Tampilkan postingan dengan label finansial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label finansial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

Situ Jomblo?? Pilih asuransi yang tepat!

Berstatus lajang atau belum menikah alias JOMBLO dan memiliki penghasilan adalah kondisi umum pada rentang usia 20–35 tahun. Pada rentang usia tersebut, setelah selesai sekolah atau kuliah biasanya mulai bekerja, mendapatkan penghasilan dan lama-kelamaan mengumpulkan kekayaan. Risiko yang paling sering dihadapi pada fase tersebut biasanya kematian atau cacat sehingga tidak dapat bekerja mendapatkan penghasilan.

Ada juga risiko lain seperti kebakaran aset tidak lancar misalnya rumah, kehilangan aset karena pencurian, kerusakan kendaraan akibat kecelakaan atau bencana alam, dan lain sebagainya. Maka seseorang yang status lajang pun mau tidak mau diharapkan bijak mengelola risiko tersebut dengan cara memiliki berbagai proteksi sesuai kebutuhannya.
Ada berbagai macam asuransi, diantaranya asuransi jiwa, kesehatan, penyakit kritis, dan kecelakaan. Selain itu, terdapat pula proteksi atas properti apabila telah memilikinya.

Sebagai seseorang yang masih lajang, inilah proteksi dalam bentuk asuransi yang Anda butuhkan, sesuai urutan.

1. Asuransi Jiwa

Seseorang membutuhkan asuransi jiwa apabila ia memiliki penghasilan dan juga tanggungan. Hal ini dikarenakan konsep dari asuransi jiwa adalah menggantikan penghasilan yang hilang akibat kematian orang tersebut. Dengan kata lain, asuransi jiwa bermanfaat bagi mereka yang selama ini hidup dari penghasilan kita sehingga masih bisa melanjutkan hidup saat kita telah tiada. Jika masih single dan tidak memiliki tanggungan, asuransi jiwa tidak menjadi prioritas.

2. Asuransi Kesehatan

Proteksi ini dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biaya rumah sakit atau biaya ke dokter. Minimal proteksi kesehatan yang perlu dimiliki adalah untuk menanggung biaya rawat inap rumah sakit. Untuk seseorang yang bekerja di perusahaan, biasanya proteksi kesehatan ini didapatkan dari fasilitas kantor sehingga tidak diperlukan asuransi kesehatan tambahan. Akan tetapi, jika tidak di-cover oleh kantor atau manfaatnya belum memadai, kebutuhan akan asuransi kesehatan menjadi prioritas.

3. Asuransi Penyakit Kritis

Proteksi ini berfungsi untuk memberikan manfaat berupa uang pertanggungan yang dapat digunakan sebagai pengganti sumber pendapatan keluarga apabila tertanggung tidak dapat bekerja akibat terdiagnosa salah satu penyakit kritis. Penyakit kritis adalah penyakit dengan kondisi yang tak dapat disembuhkan, dan kritis. Contohnya: stroke, jantung, gagal ginjal, dan kanker stadium 4. Selain faktor keturunan (genetik), risiko penyakit kritis meningkat akibat gaya hidup tidak sehat. Untuk single, segera cek riwayat kesehatan keluarga dan evaluasi gaya hidup sehingga dapat menentukan apakah memerlukan asuransi penyakit kritis atau tidak.

4. Asuransi Kecelakaan

Proteksi ini memberikan manfaat uang pertanggungan jika terjadi kondisi cacat akibat kecelakaan sehingga tidak lagi bisa bekerja. Asuransi kecelakaan sangat dianjurkan bagi para single yang memiliki risiko pekerjaan yang rentan terhadap terjadinya kecelakaan sampai mengakibatkan kondisi cacat. Selain risiko pekerjaan tersebut, kegiatan rutin yang memiliki risiko kecelakaan misalnya sering berkendara dan traveling juga menjadi pertimbangan dalam mengambil asuransi kecelakaan.

5. Asuransi Properti

Proteksi ini dibutuhkan oleh para lajang yang telah memiliki aset berupa properti untuk melindungi properti beserta isinya dari risiko kebakaran, petir, ledakan, kejatuhan pesawat, dan lainnya. Sangat disarankan untuk mengambil asuransi ini atas nilai fisik dari seluruh aset properti yang dimiliki.

Satu hal yang perlu diingat, pilihlah dalam bentuk asuransi murni TANPA embel-embel investasi karena akan lebih efektif dan preminya menjadi lebih murah.

So, JOMBLO, selamat memilih proteksi sesuai kebutuhan ya! ^A^/
_____________________________________________________________
sumber asli: http://id.she.yahoo.com/lajang-perlu-asuransi-apa-saja.html

Kamis, 09 Februari 2012

Straight Kanan Mahathir Mohamed untuk Negara-Negara Eropa

Siapa yang tidak kenal Mahathir Muhamed? Dialah mantan perdana menteri negara tetangga kita, Malaysia. Biar gak penasaran terus sama orangnya, ini gambarnya dia sekarang, gan! Udah uzur yak?



Dan kali ini saya akan berbagi artikel tentang komentarnya yang menohok tulang rusuk, sampai sudu'en (orang jawa pasti tahu istilah ini), keras, dan tepat di ulu-ulu hati negara-negara di kawasan eropa. Intinya simpel aja sih: "Hei lu eropa pada! Udah deh, nggak usah kebanyakan gaya, sok pamer kuat atau tajir. Saatnya hadapi kenyataan kalo lu miskin pada!"

Ngakak bener gan, ketika membaca artikel ini. Nggak usah tunggu lama, artikelnya bisa dilihat di sini



And now, please say goodbye to the strong European Countries we all knew~~

Hidup Asia! Hidup Indonesia juga!

Jumat, 03 Desember 2010

Prediksi BI Rate Akhir Tahun 2010

Terkait suku bunga Bank Indonesia, Pengamat Ekonomi David Sumual memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan BI rate pada angka 6,5 % hingga akhir tahun ini. Hal ini dilihatnya sebagai pengaruh dari angka inflasi yang sampai saat ini masih tergolong kecil yaitu 0,6%.

David menambahkan pemerintah harus mewaspadai second around yang datang dari kenaikan harga pasar, seperti beras, dan kebutuhan lainnya. Hal ini dinilainya mempengaruhi BI rate kedepannya. Untuk itu, pemerintah harus sering melakukan operasi pasar.

Sumber: kontan.co.id

Daftar Orang Terkaya Indonesia versi Majalah Forbes 2010

Duo bersaudara, R Budi Hartono dan Michael Hartono, kembali menempati posisi pertama dalam daftar orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes untuk tahun 2010.

Dua bersaudara itu berhasil memiliki kekayaan US$ 11 milar atau sekitar Rp 99 triliun berkat suksesnya usaha rokok Djarum dan juga BCA. Dua bersaudara itu berada di posisi puncak daftar orang terkaya Indonesia selama 2 tahun berturut-turut.

"Mereka mewarisi perusahaan rokok Djarum dari ayahnya, namun sekarang ini mereka meraup kekayaannya dari BCA, yang merupakan bank terbesar dan masuk dalam Forbes Fab 50 tahun ini," demikian ditulis Forbes seperti dikutip detikFinance, Jumat (3/12/2010).

Djarum kini tercatat sebagai produsen rokok kretek terbesar ketiga di Indonesia, setelah Gudang Garam dan HM Sampoerna. Pada tahun 2002, Djarum menjadi pemegang saham mayoritas (51%) di BCA lewat Faralon Capital Management. BCA tumbuh pesat dan menjadi bank terbesar dari sisi jumlah nasabah. Kinerjanya pun cukup gemilang. Hingga 30 September 2010, BCA berhasil meraup laba hingga Rp 6,1 triliun, meningkat 20,0% dibandingkan Rp 5,1 triliun yang dicetak pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Para pengusaha rokok Indonesia tampaknya masih menjadi muka-muka lama dalam daftar terkaya Forbes itu. Setelah Duo Hartono, pemilik Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo berada di peringkat kedua dengan kekayaan US$ 8 miliar atau setara dengan Rp 64 triliun, naik US$ 2,6 miliar dibandingkan tahun lalu.

Berbeda dengan duo Hartono, Susilo Wonowidjojo masih menggantungkan kekayaannya dari Gudang Garam, yang merupakan produsen rokok kretek terbesar.

Dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2010 itu, selain didominasi oleh pengusaha rokok, juga pengusaha CPO dan batubara. Salah satu pengusaha Indonesia yang berhasil membuat loncatan tajam kekayaannya berkat kenaikan harga komoditas adalah Kiki Barki.

Pemilik perusahaan batubara, Harum Energy ini untuk pertama kalinya masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia dengan harta mencapai US$ 1,7 miliar. Kiki Barki berhasil meraup dana hingga Rp 2,6 triliun saat melepaskan saham Harum Energy ke lantai bursa pada 6 Oktober lalu.

Nama lain yang masuk kategori pendatang baru adalah seorang warga India yang sudah menjadi WNI, Sri Prakash Lohia. Pemilik Indorama Sythetics itu berada di posisi ke-6 dengan harta sebesar US$ 2,65 miliar. Keluarga besar Lohia memang termasuk konglomerat kaya. Kakak Lohia, Ashoke yang tinggal di Thailand juga merupakan miliuner karena kakak iparnya, Lakshmi Mittal juga merupakan orang terkaya kedua di Asia. Baik Mittal maupun Lohia sama-sama memiliki rumah di London.

Para orang-orang terkaya di Indonesia itu juga membuat gebrakan yang cukup besar sepanjang tahun ini, seperti Chairul Tanjung yang membeli 40% saham Carrefour Indonesia, Peter Sondakh yang menjual saham di Semen Gresik serta kelompok usaha milik Aburizal Bakrie yang menjalin kerjasama dengan keluarga Rothschild.

Untuk masuk dalam daftar ini, seorang pengusaha harus memiliki kekaywaan US$ 455 juta, naik dari tahun lalu yang hanya US$ 240 juta. Sebanyak 8 orang terdepak dari daftar tahun sebelumnya, diantaranya adalah pemilik AKR Soegiarto Adikoesoemo dan pemilik Rayamana Grup, Paulus Tumewu. Kekayaan keduanya memang naik, tapi tak cukup untuk bisa masuk dalam daftar ini.

Secara keseluruhan, total kekayaan 40 orang terkaya Indonesia di 2010 ini meningkat tajam dari US$ 42 miliar pada tahun 2009 menjadi US$ 71 miliar di tahun 2010. Total kekayaan para taipan tanah air yang mencapai US$ 71 miliar itu, hampir mendekati total cadangan devisa Indonesia yang pada pertengahan November mencapai US$ 93 miliar.

Berikut daftar 40 orang terkaya versi Forbes yang dirilis, Kamis (2/12/2010).

1. R. Budi & Michael Hartono US$ 11 miliar
2. Susilo Wonowidjojo US$ 8 miliar
3. Eka Tjipta Widjaja US$ 6 miliar
4. Martua Sitorus US$ 3,2 miliar
5. Anthoni Salim U$S 3 miliar
6. Sri Prakash Lohia US$ 2,65 miliar
7. Low Tuck Kwong US$ 2,6 miliar
8. Peter Sondakh US$ 2,3 miliar
9. Putra Sampoerna US$ 2,3 miliar
10. Aburizal Bakrie US$ 2,1 miliar
11. Kiki Barki US$ 1,7 miliar
12. Eddy William Katuari US$ 1,65 miliar
13. Edwin Soeryadjaya US$ 1,6 miliar
14. Boenjamin Setiawan US$ 1,5 miliar
15. Garibaldi Thohir US$ 1,45 miliar
16. Sukanto Tanoto US$ 1,4 miliar
17. Theodore Rachmat US$ 1,35 miliar
18. Chairul Tanjung US$ 1,25 miliar
19. Murdaya Poo US$ 1,15 miliar
20. Ciliandra Fangiono US$ 1,1 miliar
21. Benny Subianto US$ 1,05 miliar
22. Arifin dan Hilmi Panigoro US$ 985 juta
23. Sjamsul Nursalim US$ 850 juta
24. Agus Lasmono Suwikatmono US$ 845 juta
25. Kartini Muljadi US$ 840 juta
26. Tahir US$ 805 juta
27. Sandiaga Uno US$ 795 juta
28. Mochtar Riady US$ 730 juta
29. Ciputra US$ 725 juta
30. Hashim Djojohadikusumo US$ 680 juta
31. Harjo Sutanto US$ 350 juta
32. Trihatma Haliman US$ 600 juta
33. Hary Tanoesudibjo US$ 595 juta
34. Kusnan dan Rusdi Kirana US$ 580 juta
35. Wiwoho Baduki Tokronegoro US$ 575 juta
36. Engki Wibowo dan Jenny Quantero US$ 560 juta
37. Husain Djojonegoro US$ 545 juta
38. Eka Tjandranegara US$ 525 juta.
39. Sutanto Djuhar US$ 490 juta.
40. Prajogo Pangestu US$ 455 juta.

*) dilansir dari detik.com

Rabu, 23 Juni 2010

Menghargai Uang Sejak Dini

Salah satu hal yang paling membuat saya terheran-heran pada diri saya sendiri adalah ketika bapak saya selalu mengeluh demikian, “Nak, kamu kok susah sih dibeliin apa-apa? Mau ditawari ini ga mau, mau ditawari itu juga ga mau”. Saya hanya menjawab, “Mendingan beli yang perlu-perlu aja, ntar boros”. Ayah saya berkomentar lagi, “Lha uang kita masih banyak. Sekali-kali menikmati hidup lah.” Saya menjawab lagi, “Ya bapak aja yang beli untuk diri sendiri. Buat saya kan cari uang itu susah, pak”.

Semakin sering saya mengingat salah satu dialog di salah satu mall besar di Semarang tersebut, saya semakin bersyukur akan apa yang telah saya jalani selama 19 tahun saya hidup di dunia ini. Terutama ada tiga hal yang benar-benar saya syukuri. Pertama, masuknya saya ke SMA Kolese Loyola Semarang yang selalu mengajarkan untuk mempunyai kepedulian, cinta kasih, dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingan ‘wong cilik’. Kedua, bergabungnya saya di salah satu perusahaan Network Marketing yang masih saya yakini sebagai salah satu MLM yang “asli dan benar”, meskipun saya sudah tidak aktif lagi. Mereka selalu menginspirasi, memotivasi dan, menguatkan saya untuk mengubah nasib di hidup ini. Ketiga, pertemuan dengan seseorang yang sangat saya sayangi, yang menjadikan saya mampu untuk menahan segala kepahitan dan kesulitan hidup dalam mencari uang, hanya demi bisa bersamanya (maaf tidak bisa saya sebutkan, rahasia negara! Hehehe...).

Intinya, saya menjadi seseorang yang sangat menghargai keberadaan uang, betapapun kecil jumlahnya. Mungkin anda melihat bahwa saya memang hanya kebetulan memiliki peristiwa yang tidak semua orang mengalami, sehingga saya bisa menghargai uang. Namun, saya mencoba menguraikan beberapa tips yang bisa membantu anda, khususnya untuk yang sudah berkeluarga, baik itu sudah mempunyai anak maupun yang belum. Tentu saja, kaum muda yang merupakan “calon bapak/ibu” harus menyimaknya dengan baik, siapa tahu malah lebih berguna banyak bagi hidup anda setelah ini. Berikut adalah tips-tips yang berguna:

1. Buatlah rekening tabungan bagi anak-anak, misalnya saat masuk SD. Diharapkan anak-anak akan terbiasa menabung sejak kecil. Sumber dana bisa dari uang saku yang diberikan sebaiknya jangan harian, dikhawatirkan si anak akan menganggap uang itu gampang didapat, melainkan secara berkala (sebaiknya seminggu sekali). Ajarkan untuk menyisakannya agar bisa menabung secara rutin. Uang dari kerabat lain juga diajarkan untuk ditabung saja. Kalau perlu, bisa juga diberi hadiah khusus jika tabungannya melampaui target yang ditentukan.
2. Berilah uang jajan secukupnya, jangan berlebihan. Maksudnya, jika mereka harus membeli sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang mereka, mereka “terpaksa” minta bantuan dari orang tuanya. Jadi mereka akan mengerti kalau uang itu susah didapat. Kalau memang hal tersebut terjadi, anda bisa memberikan uang tambahan untuk membeli kebutuhan tersebut, dengan syarat uang saku minggu depan akan dikurangi, entah itu secara langsung atau bertahap.
3. Beri penghargaan atas prestasi mereka di sekolah. Bentuknya tidak mesti harus uang, yang terpenting mereka akan mempunyai motivasi merit system – imbalan yang diperoleh sesuai dengan hasil perjuangan yang mereka lakukan.
4. Bantu anak-anak untuk membuat pembukuan pribadi, terutama arus kas keluar masuk. Biasakan untuk menetapkan jangka tutup buku setiap bulan agar mereka terbiasa berpikir jangka panjang juga. Dengan demikian, mereka akan sadar atas pola belanja mereka, dan berusaha untuk menekan pengeluaran agar bisa menabung lebih banyak.
5. Gunakan contoh nyata dengan cerita atau perumpamaan. Misalnya gaji seorang manajer restoran atau gaji teller, manajer, dan direktur sebuah bank. Dimaksudkan agar mereka bisa membandingkan dengan harga mainan, uang jajan, biaya sekolah atau keperluan lain yang harus dipenuhi orang tua. Maka, pemikiran kalau uang itu susah didapat akan semakin tertanam.
6. Ajaklah mereka bermain semacam financial games seperti monopoli atau sejenisnya, dimana paling tidak ada pelajaran bahwa pemenangnya adalah yang memiliki banyak aset di permainan tersebut.
7. Jangan meletakkan uang sembarangan, sebab akan menimbulkan kesan bahwa anda tidak menghargai uang dimata anak anda. Mereka harus diberi pengertian bahwa uang tidak sendirinya ada di dompet kita, sebagai orang tuanya.

Dari pengalaman dan pendapat pribadi saya, ada beberapa tips diatas yang tidak cukup hanya dijalankan saja. Dibutuhkan sebuah kemampuan dari orang tua untuk mempu membangun pengertian keseluruhan mengenai uang, baik fungsinya maupun gunanya. Segala kebutuhan memang butuh uang, tapi tidak semua kebutuhan bisa dibeli dengan uang. Apalagi kalau sampai salah menggunakan uang tersebut, yang mengakibatkan penderitaan orang lain.

Semoga bermanfaat, Salam Sejahtera!

==================================================================
After read this article, please comment to show that you participated in this blog's growth and development.

Rabu, 01 Juli 2009

Simpan, Tabung, atau Investasi?

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi dimana masih banyak orang yang punya persepsi salah mengenai keberbedaan tiga ‘mahluk’ di atas. “Saya sudah berinvestasi untuk masa depan anak dengan menabung di Bank A”, adalah pernyataan yang masih saya jumpai di kampung saya. Untuk itu saya mencoba menguraikan dengan sederhana, perbedaan paling pokok dari ketiga jenis strategi perencanaan keuangan tersebut.

Menyimpan, adalah kegiatan kita menimbun dana dengan suatu medium tertentu. Dari kegiatan ini kita tidak mendapati adanya perubahan kuantitas dana, namun justru perubahan nilai uang yang kita dapat. Contoh gampangnya: kita memindahkan dana kita sejumlah Rp 10 juta. Dana ini akan tetap ‘membeku’ sampai jangka waktu tertentu, tapi nilainya bisa berubah bahkan cenderung turun (tingkat inflasi dunia saat ini memungkinkan hal itu terjadi). Medium yang dipakai semacam celengan ayam, arisan, atau yang sedang marak adalah asuransi yang memberikan pengembalian pembayaran premi. Di sini uang premi dikembalikan sesuai jumlahnya namun nilainya sudah turun.

Menabung, adalah kegiatan mengembangkan dana dengan jumlah yang meningkat. Yang menjadi indikator pembanding adalah inflasi. Kalau hasil pengembangan dana masih dibawah inflasi, kegiatan ini sekedar menabung bukanlah investasi. Sebagai contoh adalah tabungan dan deposito bank. Perhatikan tingkat bunga yang diberikan dan bandingkanlah dengan tingkat inflasi yang ada. Kebanyakan dari contoh-contoh pasti memberikan hasil lebih kecil dari inflasi.

Investasi, terjadi bila kegiatan mengembangkan dana mampu memberikan hasil lebih tinggi dari nilai inflasi. Contohnya, kita beli semacam ruko sebesar Rp 600.000,00 per meter persegi pada tahun 2004. Tahun ini, harganya 1,2 juta rupiah per meter persegi. Selama lima tahun telah naik 100 % atau 20 % per tahun. Dengan inflasi sekitar 8% - 10% per tahun, investasi di properti seperti tanah meningkat lebih tinggi dari inflasi. Bisa dibilang investasi merupakan pilihan ‘cerdas’ dari semua opsi keuangan yang ada.

Lalu apakah menabung dan menyimpan itu salah? Tidak, saya katakan. Satu hal pokok yang menjadi titik ukur keputusan kita adalah Tujuan Keuangan kita. Misalnya untuk opsi menyimpan, dengan salah satu poinnya adalah asuransi yang sudah disebutkan diatas, kita memperoleh manfaat berupa jaminan asuransi itu sendiri, plus mendapat dana meski nilainya tak seberapa. Tabungan akan sangat berguna untuk jangka pendek dan dana darurat. Kedua tujuan ini membutuhkan likuiditas dana yang tinggi, sehingga imbal hasil bukan menjadi fokus utama menabung.

Jadi, siasati rencana keuangan anda dengan terlebih dulu menetapkan tujuan keuangan anda.