kebutuhan dunia usaha agar tetap bisa melaksanakan sustainability development program usahanya dan sustainability social responsibility sebagai penyempurnanya.
Selain CSR perusahaan yang telah dibahas sebelumnya, masih banyak contoh yang lain. Misalnya saja, Bogasari yang menggandeng dan mendampingi pertumbuhan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis terigu sebagai bagian dari integrasi CSR mereka dengan supply chain management di tingkat kebijakan strategis. Kalau para pembeli utama mereka sukses karena bantuan mereka, maka akan tercipta relasi saling menguntungkan yang berkelanjutan.
Lalu selanjutnya ada Unilever yang juga mengusung strategi CSR yang nyaris sama dengan Bogasari, namun hanya alur rantainya saja yang terbalik. Mereka melakukan pendampingan terhadap para petani keledai yang menjadi supplier utama mereka. Sebagai pengelola merek terkenal, yaitu kecap bango, yang juga memiliki tingkat demand yang tinggi, kualitas produksi biji kacang yang dipanen serta kelancaran distribusi ke pabriknya menjadi syarat mutlak.
Selain SGC pun, juga ada beragam perusahaan yang mendasarkan pendidikan sebagai dasar kebijakan CSR nya. Program ini bisa memfokuskan diri pada edukasi bagi generasi mendatang, pengembangan kewirausahaan, pendidikan finansial, maupun pelatihan-pelatihan. Misalnya saja PT Astra Internasional yang kali ini telah membentuk Politeknik Manufaktur Astra yang menelan dana puluhan milyar dan juga Yayasan LP3I yang mendiversifikasi lini usahanya menjadi bentuk universitas, bimbel, maupun course center bersertifikasi profesional. Lalu ada HM Sampoerna dengan Sampoerna Foundation yang telah mengucurkan dana tak kurang dari 47 miliar serta PT. Djarum yang turut andil dalam berbagai beasiswa di banyak perguran tinggi serta beasiswa di cabang olahraga bulutangkis.
Isu CSR sepatutnya tidak hanya dilakukan atas dasar dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial, melainkan harus dinaikkan tingkatnya menjadi level kebijakan yang lebih makro dan riil.
Biarkan masyarakat yang menilai sendiri apakah suatu perusahaan layak untuk terus bertahan hidup atau tidak. Dengan perilaku CSR yang demikian baik pada masyarakat sekitarnya, meskipun ada yang namanya ketidakstabilan politik maupun kemerosotan moral dan sosial atau lain-lainnya di perusahaan pusatnya dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, yang akan membela perusahaan itu pastilah masyarakat sekitar mereka sendiri. Karena pada siapa lagi mereka menggantungkan nasib pendapatan tetapnya selain pada perusahaan yang sudah mempedulikan mereka sedemikian besarnya, jika itu dipandang dari sudut pandang karyawan?
Sangat mudah untuk melakukan CSR, sebenarnya. Asalkan perusahaan sadar bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat sendiri dan apa yang terjadi pada masyarakat adalah masalah mereka juga, maka tidak butuh waktu lama untuk melakukan brainstorming CSR macam apa yang akan dilakukan. Kontribusi perusahaan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial di negeri ini adalah yang paling penting dan berharga di mata masyarakat.
Memang tidak segampang membalikkan tangan, untuk memperbandingkan CSR yang dicontohkan oleh William Soerjadjaja dengan perusahaan-perusahaan pada zaman sekarang. Kasusnya berbeda tingkatan, struktur masyarakat yang terlibat sudah berbeda, dan paradigma yang dianut tiap pengusaha juga berbeda. Banyak perusahaan yang sudah melakukan CSR dengan usaha terbaik mereka, namun juga siapa tahu banyak juga perusahaan yang melakukannya untuk menutupi kesalahan mereka. Sekali lagi, di zaman informasi yang ditandai dengan kemudahan mengakses data dan fakta yang tersembunyi sekalipun, masyarakat kita juga sudah bisa menilai apakah perusahaan-perusahaan yang ada sudah menjalankan CSR mereka dengan baik atau tidak.
Sudah jelas bahwa CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan, maka sudah seharusnya dunia usaha Indonesia masa kini tidak memandang CSR sebagai tuntutan represif yang memberatkan mereka, melainkan sebagai sebagai kebutuhan dunia usaha agar tetap bisa melaksanakan sustainability development program usahanya dan sustainability social responsibility sebagai penyempurnanya.
Label:
bisnis,
CSR,
industri,
lingkungan,
management,
opini,
strategic
Senin, 20 Desember 2010
CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 3)
CSR Perusahaan Pada Masa Kini
Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan secara singkat semua hal yang berhubungan dengan pribadi William Soerjadjaja sebagai Bapak CSR Indonesia yang legendaris. Kali ini, dengan menggunakan legenda tersebut sebagai titik acuan, kita akan mengamati perilaku dan kiprah beberapa perusahaan yang terkenal pada saat ini berkaitan dengan CSR yang mereka lakukan. Untuk itu saya mengambil dua contoh perusahaan yaitu Aqua Golden Mississipi dan Sugar Group Company, yang merepresentasikan dua karakter CSR yang saling bertolak belakang. Bagaimana mereka berjanji melaksanakan dan apa saja fakta yang terjadi terkait di dalam prosesnya?
I.Aqua Golden Mississipi (AGM)
Siapa sih yang tidak kenal nama AQUA? Mungkin tanpa kita sadari, hidup kita telah menjadi tidak lengkap jika kita belum mengkonsumsi produk dari merek mendunia ini. Aqua merupakan pelopor bisnis air minum dalam kemasan (AMDK), dan saat ini menjadi produsen terbesar di Indonesia. Pangsa pasarnya di luar negeri juga meliputi Singapura, Malaysia, Fiji, Australia, Timur Tengah, dan Afrika. Untuk bentuk galon, mereka menguasai 80% pangsa pasar Indonesia. Untuk keseluruhan bisnisnya, Aqua memiliki 50% marketshare. (Batubara, 2010)
Produsen AMDK merek Aqua, yang dulu hanya bernama PT. Golden Mississipi, dulunya didirikan oleh Tirto Utomo pada 23 Februari 1974, dan bernaung di bawah PT. Tirta Investama. Pabrik pertamanya didirikan di Bekasi. Awalnya, banyak yang meragukan bahkan menganggap aksi Tirto Utomo sebagai langkah ‘guyonan’. Zaman dulu sudah menjadi kebiasaan di Jawa, kalau mau minum air tinggal ambil saja di sumur atau dari kendi-kendi air yang sering diletakkan di depan rumah masyarakat. Namun beberapa tahun setelahnya, orang Indonesia justru mulai mengkonsumsi air minum dengan membeli merek Aqua. Sampai saat ini, bahkan segala jenis merek AMDK justru sering dipukul sama rata dengan nama Aqua.
Kemudian sebuah perusahaan multinasional dari Prancis bernama Danone, tertarik untuk membeli saham PT. Aqua Goldem Mississipi. Alasannya untuk merealisasikan kampanye ‘penaklukan dunia’ nya lewat tiga bisnisnya: daily product, AMDK, dan biskuit. Akhirnya Danone berhasil membeli saham Aqua pada tanggal 4 September 1998 dan muncullah produk penyatuan berlabel Aqua-Danone dua tahun kemudian. Tahun 2001, Danone menaikkan porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 74%. Maka resmilah Danone menjadi pemilik dominan dari PT. Aqua Golden Mississipi.
CSR yang digadangkan oleh perusahaan ini sejak dipegang oleh Danone juga tidak sedikit. Salah satunya yang sering diiklankan di beberapa stasiun televisi beberapa waktu belakangan ini, adalah Program Satu untuk Semua (SuS). Program ini maksudnya adalah inisiatif sosial Aqua-Danone yang ditujukan terutama untuk membantu kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup sehat. Untuk setiap 1 liter botol Aqua ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga September 2007, Aqua akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai tahap awal. Semua media promosi, baik elektronik maupun cetak digunakan. Kemasan pun dirubah gambar dan isi labelnya. Untuk lebih meyakinkan, mereka juga menggandeng PWC Indonesia untuk mengaudit jumlah kemasan khusus yang terjual.
Namun ada yang ganjil dari program yang diiklankan berulang kali di stasiun-stasiun televisi tersebut. Mengapa sampai sekarang program SuS itu yang hanya dipublikasikan cuma di daerah NTT, yang notabene rendah tingkat jangkauan komunikasinya? Bagaimana dengan daerah lain seperti Papua atau tak usah jauh-jauh, daerah pelosok-pelosok di pulau jawa yang juga belum mendapat fasilitas air bersih yang layak?
Secara nalar yang sedikit negatif, mungkin saja mereka hanya berjanji-janji saja. Mereka hanya menunjukkan bukti bahwa memang benar disana telah dibangun fasilitas itu dan mampu menyejahterakan penduduk disana. Selebihnya, mereka ‘lupa’ untuk membangun CSR mereka secara berkelanjutan. Kalau diumpamakan, sama seperti sebuah perusahaan besar yang mengumumkan pemberian bantuan dana kepada banyak yayasan di wilayah-wilayah yang membutuhkan, tanpa menyebutkan jumlahnya yang siapa tahu jumlahnya cuma 10 juta rupiah per kecamatan. Apa itu cukup?
Dalam praktik bisnisnya, AGM juga banyak melanggar etika bisnis, bahkan cenderung mendeskritkan signifikansi dari semua program CSR yang mereka gembar-gemborkan. Salah satu contoh adalah eksploitasi air di daerah Kubang jaya, Babakan Pari, Kabupaten Sukabumi sejak tahun 1992. Pada awalnya, eksploitasi hanya pada air di permukaan saja. Namun, perlahan-lahan mereka mulai memilih pengeboran untuk menyedot saluran air di bawah tanah juga. Akibatnya, kualitas dan kuantitas sumber air di sana menurun drastis. Tinggi sumur-sumur rumah menjadi hanya sejengkal kaki (kira-kira 15 cm), bahkan kering kerontang.
Selain keterpaksaan warga untuk menggali sumur lebih dalam lagi atau menggunakan pompa untuk mendapatkan air, irigasi pertanian juga kena getahnya. Beberapa kasus telah terjadi dan biasanya seputar perebutan air untuk kepentingan pengairan ladang mereka. Banyak sawah kekeringan dan daya ekonomi petani semakin menurun. Sedangkan AGM? Semakin makmur di bawah penderitaan orang lain yang tidak tahu menahu tentang hal ini.
Sesudah dimiliki oleh Danone pun, rezim AMDK oleh AGM malah semakin menjadi-jadi dan makin merambah ranah politik. Kasus eksploitasi besar-besaran tahun 2002 di Klaten, Jawa Tengah justru dilakukan dengan terang-terangan. Sama juga dengan penduduk sekitar yang mayoritas juga bergantung pada pertanian, debit air terus menurun dan mereka juga terpaksa menyewa pompa untuk irigasi. Untuk kebutuhan harian pun warga harus membeli dengan harga yang mahal. Hal ini karena pihak PDAM daerah sendiri juga harus membeli air dari AGM sendiri, karena tidak adanya lagi sumber mata air yang tersedia untuk diolah negara. Padahal Kabupaten Klaten memiliki 150 lebih sumber mata air. Pemda Klaten sempat mengancam akan mencabut izin usaha AGM jika terus melakukannya, tapi sampai saat ini tidak ada kelanjutan berita tentang hal itu lagi.
Sudah begitu pun eksploitasi yang dilakukan ditindak lanjuti dengan proses produksi yang tidak efisien dan boros. Hampir 30% air yang menjadi bahan baku AMDK menyusut atau hilang karena proses produksi. Misalnya saja volume air yang dipakai produksi adalah 14 miliar liter, maka yang terbuang kurang lebih 7 miliar liter, itu sudah masuk juga tahapan proses pencucian dan pemurnian air. (Ipung, 2005)
Bayangkan betapa bermanfaatnya air yang terbuang percuma itu jika digunakan untuk kepentingan irigasi. Mengapa AGM tidak memikirkan hal itu? Padahal air untuk irigasi standarnya tak setinggi AMDK, dan itu bisa jadi CSR yang sepadan untuk menghapus semua dosanya. Tapi bahkan sampai sekarang mengapa mereka bungkam dan membutakan diri atas solusi yang sudah jelas bisa dilakukan ini?
Dan seperti biasa, yang selalu diungkap dan dijawab oleh para pejabat perusahaan AGM adalah pernyataan ala politikus yang tidak mendetail dan over-promising but under-delivered. Mungkin inilah yang disebut sebagai politik greenwashing ala Aqua. Kondisi tersebut menjadi semakin memburuk, dan entah kenapa hanya sebagian lapisan masyarakat saja yang mengetahui beberapa kasus buruk yang melibatkan AGM. Bahkan sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang merasa dirugikan yang mengkampanyekan gerakan anti-Aqua.
II. Sugar Group Company (SGC)
Sugar… Oh, sugar, sugar…
Apakah kata-kata di atas terdengar familiar? Yap, itulah sepenggal lirik dari jingle iklan produk Gulaku yang mulai menyeruak dunia bisnis sejak beberapa tahun yang lalu itu. Yang menarik perhatian di iklan tersebut adalah butiran-butiran gula yang berjatuhan seperti kristal, bahkan masih tumpah ruah dari kemasannya yang berkesan mewah. Apalagi kalau kita ingat iklan yang lebih baru lagi, bahwa seolah-olah hidup kita tak lengkap tanpa membubuhkan gula di setiap makanan maupun minuman kita.
Sama halnya dengan AGM, Sugar Group juga telah sukses mengangkat harkat dan derajat barang komoditas yaitu gula dari bahan rakyat yang hanya boleh ada di pasar becek maupun toko kelontong pinggir jalan, menjadi komoditas yang keberadaannya dimewahkan oleh penempatannya di berbagai supermarket yang super bersih dan berpendingin mewah. Dengan tagline, promosi, kemasan yang praktis serta butiran gula yang begitu bersih, membuat produk Gulaku menjadi primadona di mata ibu-ibu rumah tangga dan para pengusaha kuliner yang mengandalkan rasa manis sebagai faktor penyedot pelanggannya.
Lalu kita pasti berpikir, dalam menyediakan kualitas gula yang begitu mewah seperti itu, juga dengan kemasan pouch yang menarik dan terkesan mewah tentunya butuh kerja keras dari para karyawan dan pekerja di pabrik utamanya. Lalu bagaimana perusahaan akan mengkompensasi kinerja para pekerjanya?
Dalam hal ini, SGC melakukan CSR internal dengan merekrut pekerja-pekerja lokal di area sekitar pabrik utama mereka di Lampung, agar penduduk sekitar juga dapat merasakan manfaat dari kehadiran mereka di daerah hunian mereka. Selain itu, perlakuan dan fasilitas yang diberikan benar-benar memanjakan mereka semua. Selain gaji yang cukup, masih diberi tunjangan yang memadai, serta tingkat keselamatan kerja di sana benar-benar diawasi ketat. Tidak hanya itu, bahkan dalam kesehariannya perusahaan menyediakan juga transportasi yang mengangkut para karyawannya pulang balik dari dan ke kantor serta rumahnya. Pokoknya apa yang dilakukan perusahaan semata-mata agar mereka semua bisa berkonsentrasi dengan tenang pada pekerjaan mereka saja.
Selain itu, ada juga pendirian Sekolah Menengah Atas Sugar Group Companies (SMA SGC) yang merupakan program balas jasa bagi para pekerja yang telah berjuang keras memajukan perusahaan sejak puluhan tahun yang lalu. Berarti bisa dijelaskan pula mengapa anak-anak didik di sana merupakan anak kandung dari keluarga para pekerja mereka. Hingga tahun 2009 lalu, SMA SGC telah dua kali meluluskan siswanya dan hampir semuanya diterima di perguruan tinggi negeri yang berkualitas, misalnya: ITB, Unpad, UI, dan IPB. (Radar Lampung, 2009)
Para siswa yang bersekolah di sana bukan hanya dari karyawan yang punya jabatan, tapi juga pekerja kasar seperti sopir, tukang las atau bahkan mekanik biasa, serta tukang bersih-bersih yang biasanya kita anggap lalu begitu saja dimanapun kita berada.
Tujuan dari pembangunan SMA tersebut ada dua: membalas jasa para orang tua siswa dan langkah SGC sendiri untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan tetap sustain. Kalau kita pikir, perusahaan bisa saja ambil tenaga kerja yang lebih andal dari luar lingkungannya. Bisa lulusan dari dalam negeri maupun luar negeri, toh SGC sendiri adalah perusahaan yang terkenal bonafitnya. Tapi kalau melakukan hal tersebut, para pekerja yang setia itu dapat value tambahan apa? Inilah hasil dari proses pemikiran niat CSR yang mulai SGC kepada lingkungan internalnya, terfokus pada karyawan-karyawannya.
Jika mengandalkan gaji seorang pekerja kasar dengan kebutuhan keluarga yang banyak, hampir tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga perusahaan berpikir bagaimana caranya membalas jasa para karyawan mereka agar mereka dapat hidup layak meski sesudah pensiun. Maka perusahaan melakukan investasi dengan cara mendirikan sekolah sebagai tempat anak-anak karyawan menggayung ilmu. Bebagai kebutuhan, termasuk juga biaya makan tiap siswa, ditanggung perusahaan hingga lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kemudian dari pihak si anak sendiri, agar tidak lupa atas jasa orang tuanya alias kualat, para calon mahasiswa terlebih dahulu menandatangani kontrak bahwa sepertiga gaji dari mereka kelak akan dimasukkan ke rekening orang tuanya. Ini wajib dilakukan berdasarkan pertimbangan, tanpa ada orang tuanya maka para siswa itu juga tidak akan ada dan kelak akan menjalani hidup yang lebih baik.
Yang mereka lakukan, memang sudah jelas juga untuk investasi masa depan perusahaan dan karyawan. Perusahaan berharap agar para anak-anak karyawan yang telah dididik sedemikian rupa dapa menggantikan orang tuanya dalam beberapa tahun mendatang.
Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan secara singkat semua hal yang berhubungan dengan pribadi William Soerjadjaja sebagai Bapak CSR Indonesia yang legendaris. Kali ini, dengan menggunakan legenda tersebut sebagai titik acuan, kita akan mengamati perilaku dan kiprah beberapa perusahaan yang terkenal pada saat ini berkaitan dengan CSR yang mereka lakukan. Untuk itu saya mengambil dua contoh perusahaan yaitu Aqua Golden Mississipi dan Sugar Group Company, yang merepresentasikan dua karakter CSR yang saling bertolak belakang. Bagaimana mereka berjanji melaksanakan dan apa saja fakta yang terjadi terkait di dalam prosesnya?
I.Aqua Golden Mississipi (AGM)
Siapa sih yang tidak kenal nama AQUA? Mungkin tanpa kita sadari, hidup kita telah menjadi tidak lengkap jika kita belum mengkonsumsi produk dari merek mendunia ini. Aqua merupakan pelopor bisnis air minum dalam kemasan (AMDK), dan saat ini menjadi produsen terbesar di Indonesia. Pangsa pasarnya di luar negeri juga meliputi Singapura, Malaysia, Fiji, Australia, Timur Tengah, dan Afrika. Untuk bentuk galon, mereka menguasai 80% pangsa pasar Indonesia. Untuk keseluruhan bisnisnya, Aqua memiliki 50% marketshare. (Batubara, 2010)
Produsen AMDK merek Aqua, yang dulu hanya bernama PT. Golden Mississipi, dulunya didirikan oleh Tirto Utomo pada 23 Februari 1974, dan bernaung di bawah PT. Tirta Investama. Pabrik pertamanya didirikan di Bekasi. Awalnya, banyak yang meragukan bahkan menganggap aksi Tirto Utomo sebagai langkah ‘guyonan’. Zaman dulu sudah menjadi kebiasaan di Jawa, kalau mau minum air tinggal ambil saja di sumur atau dari kendi-kendi air yang sering diletakkan di depan rumah masyarakat. Namun beberapa tahun setelahnya, orang Indonesia justru mulai mengkonsumsi air minum dengan membeli merek Aqua. Sampai saat ini, bahkan segala jenis merek AMDK justru sering dipukul sama rata dengan nama Aqua.
Kemudian sebuah perusahaan multinasional dari Prancis bernama Danone, tertarik untuk membeli saham PT. Aqua Goldem Mississipi. Alasannya untuk merealisasikan kampanye ‘penaklukan dunia’ nya lewat tiga bisnisnya: daily product, AMDK, dan biskuit. Akhirnya Danone berhasil membeli saham Aqua pada tanggal 4 September 1998 dan muncullah produk penyatuan berlabel Aqua-Danone dua tahun kemudian. Tahun 2001, Danone menaikkan porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 74%. Maka resmilah Danone menjadi pemilik dominan dari PT. Aqua Golden Mississipi.
CSR yang digadangkan oleh perusahaan ini sejak dipegang oleh Danone juga tidak sedikit. Salah satunya yang sering diiklankan di beberapa stasiun televisi beberapa waktu belakangan ini, adalah Program Satu untuk Semua (SuS). Program ini maksudnya adalah inisiatif sosial Aqua-Danone yang ditujukan terutama untuk membantu kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup sehat. Untuk setiap 1 liter botol Aqua ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga September 2007, Aqua akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai tahap awal. Semua media promosi, baik elektronik maupun cetak digunakan. Kemasan pun dirubah gambar dan isi labelnya. Untuk lebih meyakinkan, mereka juga menggandeng PWC Indonesia untuk mengaudit jumlah kemasan khusus yang terjual.
Namun ada yang ganjil dari program yang diiklankan berulang kali di stasiun-stasiun televisi tersebut. Mengapa sampai sekarang program SuS itu yang hanya dipublikasikan cuma di daerah NTT, yang notabene rendah tingkat jangkauan komunikasinya? Bagaimana dengan daerah lain seperti Papua atau tak usah jauh-jauh, daerah pelosok-pelosok di pulau jawa yang juga belum mendapat fasilitas air bersih yang layak?
Secara nalar yang sedikit negatif, mungkin saja mereka hanya berjanji-janji saja. Mereka hanya menunjukkan bukti bahwa memang benar disana telah dibangun fasilitas itu dan mampu menyejahterakan penduduk disana. Selebihnya, mereka ‘lupa’ untuk membangun CSR mereka secara berkelanjutan. Kalau diumpamakan, sama seperti sebuah perusahaan besar yang mengumumkan pemberian bantuan dana kepada banyak yayasan di wilayah-wilayah yang membutuhkan, tanpa menyebutkan jumlahnya yang siapa tahu jumlahnya cuma 10 juta rupiah per kecamatan. Apa itu cukup?
Dalam praktik bisnisnya, AGM juga banyak melanggar etika bisnis, bahkan cenderung mendeskritkan signifikansi dari semua program CSR yang mereka gembar-gemborkan. Salah satu contoh adalah eksploitasi air di daerah Kubang jaya, Babakan Pari, Kabupaten Sukabumi sejak tahun 1992. Pada awalnya, eksploitasi hanya pada air di permukaan saja. Namun, perlahan-lahan mereka mulai memilih pengeboran untuk menyedot saluran air di bawah tanah juga. Akibatnya, kualitas dan kuantitas sumber air di sana menurun drastis. Tinggi sumur-sumur rumah menjadi hanya sejengkal kaki (kira-kira 15 cm), bahkan kering kerontang.
Selain keterpaksaan warga untuk menggali sumur lebih dalam lagi atau menggunakan pompa untuk mendapatkan air, irigasi pertanian juga kena getahnya. Beberapa kasus telah terjadi dan biasanya seputar perebutan air untuk kepentingan pengairan ladang mereka. Banyak sawah kekeringan dan daya ekonomi petani semakin menurun. Sedangkan AGM? Semakin makmur di bawah penderitaan orang lain yang tidak tahu menahu tentang hal ini.
Sesudah dimiliki oleh Danone pun, rezim AMDK oleh AGM malah semakin menjadi-jadi dan makin merambah ranah politik. Kasus eksploitasi besar-besaran tahun 2002 di Klaten, Jawa Tengah justru dilakukan dengan terang-terangan. Sama juga dengan penduduk sekitar yang mayoritas juga bergantung pada pertanian, debit air terus menurun dan mereka juga terpaksa menyewa pompa untuk irigasi. Untuk kebutuhan harian pun warga harus membeli dengan harga yang mahal. Hal ini karena pihak PDAM daerah sendiri juga harus membeli air dari AGM sendiri, karena tidak adanya lagi sumber mata air yang tersedia untuk diolah negara. Padahal Kabupaten Klaten memiliki 150 lebih sumber mata air. Pemda Klaten sempat mengancam akan mencabut izin usaha AGM jika terus melakukannya, tapi sampai saat ini tidak ada kelanjutan berita tentang hal itu lagi.
Sudah begitu pun eksploitasi yang dilakukan ditindak lanjuti dengan proses produksi yang tidak efisien dan boros. Hampir 30% air yang menjadi bahan baku AMDK menyusut atau hilang karena proses produksi. Misalnya saja volume air yang dipakai produksi adalah 14 miliar liter, maka yang terbuang kurang lebih 7 miliar liter, itu sudah masuk juga tahapan proses pencucian dan pemurnian air. (Ipung, 2005)
Bayangkan betapa bermanfaatnya air yang terbuang percuma itu jika digunakan untuk kepentingan irigasi. Mengapa AGM tidak memikirkan hal itu? Padahal air untuk irigasi standarnya tak setinggi AMDK, dan itu bisa jadi CSR yang sepadan untuk menghapus semua dosanya. Tapi bahkan sampai sekarang mengapa mereka bungkam dan membutakan diri atas solusi yang sudah jelas bisa dilakukan ini?
Dan seperti biasa, yang selalu diungkap dan dijawab oleh para pejabat perusahaan AGM adalah pernyataan ala politikus yang tidak mendetail dan over-promising but under-delivered. Mungkin inilah yang disebut sebagai politik greenwashing ala Aqua. Kondisi tersebut menjadi semakin memburuk, dan entah kenapa hanya sebagian lapisan masyarakat saja yang mengetahui beberapa kasus buruk yang melibatkan AGM. Bahkan sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang merasa dirugikan yang mengkampanyekan gerakan anti-Aqua.
II. Sugar Group Company (SGC)
Sugar… Oh, sugar, sugar…
Apakah kata-kata di atas terdengar familiar? Yap, itulah sepenggal lirik dari jingle iklan produk Gulaku yang mulai menyeruak dunia bisnis sejak beberapa tahun yang lalu itu. Yang menarik perhatian di iklan tersebut adalah butiran-butiran gula yang berjatuhan seperti kristal, bahkan masih tumpah ruah dari kemasannya yang berkesan mewah. Apalagi kalau kita ingat iklan yang lebih baru lagi, bahwa seolah-olah hidup kita tak lengkap tanpa membubuhkan gula di setiap makanan maupun minuman kita.
Sama halnya dengan AGM, Sugar Group juga telah sukses mengangkat harkat dan derajat barang komoditas yaitu gula dari bahan rakyat yang hanya boleh ada di pasar becek maupun toko kelontong pinggir jalan, menjadi komoditas yang keberadaannya dimewahkan oleh penempatannya di berbagai supermarket yang super bersih dan berpendingin mewah. Dengan tagline, promosi, kemasan yang praktis serta butiran gula yang begitu bersih, membuat produk Gulaku menjadi primadona di mata ibu-ibu rumah tangga dan para pengusaha kuliner yang mengandalkan rasa manis sebagai faktor penyedot pelanggannya.
Lalu kita pasti berpikir, dalam menyediakan kualitas gula yang begitu mewah seperti itu, juga dengan kemasan pouch yang menarik dan terkesan mewah tentunya butuh kerja keras dari para karyawan dan pekerja di pabrik utamanya. Lalu bagaimana perusahaan akan mengkompensasi kinerja para pekerjanya?
Dalam hal ini, SGC melakukan CSR internal dengan merekrut pekerja-pekerja lokal di area sekitar pabrik utama mereka di Lampung, agar penduduk sekitar juga dapat merasakan manfaat dari kehadiran mereka di daerah hunian mereka. Selain itu, perlakuan dan fasilitas yang diberikan benar-benar memanjakan mereka semua. Selain gaji yang cukup, masih diberi tunjangan yang memadai, serta tingkat keselamatan kerja di sana benar-benar diawasi ketat. Tidak hanya itu, bahkan dalam kesehariannya perusahaan menyediakan juga transportasi yang mengangkut para karyawannya pulang balik dari dan ke kantor serta rumahnya. Pokoknya apa yang dilakukan perusahaan semata-mata agar mereka semua bisa berkonsentrasi dengan tenang pada pekerjaan mereka saja.
Selain itu, ada juga pendirian Sekolah Menengah Atas Sugar Group Companies (SMA SGC) yang merupakan program balas jasa bagi para pekerja yang telah berjuang keras memajukan perusahaan sejak puluhan tahun yang lalu. Berarti bisa dijelaskan pula mengapa anak-anak didik di sana merupakan anak kandung dari keluarga para pekerja mereka. Hingga tahun 2009 lalu, SMA SGC telah dua kali meluluskan siswanya dan hampir semuanya diterima di perguruan tinggi negeri yang berkualitas, misalnya: ITB, Unpad, UI, dan IPB. (Radar Lampung, 2009)
Para siswa yang bersekolah di sana bukan hanya dari karyawan yang punya jabatan, tapi juga pekerja kasar seperti sopir, tukang las atau bahkan mekanik biasa, serta tukang bersih-bersih yang biasanya kita anggap lalu begitu saja dimanapun kita berada.
Tujuan dari pembangunan SMA tersebut ada dua: membalas jasa para orang tua siswa dan langkah SGC sendiri untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan tetap sustain. Kalau kita pikir, perusahaan bisa saja ambil tenaga kerja yang lebih andal dari luar lingkungannya. Bisa lulusan dari dalam negeri maupun luar negeri, toh SGC sendiri adalah perusahaan yang terkenal bonafitnya. Tapi kalau melakukan hal tersebut, para pekerja yang setia itu dapat value tambahan apa? Inilah hasil dari proses pemikiran niat CSR yang mulai SGC kepada lingkungan internalnya, terfokus pada karyawan-karyawannya.
Jika mengandalkan gaji seorang pekerja kasar dengan kebutuhan keluarga yang banyak, hampir tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga perusahaan berpikir bagaimana caranya membalas jasa para karyawan mereka agar mereka dapat hidup layak meski sesudah pensiun. Maka perusahaan melakukan investasi dengan cara mendirikan sekolah sebagai tempat anak-anak karyawan menggayung ilmu. Bebagai kebutuhan, termasuk juga biaya makan tiap siswa, ditanggung perusahaan hingga lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kemudian dari pihak si anak sendiri, agar tidak lupa atas jasa orang tuanya alias kualat, para calon mahasiswa terlebih dahulu menandatangani kontrak bahwa sepertiga gaji dari mereka kelak akan dimasukkan ke rekening orang tuanya. Ini wajib dilakukan berdasarkan pertimbangan, tanpa ada orang tuanya maka para siswa itu juga tidak akan ada dan kelak akan menjalani hidup yang lebih baik.
Yang mereka lakukan, memang sudah jelas juga untuk investasi masa depan perusahaan dan karyawan. Perusahaan berharap agar para anak-anak karyawan yang telah dididik sedemikian rupa dapa menggantikan orang tuanya dalam beberapa tahun mendatang.
Label:
bisnis,
CSR,
industri,
lingkungan,
management,
opini,
strategic
Rabu, 14 Juli 2010
Kita adalah Indigo Children (Bagian Kedua)
Merujuk dari kepercayaan orang Hindu, sekaligus perpaduan sejarah keimanan Islam dan Nasrani, berikut adalah penjabaran generasi manusia pada umumnya:
1. Generasi Merah: generasi awal umat manusia. Berkemampuan dasar untuk mencari makan, mencari perlindungan, dan membela diri. Dalam perspektif spiritualitas, mereka adalah anak-anak yang “lahir” dari sebuah eksistensi yang kristal. Generasi ini mengembangkan otot mereka, mempertajam indra untuk sensor, dan kepentingan persaingan. Maka, jangan heran jika anak Adam bertengkar dan saling bunuh antara mereka sendiri. Bukan Adam yang salah, tetapi mungkin disebabkan oleh pembuat klon Adam (maksudnya Adam dan Hawa sendiri) yang tidak bisa membuat “Hawa” yang sempurna. Hal ini diperparah dengan pernikahan incest, yang secara genetis membuat sel anak Adam terdegradasi menjadi generasi merah sekaligus menjadi generasi paling awal di bumi ini.
2. Generasi Oranye: generasi ini masih terkonsentrasi pada masalah seksual saja, untuk memenuhi prioritas mengisi bumi ini. Maka mereka secara naluri, dituntut untuk banyak melakukan hubungan seksual, segera beranak-pinak sebanyak-banyaknya agar bumi makin penuh. Mereka mewarisi kemampuan dasar generasi sebelumnya. Anak-anak dari anak-anak Adam diceritakan masih memiliki anak kembar. Masing-masing kira-kira memiliki 10-20 anak kembar.
3. Generasi Kuning: generasi ini sudah menyadari kepentingan persediaan bahan makanan dan pola hidupnya sudah mulai menetap. Mereka mewarisi kemampuan dasar generasi sebelumnya Mereka sudah mulai membuat rumah dan peternakan sendiri. Mereka sudah mulai menyadari pentingnya hidup berkelompok dan membuat alat musik. Nabi Nuh termasuk dalam generasi ini.
4. Generasi Hijau: generasi ini mulai mempertanyakan arti kekuasaan. Mulai ada ego untuk menjadikan diri sebagai pemimpin dan menguasai orang lain. Generasi hijau sering terlibat dalam perang, perkelahian, dan sering pula saling jegal antar teman demi memenuhi ambisi pribadi. Kekerasan menguasai penuh pada generasi hijau. Pada saat inilah kemanusiaan mulai dipertanyakan. Beberapa manusia mengangkat diri mereka sebagai penguasa, bahkan Tuhan. Yesus Kristus hadir di awal generasi tersebut untuk memberitahukan kedatangan akhir zaman. Sesudah itu, mulai bermunculan para rasul yang menyebarkan ajaran Kristiani dan Nabi Muhammad Saw dengan ajaran Islam.
5. Generasi Biru: generasi ini menjawab pertanyaan generasi hijau. Saat ini, sebagian besar orang dewasa di kehidupan kita adalah generasi biru. Generasi ini menggunakan otak dan kemampuan pribadinya untuk mengambil jalan terbaik bagi mereka sendiri. Generasi biru tidak menyukai kekerasan dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Otak lebih dikembangkan dan dibuktikan dengan banyaknya penemuan dan keberhasilan bisnis. Ini adalah masa ketika manusia mengalami modernisasi yang penuh dengan diskusi dan rapat penting. Dalam setiap rapat, security antar-pribadi lebih diutamakan. Ironisnya, kalau salah berkembang, generasi ini bisa tumbuh menjadi generasi egois dan semau gue, bahkan tidak segan-segan mengorbankan orang lain asalkan dirinya sendiri bisa makmur.
6. Generasi Indigo: generasi ini adalah jawaban dari generasi biru. Generasi ini tidak lagi mengambil security untuk kesenangan pribadi, tapi untuk kesenangan orang banyak. Generasi indigo lebih senang berada dalam kesendiriannya bersama dengan dimensi spiritualitasnya yang terus berdinamika. Mereka, sedikit banyak, berusaha menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang. Diperkirakan generasi indigo adalah generasi-generasi sebelum “Adam” yang hadir kembali, mempersiapkan dan membimbing para generasi kristal awal untuk bisa menyambut datangnya akhir zaman. Kita semua yang berumur 20 tahunan, termasuk dalam generasi terakhir indigo.
7. Generasi Kristal: Generasi ini adalah puncak dari seluruh kapasitas manusia. Generasi yang merupakan lanjutan dari generasi indigo yang memiliki kadar ketuhanan dan kenabian yang tinggi. Spiritualisme tinggi serta merupakan jiwa-jiwa yang telah melalui berbagai macam bentuk tempaan kehidupan. Generasi yang hanya ada 1 kristal yang terpilih menggantikan “Adam” yang lama dalam kehancuran di siklus 5000 tahun. Generasi Kristal, dalam beberapa literatur, juga disebut sebagai “the old soul”. Artinya, mereka yang sebelumnya pernah menghuni bumi, kembali ke bumi untuk mengisi bumi dari awal lagi. Dari penjabaran itu, maka hanya generasi kristal – yang tinggi kadar jiwanya – yang akhirnya menjadi Adam lagi. Siapa dia? Hanya Tuhan yang tahu.
Orang-orang indigo adalah generasi supranaturalis yang mampu memadukan teori-teori sains dan teknologi informatika dengan kemampuan spiritualitas ketuhanan mereka. Maksud dan tujuan kehadiran kita sebagai generasi indigo adalah tugas yang diembannya di muka bumi ini. Orang-orang indigo dan kristal, secara umum mempunyai tugas:
1. Menjaga harmonisasi alam nyata, alam spiritual beserta penghuninya, serta manusia dalam hubungan dengan Tuhan.
2. Membantu penumbuhan kesadaran pada manusia akan kebenaran yang mulai ditinggalkan.
3. Membantu pengeliminasian penyebab ketidakseimbangan harmonisasi dan penumbuhan kesadaran. Terutama manusia yang jahat dan buruk akhlaknya, serta mahluk lain yang berusaha menggagalkan misi ini. Penulis, secara jujur, kurang setuju dengan literatur yang menyatakan hal ini. Sebab, manusia yang jahat sekalipun bisa bertobat dan berbalik pada Tuhan.
4. Saling berkoneksasi dan berinteraksi antar-indigo dan mahluk di dimensi spiritualitas, dalam rangka tugas-tugas di atas
5. Membantu pengembalian kekuasaan di bumi kepada manusia yang berhak memegangnya.
6. Membantu pelaksanaan kekuasaan tersebut sampai tiba masanya berakhir.
Yang menarik, orang kristal adalah generasi terakhir dari warna-warna yang pernah muncul. Warna ini tidak pernah muncul di masa-masa sebelumnya dan muncul di bagian akhir dari semua generasi indigo. Menurut teori spektrum cahaya, kristal yang berwarna bening adalah perpaduan semua warna cahaya yang sudah menyatu dalam satu frekuensi yang sama, yakni cahaya tunggal tidak berwarna. Bila mau dikaitkan dengan bidang agama: suatu lambang kesempurnaan. Tujuan akhir penyatuan kepada Yang Maha Esa dan Sumber Kehidupan.
Bisa diamati, bahwa ciri khas psikologis dan perilaku generasi indigo sangat unik dan ganjil, sehingga mereka perlu pola pendidikan yang baru. Pola pendidikan lama yang sangat mengandalkan otak kiri, justru semakin susah dinikmati oleh mereka. Jangan sampai para generasi tua mengabaikan permintaan dan kebutuhan mereka untuk berkembang dengan cara yang unik. Skenario buruknya, intelijensi dan pikiran mereka bisa kacau dan mereka akan menjadi tersesat, karena posisinya yang berada di antara pergantian generasi yang mensyaratkan survival dalam hal duniawi dengan generasi yang lebih mementingkan aspek spiritualitas dan idealisme.
1. Generasi Merah: generasi awal umat manusia. Berkemampuan dasar untuk mencari makan, mencari perlindungan, dan membela diri. Dalam perspektif spiritualitas, mereka adalah anak-anak yang “lahir” dari sebuah eksistensi yang kristal. Generasi ini mengembangkan otot mereka, mempertajam indra untuk sensor, dan kepentingan persaingan. Maka, jangan heran jika anak Adam bertengkar dan saling bunuh antara mereka sendiri. Bukan Adam yang salah, tetapi mungkin disebabkan oleh pembuat klon Adam (maksudnya Adam dan Hawa sendiri) yang tidak bisa membuat “Hawa” yang sempurna. Hal ini diperparah dengan pernikahan incest, yang secara genetis membuat sel anak Adam terdegradasi menjadi generasi merah sekaligus menjadi generasi paling awal di bumi ini.
2. Generasi Oranye: generasi ini masih terkonsentrasi pada masalah seksual saja, untuk memenuhi prioritas mengisi bumi ini. Maka mereka secara naluri, dituntut untuk banyak melakukan hubungan seksual, segera beranak-pinak sebanyak-banyaknya agar bumi makin penuh. Mereka mewarisi kemampuan dasar generasi sebelumnya. Anak-anak dari anak-anak Adam diceritakan masih memiliki anak kembar. Masing-masing kira-kira memiliki 10-20 anak kembar.
3. Generasi Kuning: generasi ini sudah menyadari kepentingan persediaan bahan makanan dan pola hidupnya sudah mulai menetap. Mereka mewarisi kemampuan dasar generasi sebelumnya Mereka sudah mulai membuat rumah dan peternakan sendiri. Mereka sudah mulai menyadari pentingnya hidup berkelompok dan membuat alat musik. Nabi Nuh termasuk dalam generasi ini.
4. Generasi Hijau: generasi ini mulai mempertanyakan arti kekuasaan. Mulai ada ego untuk menjadikan diri sebagai pemimpin dan menguasai orang lain. Generasi hijau sering terlibat dalam perang, perkelahian, dan sering pula saling jegal antar teman demi memenuhi ambisi pribadi. Kekerasan menguasai penuh pada generasi hijau. Pada saat inilah kemanusiaan mulai dipertanyakan. Beberapa manusia mengangkat diri mereka sebagai penguasa, bahkan Tuhan. Yesus Kristus hadir di awal generasi tersebut untuk memberitahukan kedatangan akhir zaman. Sesudah itu, mulai bermunculan para rasul yang menyebarkan ajaran Kristiani dan Nabi Muhammad Saw dengan ajaran Islam.
5. Generasi Biru: generasi ini menjawab pertanyaan generasi hijau. Saat ini, sebagian besar orang dewasa di kehidupan kita adalah generasi biru. Generasi ini menggunakan otak dan kemampuan pribadinya untuk mengambil jalan terbaik bagi mereka sendiri. Generasi biru tidak menyukai kekerasan dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Otak lebih dikembangkan dan dibuktikan dengan banyaknya penemuan dan keberhasilan bisnis. Ini adalah masa ketika manusia mengalami modernisasi yang penuh dengan diskusi dan rapat penting. Dalam setiap rapat, security antar-pribadi lebih diutamakan. Ironisnya, kalau salah berkembang, generasi ini bisa tumbuh menjadi generasi egois dan semau gue, bahkan tidak segan-segan mengorbankan orang lain asalkan dirinya sendiri bisa makmur.
6. Generasi Indigo: generasi ini adalah jawaban dari generasi biru. Generasi ini tidak lagi mengambil security untuk kesenangan pribadi, tapi untuk kesenangan orang banyak. Generasi indigo lebih senang berada dalam kesendiriannya bersama dengan dimensi spiritualitasnya yang terus berdinamika. Mereka, sedikit banyak, berusaha menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang. Diperkirakan generasi indigo adalah generasi-generasi sebelum “Adam” yang hadir kembali, mempersiapkan dan membimbing para generasi kristal awal untuk bisa menyambut datangnya akhir zaman. Kita semua yang berumur 20 tahunan, termasuk dalam generasi terakhir indigo.
7. Generasi Kristal: Generasi ini adalah puncak dari seluruh kapasitas manusia. Generasi yang merupakan lanjutan dari generasi indigo yang memiliki kadar ketuhanan dan kenabian yang tinggi. Spiritualisme tinggi serta merupakan jiwa-jiwa yang telah melalui berbagai macam bentuk tempaan kehidupan. Generasi yang hanya ada 1 kristal yang terpilih menggantikan “Adam” yang lama dalam kehancuran di siklus 5000 tahun. Generasi Kristal, dalam beberapa literatur, juga disebut sebagai “the old soul”. Artinya, mereka yang sebelumnya pernah menghuni bumi, kembali ke bumi untuk mengisi bumi dari awal lagi. Dari penjabaran itu, maka hanya generasi kristal – yang tinggi kadar jiwanya – yang akhirnya menjadi Adam lagi. Siapa dia? Hanya Tuhan yang tahu.
Orang-orang indigo adalah generasi supranaturalis yang mampu memadukan teori-teori sains dan teknologi informatika dengan kemampuan spiritualitas ketuhanan mereka. Maksud dan tujuan kehadiran kita sebagai generasi indigo adalah tugas yang diembannya di muka bumi ini. Orang-orang indigo dan kristal, secara umum mempunyai tugas:
1. Menjaga harmonisasi alam nyata, alam spiritual beserta penghuninya, serta manusia dalam hubungan dengan Tuhan.
2. Membantu penumbuhan kesadaran pada manusia akan kebenaran yang mulai ditinggalkan.
3. Membantu pengeliminasian penyebab ketidakseimbangan harmonisasi dan penumbuhan kesadaran. Terutama manusia yang jahat dan buruk akhlaknya, serta mahluk lain yang berusaha menggagalkan misi ini. Penulis, secara jujur, kurang setuju dengan literatur yang menyatakan hal ini. Sebab, manusia yang jahat sekalipun bisa bertobat dan berbalik pada Tuhan.
4. Saling berkoneksasi dan berinteraksi antar-indigo dan mahluk di dimensi spiritualitas, dalam rangka tugas-tugas di atas
5. Membantu pengembalian kekuasaan di bumi kepada manusia yang berhak memegangnya.
6. Membantu pelaksanaan kekuasaan tersebut sampai tiba masanya berakhir.
Yang menarik, orang kristal adalah generasi terakhir dari warna-warna yang pernah muncul. Warna ini tidak pernah muncul di masa-masa sebelumnya dan muncul di bagian akhir dari semua generasi indigo. Menurut teori spektrum cahaya, kristal yang berwarna bening adalah perpaduan semua warna cahaya yang sudah menyatu dalam satu frekuensi yang sama, yakni cahaya tunggal tidak berwarna. Bila mau dikaitkan dengan bidang agama: suatu lambang kesempurnaan. Tujuan akhir penyatuan kepada Yang Maha Esa dan Sumber Kehidupan.
Bisa diamati, bahwa ciri khas psikologis dan perilaku generasi indigo sangat unik dan ganjil, sehingga mereka perlu pola pendidikan yang baru. Pola pendidikan lama yang sangat mengandalkan otak kiri, justru semakin susah dinikmati oleh mereka. Jangan sampai para generasi tua mengabaikan permintaan dan kebutuhan mereka untuk berkembang dengan cara yang unik. Skenario buruknya, intelijensi dan pikiran mereka bisa kacau dan mereka akan menjadi tersesat, karena posisinya yang berada di antara pergantian generasi yang mensyaratkan survival dalam hal duniawi dengan generasi yang lebih mementingkan aspek spiritualitas dan idealisme.
Rabu, 23 Juni 2010
Kita adalah Indigo Children (Bagian Pertama)
Akhir-akhir ini banyak isu-isu bermunculan mengenai keberadaan sesuatu yang disebut Indigo Children. Masih membekas di ingatan kita tentang fenomena seorang bocah bernama Ponari, dimana hanya dengan mencelupkan sebuah batu, ia bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit banyak warga. Apakah ia termasuk sebagai anak indigo? Penulis menjawab, ya, namun Ponari sudah tidak tepat lagi disebut indigo secara keseluruhan.
Kemunculan anak-anak indigo di milenium ketiga ini bukan tanpa alasan. Menurut berbagai sumber yang beredar luas, mereka membawa misi-misi tertentu. Dengan segenap kemampuan lebih yang diperoleh dari terbukanya dan terasahnya sixth sense mereka sejak lahir, anak-anak indigo diutus oleh Yang Maha Kuasa untuk membawa pencerahan di dunia yang semakin hari semakin hancur. Mereka diharapkan bisa mengembalikan keseimbangan alam.
Fenomena anak-anak indigo erat kaitannya dengan ramalan suku Maya mengenai bencana besar tahun 2012. Apakah tahun 2012 akan kiamat atau tidak, hanya Tuhan yang mengetahui kapan dunia ini akan berakhir. Salah satu isu fenomena yang akan muncul menjelang tahun-tahun tersebut adalah pergantian ras manusia dari yang biasa digantikan oleh ras yang super unggul. Isu ini sering dikaitkan dengan fenomena munculnya anak-anak indigo. Mereka menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya anak indigo tidak mau diperlakukan seperti anak kecil.
Indigo mengacu pada warna jiwa yang indigo. Inilah yang menunjukkan adanya “Jiwa Utama” yang bertindak sebagai seorang guru atau penyembuh. Setiap orang indigo akan melakukan misi pengajaran atau menyembuhkan dengan berbagai cara. Sering kali dengan caranya sendiri. Sebagian orang percaya bahwa para rasul, nabi,dan orang suci serta para wali adalah indigo karena misi mereka dalam skala global adalah mengajar, menyembuhkan, dan menggeser kesadaran umat manusia.
Tanda-tanda generasi pertama dari anak-anak indigo kebanyakan lahir setelah PD II, namun belum menciptakan perubahan-perubahan penting. Baru setelah tahun 70-an, generasi pertama anak-anak indigo dilahirkan. Mereka, yang sekarang ini berusia sekitar 30-40 tahunan, ini adalah generasi laskar yang sesungguhnya, yang sudah memulai proses menentang dan menggeser sistem yang sudah usang. Merekalah pemimpin yang sesungguhnya yaitu barisan orang-orang spiritual dengan berbagai macam warna yang siap mengubah dasar dunia ini.
Mereka diikuti oleh indigo yang lahir di tahun 80-an dan 90-an yang lebih meningkat kepekaan dan perbaikan, sampai akhir 90-an dan awal 2000-an ketika lahir anak-anak generasi kristal. Anak-anak kristal, yang umumnya saat ini masih berumur dibawah 10 tahun, adalah jenis laskar rohani yang berbeda, lebih tenang dan tercerahkan dengan kesadaran Tuhan berada di dalam mereka. Berdasarkan penjelasan di atas, Ponari yang penulis jadikan contoh di awal tulisan ini termasuk generasi awal anak-anak Kristal.
Anak-anak Indigo, terutama menjelang generasi terakhir, mengetahui bahwa mereka spesial dan kehadiran mereka di bumi adalah untuk melakukan sesuatu yang signifikan. Mereka berorientasi pada otak bagian kanan. Secara umum tertarik pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan musik, seni, menulis, dan keagamaan serta kerohanian. Mereka sering suka melakukan meditasi, takafur, sholat, retret, ataupun perenungan. Namun demikian, jangan jadikan tulisan ini sebagai justifikasi untuk malas belajar atau kuliah, lho!
Karakteristik kunci dari orang-orang indigo, terutama di Indonesia atau paling tidak yang penulis amati sehari-hari, adalah sering merasakan kemarahan. Mereka tidak bisa diperintah oleh figur yang seolah-olah berkuasa karena kebanyakan orang indigo tidak mengenal “otoritas” dalam kamus manusia mereka. Mereka hanya mengakui bahwa semua manusia itu sama, sehingga mereka akan mudah marah terhadap orang yang menggunakan otoritas dan bertindak sebagaimana layaknya diktator. Contoh: Orang tua (yang kebanyakan berasal dari generasi sebelum indigo), guru/dosen, atau bos di tempat kerja.
Hal itu juga meliputi jiwa para indigo muda dengan sedikit pemahaman tentang “kekuatan atas yang lain”, seperti dominasi dan hegemoni oleh pihak yang kuat terhadap yang lemah di muka bumi. Oleh karena itu, sering terbesit di pikiran dan mental para generasi indigo, bahwa mereka lelah dengan permainan politik, kekuasaan, jabatan, KKN, dan semacam itu yang seakan-akan merajalela di dunia ini dan semakin membuat dunia ini kotor.
Keberadaan anak-anak indigo yang jumlahnya meningkat dengan pesat menjelang abad ke-21 hingga sekarang adalah dalam rangka mempersiapkan kepemimpinan dunia yang dinantikan banyak orang. “Dia” yang dinantikan adalah seorang khalifah, pemimpin manusia yang dinanti banyak orang. Dia tidak hanya dinantikan oleh umat agama tertentu saja, namun juga oleh seluruh umat manusia dan alam semesta yang merindukan kedamaian dan kesejahteraan yang sesungguhnya.
Dia akan meniti kekuasaan sejak kelahirannya. Tampuk kekuasaan akan direbutnya dari penguasa-penguasa zalim di dunia dengan kemudahan yang diberikan Tuhan. Dia menerapkan aturan-aturan Tuhan dengan lemah-lembut dan kasih sayang. Ya, karena dia adalah seorang anak kristal yang tenang, lembut, dan penuh kasih sayang.
Adakah penentangan yang terjadi? Tentu saja pihak-pihak yang hegemoninya di dunia tersaingi akan menentang generasi indigo. Mereka akan membentuk koalisi menghalangi perjalanannya menuju tampuk kekuasaan jagad ini. Segala cara mereka lakukan, termasuk memecah-belah dan mengarahkan orang-orang indigo yang mereka kuasai untuk membantu niat jahat mereka. Anak-anak indigo tidak akan tinggal diam. Komunikasi dengan sahabat-sahabat di dimensi spiritualitas yang telah terbina sejak dini akan digunakan untuk melindungi sang calon pemimpin, salah satu dari anak-anak kristal. Kekuatan akan dikerahkan secara penuh dan Tuhan berada di pihak sang khalifah akhir zaman.
Tahun 2012 nanti adalah titik awal pertempuran bagi para generasi terakhir indigo, dalam kata lain kita semua sebagai generasi penerus bangsa. Dengan kekuatan penuh, saling bertekun dalam iman, dan saling mendukung satu sama lain, seluruh indigo akan mulai bergerak di seluruh dunia. Di masa itu, kita akan diseleksi apakah kita pantas untuk membimbing dan menjadi tameng bagi para generasi kristal, yang nantinya akan berperan sebagai penyambut datangnya sang khalifah, sekaligus datangnya akhir zaman.
==================================================================
After read this article, please comment to show that you participated in this blog's growth and development.
Kemunculan anak-anak indigo di milenium ketiga ini bukan tanpa alasan. Menurut berbagai sumber yang beredar luas, mereka membawa misi-misi tertentu. Dengan segenap kemampuan lebih yang diperoleh dari terbukanya dan terasahnya sixth sense mereka sejak lahir, anak-anak indigo diutus oleh Yang Maha Kuasa untuk membawa pencerahan di dunia yang semakin hari semakin hancur. Mereka diharapkan bisa mengembalikan keseimbangan alam.
Fenomena anak-anak indigo erat kaitannya dengan ramalan suku Maya mengenai bencana besar tahun 2012. Apakah tahun 2012 akan kiamat atau tidak, hanya Tuhan yang mengetahui kapan dunia ini akan berakhir. Salah satu isu fenomena yang akan muncul menjelang tahun-tahun tersebut adalah pergantian ras manusia dari yang biasa digantikan oleh ras yang super unggul. Isu ini sering dikaitkan dengan fenomena munculnya anak-anak indigo. Mereka menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya anak indigo tidak mau diperlakukan seperti anak kecil.
Indigo mengacu pada warna jiwa yang indigo. Inilah yang menunjukkan adanya “Jiwa Utama” yang bertindak sebagai seorang guru atau penyembuh. Setiap orang indigo akan melakukan misi pengajaran atau menyembuhkan dengan berbagai cara. Sering kali dengan caranya sendiri. Sebagian orang percaya bahwa para rasul, nabi,dan orang suci serta para wali adalah indigo karena misi mereka dalam skala global adalah mengajar, menyembuhkan, dan menggeser kesadaran umat manusia.
Tanda-tanda generasi pertama dari anak-anak indigo kebanyakan lahir setelah PD II, namun belum menciptakan perubahan-perubahan penting. Baru setelah tahun 70-an, generasi pertama anak-anak indigo dilahirkan. Mereka, yang sekarang ini berusia sekitar 30-40 tahunan, ini adalah generasi laskar yang sesungguhnya, yang sudah memulai proses menentang dan menggeser sistem yang sudah usang. Merekalah pemimpin yang sesungguhnya yaitu barisan orang-orang spiritual dengan berbagai macam warna yang siap mengubah dasar dunia ini.
Mereka diikuti oleh indigo yang lahir di tahun 80-an dan 90-an yang lebih meningkat kepekaan dan perbaikan, sampai akhir 90-an dan awal 2000-an ketika lahir anak-anak generasi kristal. Anak-anak kristal, yang umumnya saat ini masih berumur dibawah 10 tahun, adalah jenis laskar rohani yang berbeda, lebih tenang dan tercerahkan dengan kesadaran Tuhan berada di dalam mereka. Berdasarkan penjelasan di atas, Ponari yang penulis jadikan contoh di awal tulisan ini termasuk generasi awal anak-anak Kristal.
Anak-anak Indigo, terutama menjelang generasi terakhir, mengetahui bahwa mereka spesial dan kehadiran mereka di bumi adalah untuk melakukan sesuatu yang signifikan. Mereka berorientasi pada otak bagian kanan. Secara umum tertarik pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan musik, seni, menulis, dan keagamaan serta kerohanian. Mereka sering suka melakukan meditasi, takafur, sholat, retret, ataupun perenungan. Namun demikian, jangan jadikan tulisan ini sebagai justifikasi untuk malas belajar atau kuliah, lho!
Karakteristik kunci dari orang-orang indigo, terutama di Indonesia atau paling tidak yang penulis amati sehari-hari, adalah sering merasakan kemarahan. Mereka tidak bisa diperintah oleh figur yang seolah-olah berkuasa karena kebanyakan orang indigo tidak mengenal “otoritas” dalam kamus manusia mereka. Mereka hanya mengakui bahwa semua manusia itu sama, sehingga mereka akan mudah marah terhadap orang yang menggunakan otoritas dan bertindak sebagaimana layaknya diktator. Contoh: Orang tua (yang kebanyakan berasal dari generasi sebelum indigo), guru/dosen, atau bos di tempat kerja.
Hal itu juga meliputi jiwa para indigo muda dengan sedikit pemahaman tentang “kekuatan atas yang lain”, seperti dominasi dan hegemoni oleh pihak yang kuat terhadap yang lemah di muka bumi. Oleh karena itu, sering terbesit di pikiran dan mental para generasi indigo, bahwa mereka lelah dengan permainan politik, kekuasaan, jabatan, KKN, dan semacam itu yang seakan-akan merajalela di dunia ini dan semakin membuat dunia ini kotor.
Keberadaan anak-anak indigo yang jumlahnya meningkat dengan pesat menjelang abad ke-21 hingga sekarang adalah dalam rangka mempersiapkan kepemimpinan dunia yang dinantikan banyak orang. “Dia” yang dinantikan adalah seorang khalifah, pemimpin manusia yang dinanti banyak orang. Dia tidak hanya dinantikan oleh umat agama tertentu saja, namun juga oleh seluruh umat manusia dan alam semesta yang merindukan kedamaian dan kesejahteraan yang sesungguhnya.
Dia akan meniti kekuasaan sejak kelahirannya. Tampuk kekuasaan akan direbutnya dari penguasa-penguasa zalim di dunia dengan kemudahan yang diberikan Tuhan. Dia menerapkan aturan-aturan Tuhan dengan lemah-lembut dan kasih sayang. Ya, karena dia adalah seorang anak kristal yang tenang, lembut, dan penuh kasih sayang.
Adakah penentangan yang terjadi? Tentu saja pihak-pihak yang hegemoninya di dunia tersaingi akan menentang generasi indigo. Mereka akan membentuk koalisi menghalangi perjalanannya menuju tampuk kekuasaan jagad ini. Segala cara mereka lakukan, termasuk memecah-belah dan mengarahkan orang-orang indigo yang mereka kuasai untuk membantu niat jahat mereka. Anak-anak indigo tidak akan tinggal diam. Komunikasi dengan sahabat-sahabat di dimensi spiritualitas yang telah terbina sejak dini akan digunakan untuk melindungi sang calon pemimpin, salah satu dari anak-anak kristal. Kekuatan akan dikerahkan secara penuh dan Tuhan berada di pihak sang khalifah akhir zaman.
Tahun 2012 nanti adalah titik awal pertempuran bagi para generasi terakhir indigo, dalam kata lain kita semua sebagai generasi penerus bangsa. Dengan kekuatan penuh, saling bertekun dalam iman, dan saling mendukung satu sama lain, seluruh indigo akan mulai bergerak di seluruh dunia. Di masa itu, kita akan diseleksi apakah kita pantas untuk membimbing dan menjadi tameng bagi para generasi kristal, yang nantinya akan berperan sebagai penyambut datangnya sang khalifah, sekaligus datangnya akhir zaman.
==================================================================
After read this article, please comment to show that you participated in this blog's growth and development.
Rabu, 19 Mei 2010
Keruntuhan Bisnis Konglomerasi ?? - Pemikiran dan Pertanyaan
Ketika saya bandingkan keadaan pada masa saya SD dulu dengan saya yang saat ini sedang kuliah, saya menyadari adanya suatu popular culture yang sangat menonjol: Tempat atau pusat perbelanjaan semacam mall mulai dan sudah menjadi tempat nongkrong dan bukan lagi murni menjadi pusat transaksi modern seperti seharusnya.
Nah, di sini saya jadi mempunyai suatu pemikiran (atau lebih tepatnya kekhawatiran), apakah mungkin bahwa di kemudian hari bisnis konglomerasi akan runtuh dan tidak diinginkan lagi?
Kenapa saya berpikiran seperti ini? Pertama, kenyataan bahwa sebagian besar orang-orang yang mengunjungi mall adalah pengacara alias pengangguran banyak acara. Pengangguran di sini juga setidaknya ada dua arti: orang yang benar-benar tidak punya duit, hanya sekedar nongkrong eksis dan orang yang punya duit tapi bukan dari penghasilan sendiri. Oke, kita fokus pada tipe pertama saja, karena mereka yang punya pengaruh besar di balik kekhawatiran saya.
Berdasarkan ilmu antropologi, fenomena popular culture tersebut kebanyakan dipicu oleh kaum perempuan. Sejak dulu, di indonesia ini terutama, kaum perempuan selalu diplot untuk menjadi seorang shopper untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Namun itu dulu dan jika punya uang. Sekarang yang terjadi adalah perpaduan antara pergeseran paradigma dan ketidakmampuan untuk menghilangkan budaya patriakis tersebut. Kaum perempuan yang dipenuhi oleh semangat emansipasi berpikir bahwa hidup mereka bukan hanya sebagai 'pelengkap' saja. Ada kemungkinan itulah yang menyebabkan perpaduan sebagai berikut: mereka tidak bisa menghapus peran budaya sebagai shopper namun mereka bisa mengubah cara pikir mereka untuk tidak bershopping di mall-mall dan menggantinya sebagai tempat untuk ber-eksis ria. Oleh karenanya, ada uang atau tidak mereka akan tetap berkumpul bersama sobat-sobat mereka di tempat-tempat semacam itu. Dan tambahan lagi, kaum pria juga ikut-ikutan melakukannya.
Kedua, adalah terjadinya turn-over yang cukup besar dari beberapa gerai di berbagai mall. Sekedar mengingatkan, mall (seperti citraland atau matahari semarang) termasuk bisnis konglomerasi yang gampangnya, anda mempunyai sebuah lahan plus gedung yang besar dan luas, kemudian anda mengikat kontrak dengan berbagai jenis industri maupun bentuk usaha lainnya untuk membuka gerainya di gedung yang anda miliki agar terjadi proses jual-beli yang lebih modern dan mudah. Sekarang, jika para pengunjung kebanyakan hanya nongkrong disana, apakah terjadi transaksi pasar? Jawabannya, mungkin ya, tapi kebanyakan hanya pada gerai-gerai makanan. Yang lainnya? Hanya segelintir pengunjung yang masuk ke gerai mereka, itupun tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan membeli sesuatu. Lihat contoh Ramayana Semarang yang tutup pada januari 2010 dan akan diganti dengan Ace Hardware & Index Furnishing karena sedikitnya kuota transaksi yang terjadi.

Ketiga, kecenderungan bahwa semakin banyak mall di suatu kota dan terpusat akan mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung di suatu mall yang lain. Untuk yang satu ini saya juga menemukan pola yang aneh. Ambil contoh Paragon City dan DP Mall di Semarang (maklum, kota kelahiran saya sih). Ketika Paragon City mulai dibuka banyak orang berduyun-duyun datang dan menyebabkan DP Mall menjadi lebih sepi. Padahal keduanya berada pada satu jalan yang sama! --> Meskipun letaknya ujung ke ujung. Sehingga, calon pengunjung yang mempunyai duit akan lebih leluasa berbelanja ke sana. Namun, sebuah mall yang sepi pengunjung, meskipun hampir pasti membeli, tetap tidak bisa menjadi tolok ukur bagi banyak gerai di sana untuk mempertahankan bisnisnya di sana. Sebuah mall yang kehilangan Crowd Spot-nya tidak bisa membangun sebuah citra sebagai pusat perbelanjaan yang potensial untuk bisnis dan berinteraksi dengan pelanggan yang lebih emosional.

Mungkin pembicaraan ini akan ngelantur ke arah konsumtivisme (saya tidak menggunakan istilah konsumerisme karena sebenarnya itu dipakai sebagai suatu istilah yang menunjukkan pengetahuan pemasaran terhadap konsumen mereka --> Satu lagi kelatahan bahasa kita yang akut), oleh karena itu saya akan hentikan sampai di sini. Apakah kekhawatiran saya cukup beralasan? Lalu meskipun tidak beralasan, apakah yang bisa menjadi counter meassure dari fenomena sosial ini bagi keselamatan bisnis sejenis ini?
Saya menunggu komentar anda ataupun usul dan kritik dari anda, apapun itu karena saya sendiri sangat gundah gulana dengan pemikiran saya ini. Sementara itu, saya akan mencoba mencari jawabannya sendiri dan siapa tahu saya akan menghadirkannya kembali pada anda.
Nah, di sini saya jadi mempunyai suatu pemikiran (atau lebih tepatnya kekhawatiran), apakah mungkin bahwa di kemudian hari bisnis konglomerasi akan runtuh dan tidak diinginkan lagi?
Kenapa saya berpikiran seperti ini? Pertama, kenyataan bahwa sebagian besar orang-orang yang mengunjungi mall adalah pengacara alias pengangguran banyak acara. Pengangguran di sini juga setidaknya ada dua arti: orang yang benar-benar tidak punya duit, hanya sekedar nongkrong eksis dan orang yang punya duit tapi bukan dari penghasilan sendiri. Oke, kita fokus pada tipe pertama saja, karena mereka yang punya pengaruh besar di balik kekhawatiran saya.
Berdasarkan ilmu antropologi, fenomena popular culture tersebut kebanyakan dipicu oleh kaum perempuan. Sejak dulu, di indonesia ini terutama, kaum perempuan selalu diplot untuk menjadi seorang shopper untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Namun itu dulu dan jika punya uang. Sekarang yang terjadi adalah perpaduan antara pergeseran paradigma dan ketidakmampuan untuk menghilangkan budaya patriakis tersebut. Kaum perempuan yang dipenuhi oleh semangat emansipasi berpikir bahwa hidup mereka bukan hanya sebagai 'pelengkap' saja. Ada kemungkinan itulah yang menyebabkan perpaduan sebagai berikut: mereka tidak bisa menghapus peran budaya sebagai shopper namun mereka bisa mengubah cara pikir mereka untuk tidak bershopping di mall-mall dan menggantinya sebagai tempat untuk ber-eksis ria. Oleh karenanya, ada uang atau tidak mereka akan tetap berkumpul bersama sobat-sobat mereka di tempat-tempat semacam itu. Dan tambahan lagi, kaum pria juga ikut-ikutan melakukannya.
Kedua, adalah terjadinya turn-over yang cukup besar dari beberapa gerai di berbagai mall. Sekedar mengingatkan, mall (seperti citraland atau matahari semarang) termasuk bisnis konglomerasi yang gampangnya, anda mempunyai sebuah lahan plus gedung yang besar dan luas, kemudian anda mengikat kontrak dengan berbagai jenis industri maupun bentuk usaha lainnya untuk membuka gerainya di gedung yang anda miliki agar terjadi proses jual-beli yang lebih modern dan mudah. Sekarang, jika para pengunjung kebanyakan hanya nongkrong disana, apakah terjadi transaksi pasar? Jawabannya, mungkin ya, tapi kebanyakan hanya pada gerai-gerai makanan. Yang lainnya? Hanya segelintir pengunjung yang masuk ke gerai mereka, itupun tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan membeli sesuatu. Lihat contoh Ramayana Semarang yang tutup pada januari 2010 dan akan diganti dengan Ace Hardware & Index Furnishing karena sedikitnya kuota transaksi yang terjadi.

Ketiga, kecenderungan bahwa semakin banyak mall di suatu kota dan terpusat akan mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung di suatu mall yang lain. Untuk yang satu ini saya juga menemukan pola yang aneh. Ambil contoh Paragon City dan DP Mall di Semarang (maklum, kota kelahiran saya sih). Ketika Paragon City mulai dibuka banyak orang berduyun-duyun datang dan menyebabkan DP Mall menjadi lebih sepi. Padahal keduanya berada pada satu jalan yang sama! --> Meskipun letaknya ujung ke ujung. Sehingga, calon pengunjung yang mempunyai duit akan lebih leluasa berbelanja ke sana. Namun, sebuah mall yang sepi pengunjung, meskipun hampir pasti membeli, tetap tidak bisa menjadi tolok ukur bagi banyak gerai di sana untuk mempertahankan bisnisnya di sana. Sebuah mall yang kehilangan Crowd Spot-nya tidak bisa membangun sebuah citra sebagai pusat perbelanjaan yang potensial untuk bisnis dan berinteraksi dengan pelanggan yang lebih emosional.

Mungkin pembicaraan ini akan ngelantur ke arah konsumtivisme (saya tidak menggunakan istilah konsumerisme karena sebenarnya itu dipakai sebagai suatu istilah yang menunjukkan pengetahuan pemasaran terhadap konsumen mereka --> Satu lagi kelatahan bahasa kita yang akut), oleh karena itu saya akan hentikan sampai di sini. Apakah kekhawatiran saya cukup beralasan? Lalu meskipun tidak beralasan, apakah yang bisa menjadi counter meassure dari fenomena sosial ini bagi keselamatan bisnis sejenis ini?
Saya menunggu komentar anda ataupun usul dan kritik dari anda, apapun itu karena saya sendiri sangat gundah gulana dengan pemikiran saya ini. Sementara itu, saya akan mencoba mencari jawabannya sendiri dan siapa tahu saya akan menghadirkannya kembali pada anda.
Label:
antropologi,
bisnis,
ekonomi,
opini
Minggu, 14 Juni 2009
Cinderamata Cincin Emas Buat Anggota DPR ??
Baru saja melihat beritanya di layar kaca, membuat saya tidak tahu harus bereaksi apa. Apakah harus marah atau tertawa? Huh, saking lucunya saya sampai mau nangis!
Mari kita lihat kinerja mereka selama ini. Dari kacamata saya yang baru saja naik jadi minus 1 bulan ini, hanya sedikit yang sungguh2 niat menjalankan perannya sebagai wakil kita. Tapi itupun sifatnya musiman dan performa mereka cenderung naik-turun. Sisanya yang sebagian besar masih saya anggap tidak memuaskan.
Masih ingat berita tentang pak SBY yang memarahi para wakil rakyat dalam sebuah rapat sekitar satu setengah tahun yang lalu? Ih, malu-maluin banget! Udah gede kok masih dimarahi? Jangan-jangan waktu kuliah juga tidur gara-gara dosennya nyanyi lagu nina bobo yah? Ada juga kenyataan bahwa mereka masih utang pada kita 129 RUU yang belum diselesaikan. Bukannya RUU yang wajib mereka selesaikan berjumlah (kalau tidak salah) 284 RUU? Belum lagi kalau dicermati seksama bahwa dari 155 UU yang sudah disahkan terdapat sekitar 90-an UU yang sebenarnya merujuk pada UU yang sama dan harusnya itu bisa dilakukan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya bukan?
Jadi, saya setuju sekali dengan salah satu karya seorang karikatur dari sebuah koran yang cukup terkenal yang mangatakan, "Terimalah cincin imitasi ini, sebagai ucapan terima kasih kami atas janji-janjimu yang palsu". Kira-kira seperti itulah!
Bagaimana menurut anda?
Mari kita lihat kinerja mereka selama ini. Dari kacamata saya yang baru saja naik jadi minus 1 bulan ini, hanya sedikit yang sungguh2 niat menjalankan perannya sebagai wakil kita. Tapi itupun sifatnya musiman dan performa mereka cenderung naik-turun. Sisanya yang sebagian besar masih saya anggap tidak memuaskan.
Masih ingat berita tentang pak SBY yang memarahi para wakil rakyat dalam sebuah rapat sekitar satu setengah tahun yang lalu? Ih, malu-maluin banget! Udah gede kok masih dimarahi? Jangan-jangan waktu kuliah juga tidur gara-gara dosennya nyanyi lagu nina bobo yah? Ada juga kenyataan bahwa mereka masih utang pada kita 129 RUU yang belum diselesaikan. Bukannya RUU yang wajib mereka selesaikan berjumlah (kalau tidak salah) 284 RUU? Belum lagi kalau dicermati seksama bahwa dari 155 UU yang sudah disahkan terdapat sekitar 90-an UU yang sebenarnya merujuk pada UU yang sama dan harusnya itu bisa dilakukan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya bukan?
Jadi, saya setuju sekali dengan salah satu karya seorang karikatur dari sebuah koran yang cukup terkenal yang mangatakan, "Terimalah cincin imitasi ini, sebagai ucapan terima kasih kami atas janji-janjimu yang palsu". Kira-kira seperti itulah!
Bagaimana menurut anda?
Mount Tea Berbahaya ??
Terkejut? Saya juga terkejut. Saya baru mendengarnya ketika saya sedang asyik menyeruput produk tersebut sambil menunggu kuliah selanjutnya. Salah seorang teman saya tiba-tiba berkata,
"Eh, loe tahu gak kalo itu ada bahayanya?"
Kaget mendengarnya, saya hampir tersedak.
"Kok bisa?? Tahu dari mana?"
Melalui pembicaraan kurang dari lima menit tersebut, saya baru tahu kalau produk tersebut memakai semacam unsur yang namanya "Essence" ato apapun itu. Karena saya bukan anak IPA saya tidak terlalu paham, tapi konsumsi yang berlebihan bisa menyebabkan ginjal kita terganggu. Teman saya bilang juga kalau ibunya pernah menjadi pencicip rasa di pabriknya sana. Mungkin saja ibunya lulusan IPA jadi bisa tahu hal-hal semacam itu.
Wah, jadi seperti Mi Instan saja yah? Padahal Mi dan Mount Tea sama-sama enak lho... Kalo gitu saya akan mengurangi konsumsi saya terhadap produk tersebut, karena saya masih mau hidup lebih lama.
Oh ya, tulisan diatas berdasarkan pengalaman 'mendengarkan' saya, jadi belum sampai 'merasakan'. Bagaimana menurut anda?
"Eh, loe tahu gak kalo itu ada bahayanya?"
Kaget mendengarnya, saya hampir tersedak.
"Kok bisa?? Tahu dari mana?"
Melalui pembicaraan kurang dari lima menit tersebut, saya baru tahu kalau produk tersebut memakai semacam unsur yang namanya "Essence" ato apapun itu. Karena saya bukan anak IPA saya tidak terlalu paham, tapi konsumsi yang berlebihan bisa menyebabkan ginjal kita terganggu. Teman saya bilang juga kalau ibunya pernah menjadi pencicip rasa di pabriknya sana. Mungkin saja ibunya lulusan IPA jadi bisa tahu hal-hal semacam itu.
Wah, jadi seperti Mi Instan saja yah? Padahal Mi dan Mount Tea sama-sama enak lho... Kalo gitu saya akan mengurangi konsumsi saya terhadap produk tersebut, karena saya masih mau hidup lebih lama.
Oh ya, tulisan diatas berdasarkan pengalaman 'mendengarkan' saya, jadi belum sampai 'merasakan'. Bagaimana menurut anda?
Senin, 25 Mei 2009
Kebebasan Pers Terancam!?
Tadi sore di sebuah stasiun televisi swasta, saya melihat peristiwa yang kembali mengejutkan saya sebagai seorang blogger dan salah satu anggota dari sebuah PERSMA. Belum habis keheranan saya akan kasus pemenjaraan seorang warga yang opininya, dimana tulisannya dimuat di sebuah koran, membuat tersinggung salah satu perusahaan dan mengakibatkan dirinya dituntut bahkan dipenjara, kini ada lagi kasus pembunuhan oleh salah seorang jurnalis koran "Radar Bali" bernama AA Narendra Prabangsa.
Cerita singkatnya begini. Korban diketahui menulis sebuah artikel tentang adanya dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan, dimana pelaku kejahatan yang bernama Komang Gede , yang menjabat sebagai akunting proyek pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli. Pembunuhan tersebut dilakukan di kediaman Nyoman Susrama, yang juga dikenal sebagai adik dari salah satu pejabat di Bangli. (Wah, tercium tanda-tanda korupsi dana nih)
Yang saya khawatirkan, bisa saja masyarakat takut untuk berpendapat bila kebebasan dan keamanan jiwanya terancam. Karena itu saya mohon pada pihak aparat dan pemerintah yang bersangkutan, tolong beri kami rasa aman untuk menyampaikan pendapat kami secara terbuka.
Cerita singkatnya begini. Korban diketahui menulis sebuah artikel tentang adanya dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan, dimana pelaku kejahatan yang bernama Komang Gede , yang menjabat sebagai akunting proyek pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli. Pembunuhan tersebut dilakukan di kediaman Nyoman Susrama, yang juga dikenal sebagai adik dari salah satu pejabat di Bangli. (Wah, tercium tanda-tanda korupsi dana nih)
Yang saya khawatirkan, bisa saja masyarakat takut untuk berpendapat bila kebebasan dan keamanan jiwanya terancam. Karena itu saya mohon pada pihak aparat dan pemerintah yang bersangkutan, tolong beri kami rasa aman untuk menyampaikan pendapat kami secara terbuka.
Langganan:
Postingan (Atom)
