Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2012

Jual Pin Fanmade AKB48

Mohon perhatiannya... ( ̄▽ ̄)

Postingan blog ini sepenuhnya sudah pindah ke blog yang baru, yang lebih berorientasi pada 48Family. Yaitu di alamat ini: http://takarenda.blogspot.com/2013/05/jual-pin-fanmade-akb48-48fams.html

Terima kasih atas perhatiannya. ♪( ´ ▽ ` )ノ

*・゜゜・*:.。..。.:*・(*゜▽゜*)・*:.。. .。.:*・゜゜・


______________________________________
Mau tahu sejarah AKB48 dan biografi Takamina secara lengkap dalam bahasa Indonesia?? Sekarang anda bisa membelinya dengan mengunjungi situs :
atau
Fans yang baik adalah fans yang tidak melupakan sejarah idolanya~ ^w^

Jumat, 02 November 2012

Jual Pin Fanmade JKT48

Mohon perhatiannya... ( ̄▽ ̄)

Postingan blog ini sepenuhnya sudah pindah ke blog yang baru, yang lebih berorientasi pada 48Family. Yaitu di alamat ini: http://takarenda.blogspot.com/2013/05/jual-pin-fanmade-jkt48.html

Terima kasih atas perhatiannya. ♪( ´ ▽ ` )ノ

*・゜゜・*:.。..。.:*・(*゜▽゜*)・*:.。. .。.:*・゜゜・


______________________________________
Mau tahu sejarah AKB48 dan biografi Takamina secara lengkap dalam bahasa Indonesia?? Sekarang anda bisa membelinya dengan mengunjungi situs :
atau
Fans yang baik adalah fans yang tidak melupakan sejarah idolanya~ ^w^

Sabtu, 22 September 2012

Doaku Untuk JKT48 [22 September 2012]

"Joyful! Kawaii! Try To Be The Best!"

GBK malam ini ada konser besar, SMTown concert...

Dan hanya beberapa ratus meter dari sana, JKT48 kini juga menggelar "konser kecil" alias penampilan teater rutin mereka..

Malam ini adalah show teater mereka ke-33, tak terasa sudah banyak yah..

Wahai para member JKT48, dan juga mungkin para calon 2nd Gen JKT48 yang berdedikasi tinggi, tengok dikit deh ke GBK...

"Di panggung inilah, puncak kesuksesan kalian akan tercapai"

Kalian mau ga suatu saat konser disana? Puluhan ribu fans chant dengan riuh? Entah chant ala wota, atau pun teriakan fans yang murni tulus diteriakkan untuk kalian?

Selama ini yang bisa konser di GBK cuma artis luar...

Tunjukin kalo artis lokal juga bisa, pelan2 gapai impian kalian lewat teater...

Doaku beserta kalian, semoga kalian mampu mengarungi jalan kesuksesan yang masih panjang dan terjal di hadapan kalian. 

Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! 
Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin! Amin!

"Bunga Sakura gugur dan meninggalkan ranting, tahun depan bersemi lagi...."

Semoga kelak, dan secepatnya, bunga-bunga sakura JKT48 akan mencapai puncak kesuksesan dan kebahagiaan akan bersemi sampai selama-lamanya....! ^_^

History of AKB48 - Dream Can Become True!!


Banyak fans 48family saat ini, lebih spesifik, fans JKT yang masih tidak tahu/kurang tahu dengan masa lalu AKB48 yang kelam. Jadi, mengutip dari sebuah sumber, saya akan menceritakan (lebih tepatnya mentranslate) sejarah AKB48, sekaligus menyuguhkan beberapa gambar yang diambil dari penceritaan masa lalu AKB48 ini...

AWAL MULANYA

Ketika proyek ini dimulai pertama kali, kira-kira sebanyak 7.924 gadis remaja dari seluruh Jepang mendaftar untuk audisi pertama. Tidak ada promosi audisi saat itu tapi semua itu karena nama Akimoto Yasushi yang menarik perhatian banyak pendaftar. Bersama dengan kalimat “Aku ingin bertemu dengan kalian yang memiliki kepribadian yang kuat” di poster audisi, hal ini menarik perhatian gadis-gadis remaja yang tidak punya hubungan apapun dengan industri musik untuk berkumpul di Akihabara Theater
Diantara para pendaftar, ada Atsuko Maeda, yang sekarang menjadi artis yang terkenal seantero Jepang. Saat itu dia masih seorang murid pendiam, memperhatikan pelajaran, yang memiliki nilai yang biasa-biasa saja dan mungkin akan menjalani hidup normal jika dia tidak melihat poster audisi. Atsuko sedang berjalan pulang dari sekolah bersama ibunya ketika ia melihat poster audisi dan memutuskan untuk mendaftar audisi. Ibunya melihat tindakan ini sebagai tindakan yang tidak biasa dari anaknya, tapi satu keputusan ini akan mengubah kehidupan anak ini seumur hidupnya.

Diakhir putaran terakhir audisi, 24 gadis remaja telah dipilih untuk menjadi member Idol Group ini. Mereka mulai pelajaran menari dan belajar bagaimana caranya menyanyi sambil pergi ke sekolah setiap hari. Kebanyakan dari member-member ini sama sekali tidak punya pengalaman dengan menyanyi dan menari sama sekali, dan mereka hanya diberikan waktu 1 bulan untuk berlatih sehingga mereka bisa tampil di hari pembukaan theater – 1 Desember 2005. Tapi karena pelatih tari mereka merasa bahwa dengan kemampuan para member saat itu masih belum bisa tampil pada tanggal 1 Desember, maka pembukaan theater ditunda seminggu menjadi hari dimana mereka melakukan debut theater mereka, 8 Desember.

Di hari pembukaan, ada beberapa orang yang duduk di bawah stage untuk menonton penampilan mereka. Tapi, kebanyakan dari mereka adalah staff dan para official, jumlah penonton yang asli pada hari itu hanyalah 7 orang. Mulai dari hari itu, mereka perform di theater mereka setiap hari, termasuk di akhir minggu dengan harapan bahwa semakin banyak orang akan mengenal mereka. Mereka meneruskan performance mereka setiap hari meskipun ada saat dimana benar-benar tidak ada yang menonton mereka. Mereka bahkan mencoba memberikan tiket seharga 1000 yen secara cuma-cuma pada para pejalan kaki yang melintas tapi hampir tidak ada orang yang mengambilnya. Mereka bahkan mencoba tampil dua kali seminggu pada akhir minggu dengan harapan ini akan menaikkkan kesempatan untuk mendapat penonton, tapi ini hanya merupakan pengalaman menyakitkan bagi para member saat itu.



Ini tidak berakhir sampai di sini saja, ketika member-member merayakan Natal,  natal pertama mereka bersama dengan AKB, mereka diminta untuk tampil di stage. Penuh dengan kebahagiaan, member-member mencoba membagikan flyer pada para pejalan kaku, mencoba menarik mereka untuk menonton pertunjukan Natal mereka. Ini adalah saat dimana mereka menyadari kenyataan pahit dari Masyarakat, kebanyakan pejalan kaki tidak memperdulikan mereka. Beberapa orang mengambil flyer mereka, melihatnya sebentar, lalu melemparkannya ke dalam tong sampah tepat di depan member-member. Hal ini tentu saja menghancurkan hari member-member. Pada akhirnya, tidak ada yang menonton, member-member merayakan Natal dengan sesama member.

PERTANDA DARI STATUS QUO

Meskipun terombang-ambing di lautan tanpa harapan, secara perlahan mereka mulai mendapat fans-fans setia yang selalu datang ke theater untuk menonton pertunjukan mereka. 2 minggu setelah debut mereka, mereka mendapat fan letter yang pertama. Secara garis besar, yang tertulis di fan letter itu adalah:

"Kerja keras dan ketidakmauan kalian untuk menyerah meskipun kalian ada di lingkungan yang keras telah menyentuh hatiku. Ini menginspirasiku untuk bekerja keras dengan pelajaranku juga"

Memang benar tekad keras mereka-lah yang menyentuh hari banyak orang yang ada di sekitar Akihabara saat itu, terutama Otaku, AKB48 mulai mendapat perhatian dari ‘dunia bawah tanah’.

Dengan jumlah fans royal yang bertambah-tambah, yang mulai mendatangi theater setiap hari, perbedaan kepopuleran antar member mulai nampak. Di antara para member ada Itano Tomomi, yang selalu menari di pojok stage. Ada 2 pilar di theater, untuk melihat member favorit mereka lebih jelas, para fans biasanya akan menonton dari tengah. Sialnya bagi Tomomi Itano, ini berarti dia tidak akan dapat melihat para penonton dari sisi stage. Tapi sebagai salah satu anggota yang tampil di stage, dia harus terus menari dan melambaikan tangannya meskipun tidak ada orang didepannya. Di sebuah wawancara, Tomochin (julukan Itano Tomomi) berkata bahwa dia terus melambaikan tangannya dengan harapan suau hari nanti akan ada orang di depannya, tapi ini cukup berdampak pada kejiwaannya. Ada bukti bahwa dia stress dan berteriak dan menjerit dan melemparkan peralatan make-up ke lantai. Kebanyakan member lain juga tidak bahagia, hampir semuanya memikirkan saat dimana mereka bisa berhenti melakukan hal ini (tampil).

Setiap hari akan ada setidaknya 1 member yang akan menangis di ruang ganti dan menolak untuk naik ke panggung. Kabarnya Akimoto Yasushi sendiri harus pergi ke theater setiap hari untuk menyemangati member-member untuk terus tampil dan memaksa mereka untuk percaya padanya lebih lama lagi. Untungnya sebuah kabar baik datang tak lama kemudian. Untuk pertama kalinya, pada tanggal 4 Februari 2006, 3 bulan setelah performance pertama mereka, tiket theater habis terjual.

Kira-kira 2 minggu kemudian, mereka mengumumkan bahwa aka nada audisi kedua. Ini adalah berita mengagetkan bagi para member original karena mereka melihat ini sebagai tanda bahwa mereka dianggap tidak mampu tambil sebagai grup yang baik. Tapi menurut Akimoto Yasushi di sebuah program TV entah kapan, audisi ini dimaksudkan untuk menambah jumlah member sehingga mereka bisa tampil setiap hari. Lagipula, memaksa sekelompok gadis remaja untuk tampil setiap hari dan dua kali di akhir minggu akan memaksa batasan fisik dan mental member-member

Di antara periode audisi kedua, yang sekarang dikenal sebagai Ratu Iklan Shinoda Mariko yang keluar dai audisi pertama diperbolehkan untuk bergabung dengan AKB8 dengan bantuan para fans. Mariko selama itu bekerja di café di depan theater sebagai seorang pelayan. Dia mendapat popularitas dari fans-fans yang datang ke café, dan karena bantuan fans ini juga dia dikenal Akimoto Yashushi. Faktanya, Akimoto Yasushi mungkin tidak tertarik para Shinoda Mariko karena dia datang audisi dan gagal pada suatu wawancara dengan Shinoda Mariko. Suatu hari, ketika Mariko sedang bekerja di café seperti biasa, Akimoto Yashushi tiba-tiba datang dan berbicara dengannya:

“Apakah kau Shinoda Mariko? Jika kau bisa menghafal 12 lagu dalam waktu 4 hari aku akan memperbolehkanmu bergabung dengan AKB48”, dengan kemampuan dan tekad yang luar biasa, Mariko mampu menghafal kedua belas lagu dan bergabung dengan AKB. Menjadikan dia satu-satunya member 1.5 gen.



AKB48 juga merilis single pertama mereka, “Sakura no Hanabiratachi” yang merupakan salah satu lagu yang dittampilkan di theater saat itu. Ada yang bilang bahwa Akimoto Yasushi sendiri yang menanyakan pendapat para fans untuk memilih sebuah lagu dari set list untuk debut single AKB. Single ini masuk ke top 10 mingguan Oricon dan terjual 22 ribu kopi yang sangat jarang untuk sebuah grup musik berlabel indie.

Sekitar 11.000 pendaftar dari seluruh dunia mendaftar untuk audisi kedua yang diadakan melalui video telepon. 19 gadis remaja lolos audisi dan mereka dibentuk menjadi grup lain, yang nantinya dinamai Team K, dengan original member sebagai Team A. Team K memulai debut performance mereka pada tanggal 1 April 2006 dengan theater yang penuh, tetapi performance mereka setelah itu tidak menarik penonton sebanak hari pertama. Alasan utamanya adalah karena kebanyakan fans masih royal kepada member-member original dan mereka tidak tertarik pada member-member baru. Kekecewaan dan perasaaan terhina lah yang memacu member Team K, sampai hari ini, Team K masih dibanding-bandingkan dengan Team A.

Setelah 19 member baru bergabung dengan AKB48, ditambah dengan ke-19 orginal member (sisanya mengundurkan diri/dipecat), jumlah personil AKB menjadi 38 orang, sebuah jumlah yang tidak pernah didengar di industri musik. Komplain dari fans-fans mengenai kesulitan mengenali member-membe rmuncul. Untuk solusinya, Akimoto Yashushi memutuskan bahwa diperlukan seseorang yang mewakili seluruh grup – Ace dari AKB48, dan yang dipilih, sekarang dikenal oleh orang-orang di seluruh dunia, adalah Atsuko Maeda.

Lalu proyek untuk melatih Maeda Atsuko menjadi seorang bintang dimulai. Sebelum recording untuk setlist untuk stage baru, Maeda Atsuko diberi sebuah solo song. Orang pertama di grup yang diberi perhatian spesial. Ketika ia melihat liriknya, ia kebingungan. Acchan (nickname Atsuko Maeda) tidak percaya pada kemampuan menyanyi dan kemampuan menarinya sama sekali, ini semua nampak tiba-tiba. Acchan lalu berbicara di sebuah wawancara bahwa dia menolak untuk menampilkan dirinya saat itu. Dia menangis di studio dan menolak untuk memulai rekaman. Para Manajer dan staff jadi panik dan ketika Akimoto Yasushi alias Aki-p datang setelah mendengar situasinya, dia dilarang masuk karena para manajer takut bahwa kehadiran Aki-p malah membuat segalanya lebih buruk.

Secara umum dan secara logika, seseorang yang mendaftar audisi sebuah menjadi member sebuah idol group seharusnya bahagia ketika ia mendapat perhatian. Tapi di situasi Atsuko Maeda, benar-benar kebalikannya. Acchan juga mengatakan pada sebuah wawancara bahwa dia tahu dan merasa ada lebih banyak member yang lebih baik darinya, dan dia bukanlah yang terbaik tetapi dia dipilih oleh tim manajemen. Dia merasa bersalah pada member lainnya. Di sisi lainnya, member-membe ryang dipilih sebagai back dancer untuk solo Atsuko Maeda juga tidak bisa menerima keputusan ini. Mereka tahu ini bukan salah Acchan karena mereka menjadi back dancer, tapi mereka tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka.

Setelah Maeda Atsuko menjadi center AKB, AKB48 akhirnya merilis major debut mereka. Debut single mereka “Aitakatta” yang tidak dikenal saat itu, nantinya akan menjadi terkenal di seluruh Jepang dan diketahui semua fans J-pop. Setelah mereka merilis major debut mereka akhirnya mulai dikenal orang-orang

KESEMPATAN DATANG DI SAAT YANG TIDAK KAU DUGA

Sayangnya ini memiliki dampak yang tidak terduga pada kehidupan sekolah mereka. Image Akihabara saat itu masih “gelap” dan “tidak biasa”, fakta bahwa AKB memiliki nama Akihabara (AN: AKB artinya Akihabara48) pada nama mereka secara instan membuat orang-orang merendahkan mereka. Itano Tomomi alias Tomochin, salah satu seorang member original, menceritakan pengalamannya yang pernah terjadi waktu dia masih di sekolah. Tomochin menyapa seorang temannya pada suatu pagi, tapi temannya hanya melihat ke belakang dan memeberinya tatapan yang dingin. Tomochin lalu bertanya kenapa mereka mengacuhkannya, teman masa kecilnya ini bilang dia merendahkan Tomochin karena dia bergabung dengan AKB48. Semenjak hari itu, mereka tidak pernah berbicara lagi. Ini tentu saja berakibat besar pada perasaannya. (jadi teringat kembali kasus Delima, idola saya di JKT48)



Disamping “Skirt, Hirari”, single kedua mereka, mereka tidak pernah dipanggil ke program TV. Tidak puas, para staff membawa member-member dan pergi ke setiap kantor saluran TV untuk mempromosikan mereka. Dengan kepercayaan bahwa semua orang hanya perlu melihat sekali untuk melihat seberapa tingginya tingkat penampilan mereka, mereka bahkan ditolak untuk memasuki kantor saluran TV karena mereka masih tidak di kenal saat itu. Kojima Haruna alias Nyan-nyan alias Harunyan, salah seorang orginal member yang masih aktif hingga kini, mengatakan bahwa para staff berkata pada para member untuk tidak khawatir, bahwa lagu selanjutnya akan menjadi lagu hit, tapi tentu saja hal ini tidak pernah terjadi. Disamping memiliki kepercayaan bahwa semua orang yang melihat performance mereka akan menyadari bahwa mereka mampu perform dengan luar biasa, hari-hari dimana AKB48 tidak dapat menjual CD terus berlanjut.

Disaat inilah Tomochin kembali stress dan melemparkan barang kesana kemari dan berteriak-teriak di ruang ganti. Hal ini merupakan bukti bahwa mental dan fisiknya telah mencapai batasnya, ini juga menyatakan bahwa kondisi ini sangat sulit untuk seorang anak berumur 14 tahun. Tomochin berbicara pada Aki-p beberapa kali dan menyatakan bahwa dia ingin keluar dari AKB, tapi Aki-p terus memintanya untuk menunggu sebentar lagi. Tomochin lalu mengatakan pada sebuah wawancara bahwa dia tidak tahu seberapa lama harus menunggu, atau seberapa lama dia mampu menunggu, tapi dia memutuskan untuk mempercayai Aki-p dan menunggu sebentar lagi untuk perubahan situasi.

Saat itu, ketika keadaan tidak bisa lebih buruk lagi, kesempatan untuk membalikkan keadaan muncul. Desember 2007, 2 tahun setelah debut mereka, ketika hari dimana mereka tidak laku terus berjalan, sebuah berita menyenangkan datang. Mereka diundang oleh NHK untuk tampil di konser Kouhaku. Ini adalah sebuah event besar dan bergengsi yang mengundang musisi-musisi top Jepang untuk tampil di akhir tahun untuk merayakan tahun baru. Tapi kenapa AKB48 dipanggil meski mereka tidak laku saat itu? Mereka dipilih untuk mewakili Akihabara boom, atau dalam kata lain kultur Otaku. Sebagai tambahan, mereka tidak muncul sebagai grup musik individual melainkan performance bersama musisi lainnya dari Akihabara yang populer saat itu. Hasilnya, jika seorang musisi saat itu tampil selama 3 menit untuk performance merka, AKB hanya diberi waktu 1 menit 35 detik. Meskipun ini nampak sebagai performance yang menyedihkan, performance mereka yang singkat ini disiarkan ke seluruh Jepang dan banyak member saat ini yang tahu AKB48 pertama kali dari performance di sini.



Waktu berlalu dan 2008 tiba, sudah 3 tahun semenjak AKB dibentuk. Ada banyak tekanan dalam grup bahwa jika mereka tidak bubar-bubar tapi tidak membuat AKB menjadi dikenal, semua akan berakhir. Salah satu event yang menandai tekanan ini adalah kontrak dengan label rekaman saat itu tidak dipebarui. Sementara mereka tidak merelease single baru, mereka masih tampil di theater, disaat inilah banyak orang yang sekarang berhubungan erat dengan mereka mengenal mereka.

Banyak orang yang pada waktu itu melihat AKB48 sebagai grup musik yang tak memiliki masa depan, dan rumor-rumor seperti AKB48 akan dibubarkan beredar diantara member-member. Di sebuah konser pada musim gugur 2008, 5 member termasuk salah satu member yang populer saat itu mengumumkan bahwa mereka akan graduate (mengundurkan diri) dari AKB48. Pada waktu itu, saat logical dan sebuah keputusan yang benar. Karena pada saat itu AKB48 nampak tidak akan maju dan terkenal.



Setelah tahun yang sepi lewat, 2009, 4 tahun setelah pembentukan orginal pertama. Tahun ini, Maeda Atsuko, Takahashi Minami alias Takamina, Itano Tomomi, dan beberapa original member dan member utama beranjak 18 tahun, lulus dari sekolah. Karena AKB48 selalu mengenakan seragam sekolah sebagai tema utama mereka, jika mereka tidak menemukan cara untuk membuat nama mereka jadi dikenal dalam proses transisi ke stage selanjutnya akan menjadi sulit. Tetapi, keempatan datang di saat yang tidak terduga
Setelah aktif selama 4 tahun, salah satu complain yang paling ramai diantara para fans adalah bahwa Aki-p tidak benar-benar mengerti member-member. Kebanyak complain ditujukan pada member-member yang seharusnya menyanyikan sebuah single dibanding mereka yang dipilih oleh produser dan director. Inilah ketika Aki- mendapat ide, “Kenapa kita tidak biarkan fans saja yang memilih?”. Untuk pertama kalinya di industri musik, sebuah event yang tidak pernah ada sebelumnya digelar pada tanggal 8 Juli 2009. Diberi nama Senbatsu Election, dimana fans mengirimkan voting para member favorit mereka yang akan menyanyikan single selanjutnya. Meskipun hanya ada 54 ribu vote saat itu, ini meninggalkan image di public bahwa AKB = Senbatsu Election.

Member-member lalu menargetkan partisipasi mereka yang kedua di konser Kouhaku. Kali ini mereka ingin tampil di stage sebagai AKB48, mereka ingin tampil individu, yang menandakan bahwa mereka telah bertumbuh dari underground idol menjadi sebuah Idol Group yang sebenarnya. Melihat ini, Aki-p memutuskan untuk menggubah sebuah lagu berdasarkan ini:


In front of your eyes, a large river flows through. 
It’s a wide and large river. 
Even if it’s dark, even if it’s deep, 
Even if its current is fast, don’t be afraid. 
No matter how far apart, there’ll definitely be a shore at the opposite side. 
Hold on to your dreams, until the day when it is realised comes.


Di depan matamu, 
Sebuah sungai yang besar mengalir. 
Sebuah sungai yang besar dan dalam. 
Meskipun gelap, meskipun dalam, 
Meskipun arusnya cepat, janganlah takut. 
Tak perduli seberapa jauh kau terpisah, pasti akan ada tepi disisi lainnya. 
Peganglah mimpimu, sampai hari mimpimu terwujud tiba.


“Seberangi sungainya dan raihlah mimpimu yang ada di sisi yang lain!!” adalah pesan yang dikirimkan Aki-p kepada para member. Ini adalah sebuah lagu yang berbeda dengan lagu-lagu yang AKB telah nyanyikan, yang kebanyakan adalah lagu romantic. Dengan lagu ini, pada Oktobr 2009, AKB48 mendapat peringkat no 1 di Oricon chart.

Ketika sebuah event recording terbuka untuk sebuah program radio pada tanggal 23 November 2009, ketika member-member AKB berbicara dengan producer AKB48 Akimoto Yasushi, ketika sebuah berita mengejutkan muncul. Mereka diundang ke konser Kouhaku yang ke 60. Setelah berjuang dan direndahkan selama 4 tahun, mereka akhirnya dapat perform di konser Kouhaku dengan nama mereka sendiri.

Dan setelah 7 tahun, mereka ‘berjalan sejauh’ 1830 meter dari theater kecil mereka di Akihabara dan tampil di Tokyo Dome selama 3 hari! :D (FYI, Tokyo Dome adalah salah satu tempat konser paling besar di Jepang. Semua impian musisi adalah untuk tampil di sini. Seperti yang kita tahu, JKT48 ikut tampil di sini selama 3 hari dengan membawakan lagu ‘Baby! Baby! Baby!’ versi bahasa Indonesia).

Untuk melihat sejarah lengkap dari AKB48 yang pernah ditayangkan di salah satu acara TV Jepang: Kinsma, berikut adalah link yang bisa Anda kunjungi:

PART 1:

PART 2:

PART 3:

PART 4:

PART 5:

PART 6:

PART 7:

PART 8:

PART 9 (END) :

===============================================================
Sumber asli dokumen ini dapat Anda lihat di: http://toomuchidea.blogspot.com/2012/09/masa-lalu-akb48_21.html?m=1

Kamis, 09 Februari 2012

Straight Kanan Mahathir Mohamed untuk Negara-Negara Eropa

Siapa yang tidak kenal Mahathir Muhamed? Dialah mantan perdana menteri negara tetangga kita, Malaysia. Biar gak penasaran terus sama orangnya, ini gambarnya dia sekarang, gan! Udah uzur yak?



Dan kali ini saya akan berbagi artikel tentang komentarnya yang menohok tulang rusuk, sampai sudu'en (orang jawa pasti tahu istilah ini), keras, dan tepat di ulu-ulu hati negara-negara di kawasan eropa. Intinya simpel aja sih: "Hei lu eropa pada! Udah deh, nggak usah kebanyakan gaya, sok pamer kuat atau tajir. Saatnya hadapi kenyataan kalo lu miskin pada!"

Ngakak bener gan, ketika membaca artikel ini. Nggak usah tunggu lama, artikelnya bisa dilihat di sini



And now, please say goodbye to the strong European Countries we all knew~~

Hidup Asia! Hidup Indonesia juga!

Senin, 29 Agustus 2011

Daftar Waralaba Jasa Kurir, Laundry, dan Tour&Travel Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang Jasa Kurir, Laundry, dan Tour&Travel yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Hiburan Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang hiburan yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di :

http://www.ziddu.com/download/16215061/DaftarWaralabaMinimRisikoHiburan.docx.html

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Otomotif Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang otomotif yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Kesehatan dan Kecantikan Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang kesehatan dan kecantikan yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Retail Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang retail yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Daftar Waralaba Makanan-Minuman Minim Resiko

Untuk dapat mengetahui apa saja daftar waralaba di bidang kuliner (makanan dan minuman) yang memiliki risiko bisnis rendah, bisa di download di sini

Selamat mencoba, salam sukses untuk kita semua! ^_^

Minggu, 28 Agustus 2011

Memilih Usaha Waralaba Minim Resiko

Usaha-usaha dengan konsep waralaba berkembang pesat, di kota besar maupun di daerah. Hal ini disebabkan oleh mudahnya menjalankan usaha jenis ini, tak peduli berapa pun umur pihak terwaralabanya. Masih teringat di benak saya dulu sewaktu pertama kali masuk kampus, sekitar 3 tahun yang lalu, sedang booming status kewirausahaan di kalangan anak-anak muda. Sekarang, kalau ada anak muda bisa sukses berusaha sendiri, hal itu sudah lumrah malahan harus, karena dinilai oleh masyarakat bahwa semangatnya masih menyala-nyala. Namun lain halnya kalau sudah berusia 50+, yang notabene sering terkena post power syndrome atau lebih memilih untuk bersantai-santai setelah hampir separuh abad bekerja keras.

Beberapa pengamat yang berhubungan dengan usaha waralaba menyarankan beberapa hal, antara lain yang paling penting adalah kita harus mencari info dulu sebelum membeli merek, usaha sesuai minat agar menjalankannya dengan sepenuh hati, usaha terkait kebutuhan manusia sehari-hari, dan sebagainya. Jika dirangkum secara komprehensif, maka akan kita dapatkan guidelines sebagai berikut:


Sepuluh Kriteria Waralaba Yang Layak Dipilih dan Minim Risiko:

1. Usaha waralaba telah berumur lebih dari 5 tahun.
2. Memiliki lebih dari satu cabang dengan pembukaan gerai yang tidak terlalu ekspansif.
3. Terbukti menguntungkan, bisa dicek apa semua mitra happy dan tidak ada yang tutup.
4. Memiliki struktur organisasi yang lengkap.
5. Pemilik merek (pewaralaba) memiliki jurus-jurus marketing plan tahunan.
6. Memiliki brand yang kuat dan dikenal masyarakat luas.
7. Mudah dijalankan dan bisa dijalankan oleh siapa saja tanpa perlu keahlian khusus.
8. Bukan bisnis musiman sehingga bisnisnya berumur panjang.
9. Pewaralaba memberikan support penuh bagi Terwaralaba/Mitra (pembeli merek), baik bahan baku, pelatihan, promosi, hingga kunjungan ke gerai Mitra.
10. Memiliki Standard Operating Procedure (SOP), dan sistem komputerisasi yang terhubung anntara Mitra dan Pewaralaba secara online dan terbuka.



Nah, kini pertanyaannya adalah, usaha-usaha macam apa saja yang cocok dijalankan oleh kebanyakan berusia 50+ tahun?

1. Retail/Minimarket adalah salah satu contohnya, apalagi yang mereknya dikenal luas. Contoh: Alfamart, Indomaret
2. Kuliner juga bisa dijadikan pilihan. Namun jangan terjebak karena murahnya investasi yang ditawarkan, apalagi yang dapat dibilang usaha musiman. It’s high risk, man! Lebih baik anda membuka restoran dengan sajian makanan padang, sunda, mie, bakso, hingga kedai kopi yang menjanjikan usaha yang lebih tahan lama.
3. Usaha yang bersifat mulia dan membantu sesama, seperti apotek, klinik laboratorium, dan biro perjalanan haji dan umroh.
4. Salon kecantikan dan hiburan, seperti karaoke dan game center. Asalkan punya lokasi yang strategis seperti mal, pusat perbelanjaan atau berada di pinggir jalan, ruko dan dekat kompleks perumahan.
5. Laundry (pick up point), ticketing, atau jasa kurir, jika lebih ingin menjalankan usaha dari rumah.

Mau dapat info-info kontak ringkas mengenai ragam waralaba minim risiko tersebut? Anda bisa melihatnya pada postingan berikutnya. Stay Tuned! :D
_____________________________________________________
Sumber: Tabloid Waralaba Edisi Khusus, Edisi 003 Tahun III 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Value Enhancer - Transformational Service

Pada umumnya, service sering diartikan sempit sebagai sebuah bentuk pelayanan setelah pembelian. Mungkin karena sebagian hidup kita harus menservis motor tiap bulan kali ya? Nah, mau tahu tingkatan-tingkatan service yang oleh kalangan akademisi sering disebut sebagai Value Enhancer? Ayo kita simak dulu ulasan singkat yang sangat ringkas ini.

Berdasarkan penggabungan konsep buku-buku literatur kuliah manajemen dengan buku kontemporer dari Hermawan kartajaya, ada tiga jenis tingkatan service, yaitu Excellent Service, Experiential Service, dan Transformational Service. Harap diingat bahwa manfaat dari service adalah menjadi penambah daya saing atau nilai produk, karena meningkatkan kadar diferensiasi dan menjauhkan diri dari komoditisasi yang kelak akan dapat menjebak kita dalam price war.

Oke, langsung saja kita membahas tiga tingkat service tersebut:

1. Excellent Service

Konsep “pelayanan yang sempurna” ini banyak mengacu pada standar RATER (Reliability, Assurance, Tangible, Empathy, dan Responsiveness).
Manakala penyedia service telah mampu memenuhi standar RATER ini, apakah yang harus dilakukan? Kita harus memberikan service yang mampu menghasilkan diferensiasi yang lebih tinggi, yaitu Experiential Service.

2. Experiential Service

Merupakan tingkatan service yang sangat menyentuh dan sangat berbeda / unik dirasakan oleh pelanggan dengan kegiatan yang bisa menstimulasi lima panca indera (5 senses) anda begitu pelanggan masuk ke service stage. Berikut adalah ilustrasi modul stratejik experiential service dari buku Customer Experience Management, karangan Bernd Smith.



Contoh: Bagaimana pelayanan hotel dulu dibandingkan dengan sekarang?

3. Transformational Service
Merupakan service yang mampu memberikan solusi secara total atas masalah pelanggan; solusi atas produk-produk yang anda tawarkan. Bukan hanya memunculkan perasaan exciting saja sebagai tujuannya, namun lebih dari itu, Transformational Service ingin menghadirkan kesadaran dalam diri pelanggan. Intinya, Transformasi harus membuat Berubah.

Jadi, Transformational Service itu sifatnya sangat personal / pribadi. Ada pelanggan yang ter-transformasi setelah mengkonsumsi sebuah produk, namun ada juga yang menjadi manusia yang sama meskipun telah mengkonsumsinya berkali-kali. Semua hal yang telah disebutkan di atas merupakan sebuah introductional dari Transformational Service dimana Experiential Marketing dipakai sebagai basis fondasinya.

Kamis, 17 Februari 2011

Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Terakhir)

Kesimpulan

Di antara negara-negara BRIC yang ada, tampaknya pilihan Indonesia untuk berfokus pada kerja sama dengan Cina adalah pilihan yang tepat. Selain dapat menjadi benchmarking yang tepat, mengingat beberapa kesamaan modal kekuatan untuk bersaing di pasar global, kerjasama ASEAN dengan Cina sudah menjadi langkah awal yang sangat bagus, dimana Indonesia menjadi leader dari ASEAN itu sendiri. Bank Mandiri yang melihat peluang itu, bahkan mengadakan beberapa forum bersama serta mengajukan positioning dirinya agar menjadi ujung tombak Indonesia adalah keputusan yang berani dan patut diacungi jempol.

Namun, dalam usaha menjadikan Indonesia sebagai negara pelengkap BRIC tersebut, terdapat beberapa persyaratan atau masalah yang harus dibenahi terlebih dahulu. Masalah-masalah kali ini lebih terkait pada bidang legalitas/hukum perbankan di negara ini yang peraturannya terlalu longgar jika dibandingkan dengan Cina, bahkan Malaysia yang menjadi tetangga terdekat kita. Hal ini sangat penting untuk membangun wibawa dalam mengikat kerjasama lebih lanjut dengan negara-negara internasional lainnya, tidak hanya dengan Cina. Selain itu, juga agar bank lokal lainnya bisa sedikit bernafas lega dan mampu untuk berkonsentrasi membangun keunggulan kompetetifnya masing-masing berlandaskan ideologi yang sama, yaitu untuk melebarkan sayap ekspansinya ke luar negeri.

Bank Mandiri tidak bisa begitu saja dibiarkan berusaha sendiri dan menjadi single-fighter dalam kampanye menuju BRIC ini. Pemerintah, dalam hal ini Gubernur Bank Indonesia, harus lebih mempunyai komitmen, rencana, dan tindakan yang jelas untuk mulai memperketat peraturan perbankan di negara kita. Dominasi ekspansi asing dalam hal kepemilikan saham mayoritas harus dibatasi dan diawasi dengan ketat. Sebab jika tidak diawasi dan dibatasi kepemilikannya, maka bisa terjadi praktik-praktik kepemilikan mayoritas yang tidak berlandaskan asas saling mengawasi. Mungkin pembatasan seperti yang dilakukan di Cina dan Malaysia bisa ditiru, mengingat kedekatan dan beberapa kesamaan yang dimiliki. Sudah saatnya Indonesia juga bisa berdiri sejajar dalam posisi tawar-menawar ekspansi dengan negara lain, seperti yang sudah ditunjukkan oleh Wapres Boediono yang berhasil membantu Bank Mandiri beroperasi secara penuh di Shanghai, Cina.

Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Kedua)

Overview Situasi dan Kondisi

Di bawah kepemimpinan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri saat ini, Bank Mandiri mendeklarasikan kesiapannya sebagai salah satu ujung tombak bagi Indonesia untuk bisa memajukan kerja sama internasional. Salah satunya dengan bergabung dalam China-ASEAN Interbank Association (CAIBA) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan peran Bank Mandiri di kawasan ASEAN. Dengan membuka peluang bisnis dari kawasan ASEAN dan Cina ke Indonesia, diharapkan akan sejalan dengan langkah strategis Mandiri yang ingin menjadi top five di tahun 2014 dan top three bank ASEAN di tahun 2020 dan mempunyai cabang di dunia internasional lebih banyak lagi.

Salah satu tembok terbesar yang harus dihadapi Bank Mandiri adalah penetrasi pasarnya ke negeri tirai bambu, Republik Rakyat Cina, yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi raksasa yang tergabung dalam The Big Four yang siap untuk mengungguli kedigdayaan Amerika Serikat. Apalagi letak geografis dan pertumbuhan perekonomian Indonesia menjadi kawasan strategis yang mempunyai pengaruh secara politik kedua negara ini, Amerika Serikat dan Cina. Namun akhir-akhir ini, kerjasama bilateral strategis antara ASEAN dengan Cina menjadi prioritas utama bagi Indonesia, dan paling tidak ini juga bisa menjadi salah satu kesempatan bagi Bank Mandiri untuk memantapkan positioningnya sebagai wakil perwujudan Indonesia di dunia perbankan internasional. Dan sekali lagi, dengan menjejakkan kaki bisnisnya ke Cina, itu akan menjadi sebuah langkah yang sangat signifikan.

CAIBA merupakan inisiatif bersama antara China Development Bank (CBD) dengan bank utama di wilayah ASEAN untuk meningkatkan kerjasama perbankan Cina dan negara-negara ASEAN dalam membayai pembangunan infrastruktur di negara-negara ASEAN. Tentu saja yang diharapkan oleh Bank Mandiri adalah perkembangan kerjasama yang baik antara perbankan Indonesia dan Cina dalam menyalurkan pembiayaan yang produktif.
Sebenarnya sejak tahun 2003, dimana waktu itu E.C.W. Neloe masih menjabat sebagai Presiden dan CEO Bank Mandiri, telah dilakukan pembukaan kantor perwakilan luar negeri yang berada di Shanghai, Cina. Kantor tersebut diplot untuk bisa memfasilitasi pertukaran informasi dalam bidang perdagangan dan kesempatan berinvestasi antara dua negara ini. Dan aktivitas itu akan melibatkan dari tingkat individu-individu sampai dengan tingkat korporasi.

Sebenarnya Bank Mandiri telah memiliki kantor cabang di Cina sejak 2007, namun operasionalnya masih terbatas dan tidak bisa memiliki hak untuk meningkatkan pembiayaan pihak ketiga di Cina. Kondisi itu juga tidak bisa dikatakan sebagai kondisi yang sempurna bagi Bank Mandiri untuk menjadi jembatan kedua negara menjalin kerjasama secara langsung. Jika saja operasi kantor cabang itu dibuka sepenuhnya dan tidak dibatasi oleh hukum bisnis yang ketat di sana, maka akan tercipta sebuah kondisi penuh keuntungan dimana Bank Mandiri akan memiliki akses cepat dan langsung ke pasar bisnis Cina.

Keinginan Bank Mandiri yang tampaknya sangat sulit diwujudkan tersebut mulai mendapat angin segar ketika Wakil Presiden Boediono berinisiatif meminta Cina izinkan Bank Mandiri membuka cabangnya secara full-fledged. Pada kunjungan kenegaraannya ke Beijing 17-21 Oktober yang lalu, Boediono sekaligus mengingatkan Perdana Menteri Cina, Wen Jiabau, untuk mempertimbangkan kembali pembukaan kantor cabang operasional Mandiri sebagai ganti telah memberikan kelonggaran bagi pembukaan cabang Bank of China di Jakarta.

Akhirnya pada 3 November 2010, China Banking Regulatory Commision (CBRC) mengizinkan Bank Mandiri untuk membuka kantor cabang operasional yang bersifat total operasionalnya di Shanghai. Pada tahun-tahun sebelumnya, Bank Mandiri sangat sulit untuk membuka kantor cabang operasional di Cina karena izin yang ketat. Untuk itu Bank Mandiri harus menyiapkan dokumen-dokumen berisi prosedur pendirian kantor cabang operasional sesuai peraturan yang berlaku di Shanghai dan menyampaikan aplikasi business permit operasional perbankan kepada CBRC. Kantor cabang ini direncanakan akan beroperasi pada semester pertama tahun 2011 untuk melayani aktivitas perbankan, seperti penghimpunan dana korporasi, penyaluran kredit korporasi, transaksi perdagangan ekspor impor dan remittance. Dan kesuksesan pendirian cabang di Shanghai inilah yang melengkapi jaringan cabang internasional Bank Mandiri di tujuh negara di tiga benua.

Pasca mengantongi izin dari otoritas perbankan Cina tersebut untuk mengizinkan operasi kantor cabangnya secara penuh, Mandiri segera memperkuat ekspansi bisnisnya dengan menggandeng Industrial and Commercial Bank of China Limited (ICBC), yang merupakan bank terbesar di Cina dan peringkat ketigabelas dunia. Bentuk kerjasama tersebut berupa dukungan ICBC terhadap kantor cabang Mandiri di Shanghai dalam bentuk Renminbi Settlement dan Treasury. Dan sekali lagi, tujuan kerjasama Bank Mandiri kali ini adalah untuk memastikan bahwa hubungan bisnis antara Indonesia dan Cina dapat meningkat dan tumbuh lebih baik lagi.

Lebih jauh lagi, terkhusus untuk kantor cabang di luar negeri, Bank Mandiri berencana menambah kantor cabang internasional di Malaysia dari enam outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang, menjadi lima belas di tahun 2011. Rencana ini padahal bisa terlaksana pada akhir tahun 2010. Namun lagi-lagi karena terkendala aturan dari Bank Sentral Malaysia, penambahan kantor outlet ini pun harus ditunda. Dan sampai sekarang belum diketahui apa alasan Bank Sentral Malaysia menundanya.
Padahal di negeri jiran ini, potensi pasar yang didominasi oleh TKI ini masih besar dan tidak hanya terpusat di Kuala Lumpur. Mandiri bermaksud untuk lebih merambah daerah sekitar yang masih belum tergarap dengan merencanakan membuka cabang penuh di sana, tapi salah satu persyaratan sulit untuk mendapat izin membentuk kantor cabang penuh adalah bermodalkan 300 juta ringgit.

Analisa Situasi dan Kondisi

Pertama-tama yang patut diperhatikan adalah tentang adanya situasi tawar-menawar antara Boediono dengan PM Cina, yang ada hubungannya dengan asas legal dan kerjasama bilateral. Pertimbangan lainnya yang ada selain “politik balas jasa” di sini yaitu jika ingin mempererat hubungan antar negara maka hendaknya bisa menciptakan sebuah sistem yang mempercepat perdagangan bilateral-swap. Jadi aktivitas bisnis internasional antara Indonesia dengan Cina bisa langsung dengan menggunakan mata uang yuan dan rupiah tanpa harus melalui penukaran mata uang dolar amerika. Dengan demikian kerjasama bilateral yang lebih intim akan terjamin dan kemungkinan bagi Indonesia untuk segera menancapkan salah satu kekuatannya ke lingkaran BRIC akan semakin besar. Walaupun untuk itu, kelonggaran peraturan bisnis yang ada harus dilandasi dan dipengaruhi oleh adanya pertukaran kepentingan antar pemerintah dan politik luar negeri.

Kedua, yang menjadi keprihatinan bersama dalam negeri yang sangat menghambat ekspansi banyak perusahaan Indonesia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri, adalah perbedaan ketat tidaknya peraturan yang kita miliki jika dibandingkan dengan peraturan di luar negeri. Memang banyak jenis industri yang mengalami hal serupa, namun makalah ini akan lebih memfokuskan pada masalah di industri perbankan.
Indonesia adalah salah satu dari tiga negara, selain Korea Selatan dan Argentina, yang memiliki keterbukaan berlebih dalam sistem perbankannya Banyak sekali bank asing yang dengan derasnya masuk ke Indonesia, dan terlihat sangat mudah untuk berekspansi ke negeri ini, baik itu melalui pembukaan cabang secara normal atau melalui persentase kepemilikan di beberapa perusahaan strategis. Di negeri ini bank asing bisa memiliki 99 persen saham untuk dimiliki.

Namun, keterbukaan yang diterapkan di Indonesia ini tidak berlaku sebaliknya di luar negeri. Dan hal ini sangat menyulitkan bank-bank nasional, yang ironisnya juga harus bertahan mati-matian untuk mengembangkan daya saingnya dari gempuran luar negeri, untuk melakukan ekspansi yang sangat sering dikeluhkan dan menjadi tantangan terberat mereka. Dari kasus Bank Mandiri di atas kita bisa melihat adanya kesulitan yang dialami mereka untuk melakukan ekspansi secara penuh di Cina dan Malaysia, dimana mereka selalu terbelit-belit dengan masalah peraturan maupun Memorandum of Understanding (MoU).

Banyak izin berlapis-lapis harus dipenuhi pihak Bank Mandiri untuk membuka cabang di Cina, dan itu juga masih belum langsung bisa melaksanakan transaksi Reminbi. Sedangkan di Indonesia tidak ada izin berlapis setebal dan sekokoh itu. Mereka bisa mengumpulkan dana dari masyarakat, melayani transaksi valas, menyalurkan kredit, dan sebagainya. Yang amat disayangkan adalah sebanyak 49 persen saham sepuluh bank besar di Indonesia dikuasai asing, kecuali Bank Mandiri dan BCA.

Bank sentral kita juga memberikan kemudahan bagi investor asing untuk membeli bank-bank lokal tanpa harus menyuntik modal hingga tiga triliun rupiah. Bank-bank yang dimiliki asing tersebut juga mendapatkan perlakuan yang sama dalam berekspansi. Kondisi ini menguatkan predikat Indonesia sebagai tamu asing di negerinya sendiri, sebuah ironi di atas berbagai usaha yang dilakukan untuk memperkuat daya saing internasional perusahaan-perusahaan Indonesia di dunia internasional.

Jumat, 04 Februari 2011

Bank Mandiri : Tantangan Internasional dan Peran Strategis bagi Indonesia untuk Melengkapi Kekuatan BRIC (Bagian Pertama)

Profil dan Perjalanan Bisnis Bank Mandiri

Bank Mandiri adalah salah satu bank swasta paling terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan perbankan untuk segmen bisnis korporasi, komersial, mikro-retail, consumer finance, serta perbendaharaan dan perbankan internasional. Bank Mandiri memiliki anak-anak perusahaan yang menopang lini bisnis utamanya, semacam Mandiri Sekuritas (jasa pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali, dan Mandiri Tunas Finance (jasa keuangan).

Bank Mandiri memiliki sebuah visi besar, yaitu menjadi satu-satunya bank yang paling dikagumi, paling progresif, dan paling terpercaya. Visi itu didukung oleh beberapa misi, yaitu menjadi bank yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, memberikan hasil dan keuntungan yang maksimal bagi para stakeholder, melaksanakan manajemen terbuka, dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Bank Mandiri pada awalnya merupakan merger dari empat bank pemerintah yang diselesaikan pada Juli tahun 1999, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Pembangunan Indonesia. Robby Djohan saat itulah yang menjadi nahkoda kepemimpinan di Bank Mandiri. Ia berkeinginan untuk menjadikan bank ini sekelas, bahkan melebihi, Citibank yang pada waktu itu tercatat sebagai salah satu bank terbaik di dunia internasional. Yang dimaksud adalah, operasional Mandiri harus disesuaikan dengan standar bank-bank terbaik di tingkat dunia, baik dalam kualitas pelayanan, produk-produk yang ditawarkan maupun sistemnya. Dan sejak awal, mantan bankir Citibank ini telah memilih positioning Mandiri sebagai retail banking, seperti Citibank dan BCA, yang waktu itu sudah memiliki posisi kuat dalam pasar retail dan consumer banking di Indonesia.

Namun, banyak juga tantangan yang harus dihadapi oleh Bank Mandiri, salah satunya adalah kondisi makro ekonomi yang saat itu sedang kacau balau akibat badai krisi dan kredit macet negara yang menumpuk. Selain itu, mengubah karakter asli dari yang semula adalah corporate banking menjadi retail banking juga tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu dikarenakan kultur perusahaan yang sebelum terjadi merger telah terbiasa menangani perusahaan-perusahaan yang berskala besar.
Cita-cita untuk menjadikan Mandiri bisa bersaing di level internasional dan global tersebut tidak berhenti begitu saja ketika Robby turun dari posisi tertingginya. Agus Martowardojo, bawahan sekaligus anak didik Robby yang pernah menempati Executive Vice President Manajemen Risiko Kredit dan Restrukturisasi saat Robby masih menjadi atasan, menjadi ahli warisnya yang mampu membawa perubahan signifikan pada Bank Mandiri.

Salah satunya adalah pencapaian pada semester pertama tahun 2009, tentang dana tabungan yang mencapai 97,1 triliun rupiah yang sudah tak jauh beda dengan pencapaian BCA yang mencapai 101 triliun rupiah pada Juni 2009. Sedangkan di bisnis kartu kredit, Bank Mandiri telah mencetak 1,6 juta sampai dengan kuartal ketiga 2009. Dan bisa dibandingkan dengan Citibank yang sudah bertahun-tahun menjadi raja kartu kredit di Indonesia, jumlah kartu yang diterbitkan baru 1,3 juta unit. Untuk memperkuat posisinya sebagai retail banking, Mandiri juga fokus melayani kredit UM-KM. Sampai September 2009, jumlah nasabah UM-KM mencapai 437.872 nasabah, dua kalinya tahun lalu. Sementara total penyaluran kredit bertumbuh 18,6% menjadi 25,51 triliun rupiah sampai September 2009.

Total aset bank Mandiri per September 2009 sebesar 365,5 triliun rupiah, naik 50 triliun rupiah dibandingkan tahun lalu. Yang patut diacungi jempol adalah tingkat rasio kredit bermasalahnya (NPL) menurun drastis berkat keberhasilan restrukturisasi kredit macetnya. Di akhir 2005, NPL bruto Mandiri mencapai 25,2% dan pada kuartal ketiga tahun 2009 hanya 3,8%. Angka itu sudah dibawah ketentuan maksimal Bank Indonesia yaitu sebesar 5%.

Selain dari data statistik finansial itu, perubahan juga terjadi pada struktur perusahaan yang diubah menjadi Strategic Business Unit (SBU) yang artinya setiap direktorat perusahaan harus berfokus pada value perusahaan. Lalu juga pada bagian roles and responsibility, ruang lingkup dan tanggung jawabnya menjadi berbeda. Kemudian ada juga perubahan sistem manajemen performanya, yang ditandai dengan pembaharuan Key Performance Indicator (KPI), cara evaluasi, targetnya, serta sistem reward yang menentukan tepat tidaknya seseorang menempati posisi tertentu.
Perubahan yang dibawa oleh Agus Martowardojo adalah perubahan yang bersifat substansial dan paling mendasar. Selain itu juga secara holistis dan menyeluruh, baik itu pada mindset maupun perilaku yang terjadi. Perubahan itu berkaitan dengan kultur perusahaan yang dikelola dan direformasi dengan baik oleh direktorat khusus bernama Change Management. Ia membuat anggota direksi menjadi cukup besar dan semuanya bekerja dengan sangat efektif. Selain itu, ia juga mengambil banyak karyawan profesional dari bank asing maupun beberapa konsultan yang ada. Dengan demikian, itu bisa membuat tata nilai di Bank Mandiri berubah banyak dan menjadi penuh dengan integritas. Ditambah dengan aspek Good Corporate Governance yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, keadilan, dan independensi, yang sudah diakui sejajar dengan penerapan GCG di perusahaan-perusahaan dalam Grup Astra.

Perubahan itu bermula pada tahun 2005, ketika dilakukan pengajian untuk menentukan arah bank ini dalam lima tahun ke depan. Hasilnya, diputuskan bahwa di tahun 2010 nantinya Mandiri sudah harus menjadi bank yang sudah menguasai pasar berlevel Asia Tenggara. Artinya, Mandiri juga harus bisa bersaing dengan bank di kawasan ASEAN seperti Maybank dari Malaysia, DBS dari Singapura, atau Bangkok Bank. Salah satu indikatornya adalah kapitalisasi pasar yang harus mencapai US$ 10 Miliar.
Perkembangan terakhir sejak bulan Desember 2010 kemarin, Bank Mandiri sudah memperkerjakan lebih dari 240 ribu karyawan di 1.296 cabang dan tujuh kantor perwakilan di luar negeri (Singapura, Hong Kong, Cayman Island, Timor Leste, Inggris, Malaysia, dan terakhir di Cina). Saluran-saluran distribusi pelayanan yang digunakan Bank Mandiri adalah 5.495 ATM milik sendiri, 14.822 ATM bekerja sama dengan jaringan bisnis LINK, 42.728 unit Electronic Data Capture (EDC), dan juga saluran-saluran elektronik seperti Internet Banking, SMS Banking, dan Call Center 14000.

Rencananya, Mandiri akan menambah jumlah cabang dengan total mencapai 520 unit. Ini terdiri dari 250 kantor cabang, 70 unit mikro dan 200 kios mikro. Sedangkan target kredit mikro tahun 2011 mencapai 11,4 triliun rupiah.

BRIC dan Indonesia

BRIC merupakan singkatan dari empat negara berkembang yang paling berpengaruh besar dalam skala perekonomian global, yaitu Brazil, Rusia, India, dan Cina. BRIC adalah istilah yang diperkenalkan Jim O’Neill sebagai bentuk antisipasi akan kemunculan negara-negara yang punya ukuuran perekonomian yang bisa menandingi ukuran perekonomian negara maju dunia, semacam Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.
Pada tahun 2001, Goldman Sachs, sebuah bank investasi internasional, menganggap bahwa Cina sangat memungkinkan untuk menjadi penguasa ekonomi global terbesar sebelum tahun 2030. Secara kolektif, kondisi ekonomi BRIC juga bisa saja mengungguli hasil output dari negara-negara kaya di Group of Seven—yang telah mendominasi manajemen ekonomi global—pada tahun 2032.

BRIC telah memiliki market share yang lebih besar daripada Amerika Serikat sendiri. Alasannya adalah Cina, yang menyumbangkan peran sebagai salah satu eksportir global terbesar tahun lalu, kemudian digabungkan dengan ekspor perangkat lunak dari India, kemudian ekspor minyak dan gas bumi dari Rusia, dan juga dominasi pasar agrikultur dari para petani yang super kompeten dari Brazil. Inilah yang sering membuat para investor global beranggapan bahwa BRIC tak ubah layaknya “The Promised Land” bagi mereka semua.

Indonesia sendiri sudah diperhitungkan oleh Goldman Sachs sebagai salah satu kelompok negara N-11, yaitu kelompok negara yang diperkirakan juga akan memiliki ukuran perekonomian yang akan bisa menandingi negara-negara terbesar dalam perekonomian versi tahun 2001, alias BRIC. Termasuk di dalamnya ada Korea Selatan dan Mexico yang juga memiliki performa perekonomian yang bagus dan juga berhasil menarik perhatian dunia. Namun N-11 sendiri bukan merupakan ukuran panduan investasi yang pasti dan menarik bagi para investor global, mengingat ada beberapa negara yang masih berjuang secara mencolok seperti Bangladesh juga masuk di dalam N-11. Dan itu juga masih bukan merupakan kebanggaan tersendiri untuk negara-negara yang ada di dalamnya. Tidak bisa ditawar-tawar lagi, untuk dapat menjadi pemain bisnis internasional yang tulen dan patut diperhitungkan secara pasti, usaha-usaha agar menjadi pantas mendampingi BRIC adalah harga mati.

Upaya mengaitkan Indonesia dengan BRIC sudah terjadi sejak pertengahan 2009 lalu, dimana pada saat itu Indonesia bukan hanya dapat meminimalisir dampak krisis keuangan global tapi juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Bulan Juli 2010 pun, Morgan Stanley yang merupakan pesaing dari Goldman Sachs tanpa ragu mengusulkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam tambahan BRIC pada tahun 2011, jika berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Namun, kali ini tantangan besar kembali diberikan oleh Goldman Sachs, bahwa Indonesia akan memenuhi syarat jika GDP-nya berhasil mencapai 3% dari GDP dunia. Tak pelak lagi, ini bagaikan sebuah bendera start yang sangat menjanjikan bagi Indonesia. Pelan tapi pasti, investor asing mulai menyerbu negeri kita ini, bahkan tidak peduli meski ada kegaduhan politik di penghujung tahun 2009 lalu.

Dalam suatu event bertajuk Bank Mandiri Economic Forum, Profesor Xavier Sala-i Martin yang adalah Ketua Penasehat Global Competitiveness Network dari Forum Ekonomi Global, sempat melontarkan pernyataan bahwa Indonesia mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan keempat negara BRIC tersebut. Dalam hal indeks daya saing global, Indonesia (ranking 44) memiliki posisi yang lebih bagus daripada Brazil (ranking 58), Rusia (ranking 63), dan India (ranking 51). Ia juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan devisa dan kapital yang lebih banyak untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya, walaupun masih ketinggalan jauh dengan Cina. Dalam hal infrastruktur, Indonesia menempati urutan keempat diatas india, jika dilakukan perbandingan dengan keempat negara tersebut.

Sementara itu terdapat beberapa fakta mengenai relasi bisnis internasional yang semakin bertambah erat antara Cina dengan Indonesia. Cina telah sejak lama menjadi investor terbesar di Indonesia sejak 1998; setelah Inggris dan Singapura. Cina adalah partner perdagangan Indonesia yang terbesar keempat, setelah Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Antara tahun 1999 dan 2003, total ekspor dari Indonesia ke Cina rata-rata tumbuh 16,8% per tahun. Di dalam sepuluh bulan pertama tahun 2003, total perdagangan antara dua negara ini mencapai US$ 5,49 miliar. Ekspor Indonesia sendiri mencapai US$ 3,04 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 2,45 miliar.

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian Terakhir)

Kesimpulan

Selain CSR perusahaan yang telah dibahas sebelumnya, masih banyak contoh yang lain. Misalnya saja, Bogasari yang menggandeng dan mendampingi pertumbuhan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis terigu sebagai bagian dari integrasi CSR mereka dengan supply chain management di tingkat kebijakan strategis. Kalau para pembeli utama mereka sukses karena bantuan mereka, maka akan tercipta relasi saling menguntungkan yang berkelanjutan.

Lalu selanjutnya ada Unilever yang juga mengusung strategi CSR yang nyaris sama dengan Bogasari, namun hanya alur rantainya saja yang terbalik. Mereka melakukan pendampingan terhadap para petani keledai yang menjadi supplier utama mereka. Sebagai pengelola merek terkenal, yaitu kecap bango, yang juga memiliki tingkat demand yang tinggi, kualitas produksi biji kacang yang dipanen serta kelancaran distribusi ke pabriknya menjadi syarat mutlak.

Selain SGC pun, juga ada beragam perusahaan yang mendasarkan pendidikan sebagai dasar kebijakan CSR nya. Program ini bisa memfokuskan diri pada edukasi bagi generasi mendatang, pengembangan kewirausahaan, pendidikan finansial, maupun pelatihan-pelatihan. Misalnya saja PT Astra Internasional yang kali ini telah membentuk Politeknik Manufaktur Astra yang menelan dana puluhan milyar dan juga Yayasan LP3I yang mendiversifikasi lini usahanya menjadi bentuk universitas, bimbel, maupun course center bersertifikasi profesional. Lalu ada HM Sampoerna dengan Sampoerna Foundation yang telah mengucurkan dana tak kurang dari 47 miliar serta PT. Djarum yang turut andil dalam berbagai beasiswa di banyak perguran tinggi serta beasiswa di cabang olahraga bulutangkis.

Isu CSR sepatutnya tidak hanya dilakukan atas dasar dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial, melainkan harus dinaikkan tingkatnya menjadi level kebijakan yang lebih makro dan riil.

Biarkan masyarakat yang menilai sendiri apakah suatu perusahaan layak untuk terus bertahan hidup atau tidak. Dengan perilaku CSR yang demikian baik pada masyarakat sekitarnya, meskipun ada yang namanya ketidakstabilan politik maupun kemerosotan moral dan sosial atau lain-lainnya di perusahaan pusatnya dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, yang akan membela perusahaan itu pastilah masyarakat sekitar mereka sendiri. Karena pada siapa lagi mereka menggantungkan nasib pendapatan tetapnya selain pada perusahaan yang sudah mempedulikan mereka sedemikian besarnya, jika itu dipandang dari sudut pandang karyawan?

Sangat mudah untuk melakukan CSR, sebenarnya. Asalkan perusahaan sadar bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat sendiri dan apa yang terjadi pada masyarakat adalah masalah mereka juga, maka tidak butuh waktu lama untuk melakukan brainstorming CSR macam apa yang akan dilakukan. Kontribusi perusahaan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial di negeri ini adalah yang paling penting dan berharga di mata masyarakat.

Memang tidak segampang membalikkan tangan, untuk memperbandingkan CSR yang dicontohkan oleh William Soerjadjaja dengan perusahaan-perusahaan pada zaman sekarang. Kasusnya berbeda tingkatan, struktur masyarakat yang terlibat sudah berbeda, dan paradigma yang dianut tiap pengusaha juga berbeda. Banyak perusahaan yang sudah melakukan CSR dengan usaha terbaik mereka, namun juga siapa tahu banyak juga perusahaan yang melakukannya untuk menutupi kesalahan mereka. Sekali lagi, di zaman informasi yang ditandai dengan kemudahan mengakses data dan fakta yang tersembunyi sekalipun, masyarakat kita juga sudah bisa menilai apakah perusahaan-perusahaan yang ada sudah menjalankan CSR mereka dengan baik atau tidak.
Sudah jelas bahwa CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan, maka sudah seharusnya dunia usaha Indonesia masa kini tidak memandang CSR sebagai tuntutan represif yang memberatkan mereka, melainkan sebagai sebagai kebutuhan dunia usaha agar tetap bisa melaksanakan sustainability development program usahanya dan sustainability social responsibility sebagai penyempurnanya.

Senin, 20 Desember 2010

CSR : Siapa Penerus William Soerjadjaja? (Bagian 3)

CSR Perusahaan Pada Masa Kini

Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan secara singkat semua hal yang berhubungan dengan pribadi William Soerjadjaja sebagai Bapak CSR Indonesia yang legendaris. Kali ini, dengan menggunakan legenda tersebut sebagai titik acuan, kita akan mengamati perilaku dan kiprah beberapa perusahaan yang terkenal pada saat ini berkaitan dengan CSR yang mereka lakukan. Untuk itu saya mengambil dua contoh perusahaan yaitu Aqua Golden Mississipi dan Sugar Group Company, yang merepresentasikan dua karakter CSR yang saling bertolak belakang. Bagaimana mereka berjanji melaksanakan dan apa saja fakta yang terjadi terkait di dalam prosesnya?

I.Aqua Golden Mississipi (AGM)

Siapa sih yang tidak kenal nama AQUA? Mungkin tanpa kita sadari, hidup kita telah menjadi tidak lengkap jika kita belum mengkonsumsi produk dari merek mendunia ini. Aqua merupakan pelopor bisnis air minum dalam kemasan (AMDK), dan saat ini menjadi produsen terbesar di Indonesia. Pangsa pasarnya di luar negeri juga meliputi Singapura, Malaysia, Fiji, Australia, Timur Tengah, dan Afrika. Untuk bentuk galon, mereka menguasai 80% pangsa pasar Indonesia. Untuk keseluruhan bisnisnya, Aqua memiliki 50% marketshare. (Batubara, 2010)

Produsen AMDK merek Aqua, yang dulu hanya bernama PT. Golden Mississipi, dulunya didirikan oleh Tirto Utomo pada 23 Februari 1974, dan bernaung di bawah PT. Tirta Investama. Pabrik pertamanya didirikan di Bekasi. Awalnya, banyak yang meragukan bahkan menganggap aksi Tirto Utomo sebagai langkah ‘guyonan’. Zaman dulu sudah menjadi kebiasaan di Jawa, kalau mau minum air tinggal ambil saja di sumur atau dari kendi-kendi air yang sering diletakkan di depan rumah masyarakat. Namun beberapa tahun setelahnya, orang Indonesia justru mulai mengkonsumsi air minum dengan membeli merek Aqua. Sampai saat ini, bahkan segala jenis merek AMDK justru sering dipukul sama rata dengan nama Aqua.

Kemudian sebuah perusahaan multinasional dari Prancis bernama Danone, tertarik untuk membeli saham PT. Aqua Goldem Mississipi. Alasannya untuk merealisasikan kampanye ‘penaklukan dunia’ nya lewat tiga bisnisnya: daily product, AMDK, dan biskuit. Akhirnya Danone berhasil membeli saham Aqua pada tanggal 4 September 1998 dan muncullah produk penyatuan berlabel Aqua-Danone dua tahun kemudian. Tahun 2001, Danone menaikkan porsi kepemilikannya dari 40% menjadi 74%. Maka resmilah Danone menjadi pemilik dominan dari PT. Aqua Golden Mississipi.

CSR yang digadangkan oleh perusahaan ini sejak dipegang oleh Danone juga tidak sedikit. Salah satunya yang sering diiklankan di beberapa stasiun televisi beberapa waktu belakangan ini, adalah Program Satu untuk Semua (SuS). Program ini maksudnya adalah inisiatif sosial Aqua-Danone yang ditujukan terutama untuk membantu kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup sehat. Untuk setiap 1 liter botol Aqua ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga September 2007, Aqua akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai tahap awal. Semua media promosi, baik elektronik maupun cetak digunakan. Kemasan pun dirubah gambar dan isi labelnya. Untuk lebih meyakinkan, mereka juga menggandeng PWC Indonesia untuk mengaudit jumlah kemasan khusus yang terjual.

Namun ada yang ganjil dari program yang diiklankan berulang kali di stasiun-stasiun televisi tersebut. Mengapa sampai sekarang program SuS itu yang hanya dipublikasikan cuma di daerah NTT, yang notabene rendah tingkat jangkauan komunikasinya? Bagaimana dengan daerah lain seperti Papua atau tak usah jauh-jauh, daerah pelosok-pelosok di pulau jawa yang juga belum mendapat fasilitas air bersih yang layak?

Secara nalar yang sedikit negatif, mungkin saja mereka hanya berjanji-janji saja. Mereka hanya menunjukkan bukti bahwa memang benar disana telah dibangun fasilitas itu dan mampu menyejahterakan penduduk disana. Selebihnya, mereka ‘lupa’ untuk membangun CSR mereka secara berkelanjutan. Kalau diumpamakan, sama seperti sebuah perusahaan besar yang mengumumkan pemberian bantuan dana kepada banyak yayasan di wilayah-wilayah yang membutuhkan, tanpa menyebutkan jumlahnya yang siapa tahu jumlahnya cuma 10 juta rupiah per kecamatan. Apa itu cukup?

Dalam praktik bisnisnya, AGM juga banyak melanggar etika bisnis, bahkan cenderung mendeskritkan signifikansi dari semua program CSR yang mereka gembar-gemborkan. Salah satu contoh adalah eksploitasi air di daerah Kubang jaya, Babakan Pari, Kabupaten Sukabumi sejak tahun 1992. Pada awalnya, eksploitasi hanya pada air di permukaan saja. Namun, perlahan-lahan mereka mulai memilih pengeboran untuk menyedot saluran air di bawah tanah juga. Akibatnya, kualitas dan kuantitas sumber air di sana menurun drastis. Tinggi sumur-sumur rumah menjadi hanya sejengkal kaki (kira-kira 15 cm), bahkan kering kerontang.

Selain keterpaksaan warga untuk menggali sumur lebih dalam lagi atau menggunakan pompa untuk mendapatkan air, irigasi pertanian juga kena getahnya. Beberapa kasus telah terjadi dan biasanya seputar perebutan air untuk kepentingan pengairan ladang mereka. Banyak sawah kekeringan dan daya ekonomi petani semakin menurun. Sedangkan AGM? Semakin makmur di bawah penderitaan orang lain yang tidak tahu menahu tentang hal ini.

Sesudah dimiliki oleh Danone pun, rezim AMDK oleh AGM malah semakin menjadi-jadi dan makin merambah ranah politik. Kasus eksploitasi besar-besaran tahun 2002 di Klaten, Jawa Tengah justru dilakukan dengan terang-terangan. Sama juga dengan penduduk sekitar yang mayoritas juga bergantung pada pertanian, debit air terus menurun dan mereka juga terpaksa menyewa pompa untuk irigasi. Untuk kebutuhan harian pun warga harus membeli dengan harga yang mahal. Hal ini karena pihak PDAM daerah sendiri juga harus membeli air dari AGM sendiri, karena tidak adanya lagi sumber mata air yang tersedia untuk diolah negara. Padahal Kabupaten Klaten memiliki 150 lebih sumber mata air. Pemda Klaten sempat mengancam akan mencabut izin usaha AGM jika terus melakukannya, tapi sampai saat ini tidak ada kelanjutan berita tentang hal itu lagi.
Sudah begitu pun eksploitasi yang dilakukan ditindak lanjuti dengan proses produksi yang tidak efisien dan boros. Hampir 30% air yang menjadi bahan baku AMDK menyusut atau hilang karena proses produksi. Misalnya saja volume air yang dipakai produksi adalah 14 miliar liter, maka yang terbuang kurang lebih 7 miliar liter, itu sudah masuk juga tahapan proses pencucian dan pemurnian air. (Ipung, 2005)

Bayangkan betapa bermanfaatnya air yang terbuang percuma itu jika digunakan untuk kepentingan irigasi. Mengapa AGM tidak memikirkan hal itu? Padahal air untuk irigasi standarnya tak setinggi AMDK, dan itu bisa jadi CSR yang sepadan untuk menghapus semua dosanya. Tapi bahkan sampai sekarang mengapa mereka bungkam dan membutakan diri atas solusi yang sudah jelas bisa dilakukan ini?

Dan seperti biasa, yang selalu diungkap dan dijawab oleh para pejabat perusahaan AGM adalah pernyataan ala politikus yang tidak mendetail dan over-promising but under-delivered. Mungkin inilah yang disebut sebagai politik greenwashing ala Aqua. Kondisi tersebut menjadi semakin memburuk, dan entah kenapa hanya sebagian lapisan masyarakat saja yang mengetahui beberapa kasus buruk yang melibatkan AGM. Bahkan sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang merasa dirugikan yang mengkampanyekan gerakan anti-Aqua.

II. Sugar Group Company (SGC)

Sugar… Oh, sugar, sugar…

Apakah kata-kata di atas terdengar familiar? Yap, itulah sepenggal lirik dari jingle iklan produk Gulaku yang mulai menyeruak dunia bisnis sejak beberapa tahun yang lalu itu. Yang menarik perhatian di iklan tersebut adalah butiran-butiran gula yang berjatuhan seperti kristal, bahkan masih tumpah ruah dari kemasannya yang berkesan mewah. Apalagi kalau kita ingat iklan yang lebih baru lagi, bahwa seolah-olah hidup kita tak lengkap tanpa membubuhkan gula di setiap makanan maupun minuman kita.
Sama halnya dengan AGM, Sugar Group juga telah sukses mengangkat harkat dan derajat barang komoditas yaitu gula dari bahan rakyat yang hanya boleh ada di pasar becek maupun toko kelontong pinggir jalan, menjadi komoditas yang keberadaannya dimewahkan oleh penempatannya di berbagai supermarket yang super bersih dan berpendingin mewah. Dengan tagline, promosi, kemasan yang praktis serta butiran gula yang begitu bersih, membuat produk Gulaku menjadi primadona di mata ibu-ibu rumah tangga dan para pengusaha kuliner yang mengandalkan rasa manis sebagai faktor penyedot pelanggannya.
Lalu kita pasti berpikir, dalam menyediakan kualitas gula yang begitu mewah seperti itu, juga dengan kemasan pouch yang menarik dan terkesan mewah tentunya butuh kerja keras dari para karyawan dan pekerja di pabrik utamanya. Lalu bagaimana perusahaan akan mengkompensasi kinerja para pekerjanya?

Dalam hal ini, SGC melakukan CSR internal dengan merekrut pekerja-pekerja lokal di area sekitar pabrik utama mereka di Lampung, agar penduduk sekitar juga dapat merasakan manfaat dari kehadiran mereka di daerah hunian mereka. Selain itu, perlakuan dan fasilitas yang diberikan benar-benar memanjakan mereka semua. Selain gaji yang cukup, masih diberi tunjangan yang memadai, serta tingkat keselamatan kerja di sana benar-benar diawasi ketat. Tidak hanya itu, bahkan dalam kesehariannya perusahaan menyediakan juga transportasi yang mengangkut para karyawannya pulang balik dari dan ke kantor serta rumahnya. Pokoknya apa yang dilakukan perusahaan semata-mata agar mereka semua bisa berkonsentrasi dengan tenang pada pekerjaan mereka saja.

Selain itu, ada juga pendirian Sekolah Menengah Atas Sugar Group Companies (SMA SGC) yang merupakan program balas jasa bagi para pekerja yang telah berjuang keras memajukan perusahaan sejak puluhan tahun yang lalu. Berarti bisa dijelaskan pula mengapa anak-anak didik di sana merupakan anak kandung dari keluarga para pekerja mereka. Hingga tahun 2009 lalu, SMA SGC telah dua kali meluluskan siswanya dan hampir semuanya diterima di perguruan tinggi negeri yang berkualitas, misalnya: ITB, Unpad, UI, dan IPB. (Radar Lampung, 2009)
Para siswa yang bersekolah di sana bukan hanya dari karyawan yang punya jabatan, tapi juga pekerja kasar seperti sopir, tukang las atau bahkan mekanik biasa, serta tukang bersih-bersih yang biasanya kita anggap lalu begitu saja dimanapun kita berada.

Tujuan dari pembangunan SMA tersebut ada dua: membalas jasa para orang tua siswa dan langkah SGC sendiri untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan tetap sustain. Kalau kita pikir, perusahaan bisa saja ambil tenaga kerja yang lebih andal dari luar lingkungannya. Bisa lulusan dari dalam negeri maupun luar negeri, toh SGC sendiri adalah perusahaan yang terkenal bonafitnya. Tapi kalau melakukan hal tersebut, para pekerja yang setia itu dapat value tambahan apa? Inilah hasil dari proses pemikiran niat CSR yang mulai SGC kepada lingkungan internalnya, terfokus pada karyawan-karyawannya.

Jika mengandalkan gaji seorang pekerja kasar dengan kebutuhan keluarga yang banyak, hampir tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga perusahaan berpikir bagaimana caranya membalas jasa para karyawan mereka agar mereka dapat hidup layak meski sesudah pensiun. Maka perusahaan melakukan investasi dengan cara mendirikan sekolah sebagai tempat anak-anak karyawan menggayung ilmu. Bebagai kebutuhan, termasuk juga biaya makan tiap siswa, ditanggung perusahaan hingga lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kemudian dari pihak si anak sendiri, agar tidak lupa atas jasa orang tuanya alias kualat, para calon mahasiswa terlebih dahulu menandatangani kontrak bahwa sepertiga gaji dari mereka kelak akan dimasukkan ke rekening orang tuanya. Ini wajib dilakukan berdasarkan pertimbangan, tanpa ada orang tuanya maka para siswa itu juga tidak akan ada dan kelak akan menjalani hidup yang lebih baik.

Yang mereka lakukan, memang sudah jelas juga untuk investasi masa depan perusahaan dan karyawan. Perusahaan berharap agar para anak-anak karyawan yang telah dididik sedemikian rupa dapa menggantikan orang tuanya dalam beberapa tahun mendatang.